The Lover’s Dictionary

IMG_1770

Jauh sebelum bertebaran meme definisi kata-kata ala Path,

KamusSlebor_2

David Levithan sudah mendefinisikan kata demi kata dengan definisi versinya. Definisi secara romantis tentunya, yang membuat hati meleleh dibandingkan terpingkal-pingkal atau terlintas kata ‘sial!’ seperti yang dilakukan meme yang hits belakangan ini.

Permainan kata yang apik dari Mr. Levithan ini yang membuatnya menjadi salah satu account favorit saya di lini masa twitter. Sehingga ketika saya tahu bahwa ternyata ada novel ‘The Lover’s Dictionary’ (saya gak tahu sih twitternya atau novelnya yang duluan muncul), tentu saya sangat tertarik untuk membacanya.

Menyesapi novel unik milik bapak yang satu ini sama saja membuka lembar demi lembar kisah cinta kita sendiri. Membacanya, mau tidak mau, akan memaksa kita mengingat seseorang. Entah seseorang di masa kini, atau masa lalu kita. Dan persepsi akan buku ini, bergantung pada bagaimana pengalaman dirimu sendiri. Sungguh ajaib kekuatan novel ini, sekaligus manis.

Lewat buku ini, saya belajar bahwa cinta dapat menjadi rumit dan tidak rumit, tergantung permainan pikiran kita. Cinta bisa berdebat, berkompromi, bernegosiasi, atau hitam putih (tinggal atau pergi), lagi-lagi bergantung pada pemikiran kita. Mungkin, jika kamu membaca buku ini, akan terlintas pemikiran-pemikiran lain, yang jauh berbeda dengan refleksi yang saya dapat. Seperti yang saya katakan, buku ini seperti alat untuk memaksa kita merefleksikan perjalanan kita sendiri. Mungkin membuat kita menjadi pencinta yang lebih baik. Atau mungkin juga tidak?

Ya, mungkin novel ini membuat kamu belajar untuk pencinta yang lebih baik. Dan novel ini merupakan salah satu novel yang saya habiskan hanya dalam waktu beberapa jam saja di awal tahun 2015 ini. Pertanda apa?

image1 image2 image3 image4 image5 image6

Iklan

#TGIF – End

Saya sudah tidak menulis #TGIF lagi setiap minggu. Beralih menulis #365HariBersyukur di Instagram. Lebih menyenangkan dan nyaman menulis hari demi hari, dibandingkan minggu demi minggu, untuk saya saat ini. Dan bukankah latihan lebih baik dilakukan setiap hari? Sebentar namun konsisten?

Sampai berjumpa disana.

Nasi padang

Siang itu, saya dan sahabat saya sedang kebingungan memilih tempat makan siang. Jam makan siang sudah lewat, tapi macet Jakarta (seperti biasa) tidak bisa berkompromi. Kami mencari dan mencari tempat makan di jalan yang kami lewati. Namun hasilnya nihil. Sampai akhirnya ada plang ‘SEDERHANA’ besar-besar, dan kami pun langsung membelokkan kendaraan ke arahnya.

Kejadian sederhana tersebut membuat saya tersadar, bahwa sering kali (setiap kali sih sebenarnya), saat sedang memilih tempat makan, jarang sekali restoran Padang terlintas di kepala untuk menjadi salah satu opsi. Pun, restoran Indonesia atau makanan rumah lainnya. Tapi.. kalau sudah berada di dalamnya, makan bisa sangat lahap. Bahkan lebih lahap dan porsinya lebih banyak dibandingkan makan di restoran favorit (atau mungkin karena membuat kebanyakan makan, justru makanya alam bawah sadar ingin saya menghindari tempat itu hihi).

Terkadang, seperti nasi padang itu, ada orang -orang di sekitar kita, yang tidak pernah terlintas di pikiran untuk menjadi pilihan. Tidak masuk sama sekali dalam kriteria-kriteria yang sudah ditetapkan di dalam kepala. Namun saat ia masuk ke kehidupan kita, tetiba seperti nasi padang, kita dengan rakusnya ‘melahap’nya.

Ya begitulah, pasti kamu mengerti maksudku kan?