D FM, 16 Juni 2015

Diwawancara oleh radio D FM tentang manfaat bermain gadget :

Sejak kemunculan gadget, berbagai penelitian telah dilakukan untuk meneliti efeknya. Dan..banyak sekali hasil yang menemukan efek negatif dari bermain gadget ini.

Namun beberapa tahun belakangan, mulailah ada peneliti yang berpikir, masa sih hanya efek negatifnya saja yang ditimbulkan gadget. Dan..ternyata ditemukan ada kok manfaat positifnya.

Misalnya, permainan seperti The Sims yang dapat mengasah kemampuan sosial anak (misalnya anak menjalani simulasi kehidupan orang dewasa sehingga dapat membayangkan seperti apa hidup orang dewasa itu nantinya), dan kemampuan pengambilan keputusan (misalnya : menentukan ingin rumahnya seperti apa). Games seperti Angry Bird juga ternyata dapat mengasah kemampuan persepsi visual anak.

Dan ada banyak manfaat lainnya dari gadget.

Namun, tetap perlu diingat. Disamping sisi positif, ada sisi negatifnya juga yang perlu dilihat. Untuk meminimalisir sisi negatif ini, maka beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua :

1. Memberikan pembatasan jam bermain pada anak. Maksimal 2 jam per hari. Itu pun tidak terus-menerus, namun diselingi dengan berbagai aktivitas fisik atau bermain.

2. Orang tua mendampingi anak saat bermain.

3. Orang tua memberikan permainan yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Misalnya, untuk anak usia prasekolah yang masih sulit membedakan kenyataan dan khayalan, sebaiknya tidak diberikan games seperti GTA, yang memperbolehkan mencuri dari orang lain.

4. Orang tua memastikan anak dapat membedakan antara games dan realita. Jangan sampai anak mengaplikasikan hal-hal yang buruk di games ke dalam kehidupan nyata.

Di atas itu semua, walaupun memberikan beberapa dampak positif, saya masih menyarankan untuk mengutamakan bermain secara natural (bukan dengan gadget atau electronic games). Karena banyak keuntungan yang didapatkan dari gadget yang masih bisa didapatkan dari bermain secara natural kok 😊😊😊😊

Parenting Class : meningkatkan komunikasi orang tua – anak lewat bermain

11150161_482346581921169_3421343680612576173_n

Beberapa waktu yang lalu, diajak Mbak Uti untuk mengisi parenting class di butiknya Ria Miranda. Kebetulan aku suka dengan koleksi rancangan Ria Miranda yang warnanya pastel dan cantik, tempatnya dekat pula dengan rumah, dan.. topiknya aku boleh pilih sendiri. Jadi.. kenapa tidak?

Nah, parenting class tanggal 26 April ini diawali dengan pertanyaan : adakah yang tidak pernah marah dengan anak?

Hampir dipastikan tidak ya. Setiap kali berhubungan dengan orang lain, pasti ada naik turunnya. Ada senangnya, ada sebalnya. Begitu juga dengan anak.

Nah, marah dengan anak ini bisa dikelompokkan menjadi dua penyebab utama :

1. Anak tidak mengerti yang diucapkan orang tua.

2. Orang tua tidak mengerti yang diucapkan anak.

Ada berbagai faktor lain di baliknya. Misalnya saja anak belum mengerti karena perkembangan bahasa yang masih berkembang (serta faktor lain yang kami bahas bersama). Nah, tapi tetap perlu komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, bukan?

Mengapa? Salah satu contohnya terlihat dari penelitian longitudinal yang dilakukan psikolog bernama Jerome Kagan (seperti dikutip dari buku ‘The Process of Parenting’ oleh Jane Brooks). Terlihat bayi berusia 4 bulan yang aktif dan sering menangis, akan berkurang ketakutannya saat ia menjadi anak toddler (usia sekitar 1-3 tahun) ketika ibunya mengomunikasikan secara tegas aturan yang dibuat. Sedangkan bayi yang ibunya tidak memberikan batasan dan aturan, tetap menjadi bayi yang penuh ketakutan saat toddler.

Dari penelitian di atas, terlihat bahwa sejak bayi pun, seorang anak dapat diajak untuk berkomunikasi. Dan berkomunikasi secara efektif memiliki manfaat untuk anak.

Memang berkomunikasi dengan anak itu ibarat membangun rumah. Dalam membangun rumah, yang pertama kali dibangun adalah fondasinya, bukan? Nah saat seperti itu biasanya orang lain masih belum tahu apa yang akan kita buat. Belum lagi proses ini memakan waktu yang lebih lama dibandingkan nantinya saat membangun tembok, pintu, atau jendela. Namun jika kita membangun fondasinya dengan kuat dan matang, maka rumah pun akan menjadi bangunan yang kokoh berdiri dengan baik. Kembali lagi berkomunikasi dengan anak, saat awal mungkin tidak akan begitu terlihat manfaatnya. Ngapain ya berlelah-lelah bermain dengan anak setiap hari, membacakan buku untuknya, atau berkomunikasi dengan efektif? Namun nanti akan semakin terlihat manfaatnya saat anak memasuki masa sekolah atau saat remaja kelak, yaitu saat hubungan dengan orang tuanya terjalin dengan erat, perkembangan emosi, kognitif, dan sosial anak menjadi matang. Sehingga ia pun tidak mengalami kesuitan berarti saat memasuki masa sekolah.

Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anak?

Ada banyak sekali caranya. Namun kabar baiknya, hal ini dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Yaitu melalui bermain. Saat sedang bermain, maka dapat melakukan 5 hal agar komunikasi menjadi efektif dan menyenangkan (yaitu memuji, merefleksi mengimitasi, mendeskripsikan, dan bersenang-senang, lebih detailnya bisa dilihat disini). Saat di parenting class, juga dijelaskan lebih detail apa yang dimaksud dengan kelima kemampuan tersebut, bagaimana mengaplikasikannya saat bermain, dan apa manfaatnya untuk anak dan orang tua.

Terakhir, para peserta sama-sama mencoba mengaplikasikan kelima hal tersebut dalam bermain.

Seru-seru sekali.

11111781_485688371586990_9023756678920408454_n

Salah satu kejadian yang yang paling saya ingat adalah saat dua orang melakukan bermain peran. Satu orang menjadi anak, yang satu menjadi orang tua. Peserta yang menjadi orang tua akan diberikan amplop berisi satu kata dan harus melakukan kata yang ada di amplop itu. Peserta yang menjadi orang tua ini saat itu mendapatkan amplop yang berisi ‘kritik’. Jadi ia bermain Mr. Potato seperti yang ada di gambar ini.

CEtmNw4UgAAtEvy.jpg-large

Saat itu, peserta yang menjadi anak terlihat kebingungan, namun tetap memasang berbagai macam benda ke tubuh Mr. Potato. Peserta yang menjadi ibu mengikuti permainan anak dengan menyenangkan. Namun ada satu kali saat peserta yang menjadi ibu berkata ‘eh bukan gini pasangnya, mama pasangin ya‘. Peserta yang menjadi anak menurut, dan permainan kembali dilanjutkan kembali dengan menyenangkan dan tertawa-tawa setelahnya.

Setelah role play, peserta yang menjadi anak bercerita kejadian di atas, dan mengatakan bahwa walaupun terjadi dengan cepat dan dikatakan dengan nada yang lembut, namun terasa ada yang nyes saat Mr. Potato yang ia buat dirubah oleh ‘mama’nya dan dikatakan bukan seperti itu cara memasangnya.

Nah, itu baru dalam permainan. Terkadang, tanpa sadar, orang tua mengkritik anak dengan nada tinggi. Misalnya saja ‘ah kamu gak bisa apa-apa‘, ‘ah kamu gitu aja kok gak bisa‘, ‘Nakal! Kamu dibilangin gak bisa-bisa‘ dst. Bayangkan jika itu didengar anak sehari-hari. Apalagi untuk anak di bawah 5 tahun yang kognitifnya masih sedang berkembang. Anak yang cenderung percaya apapun yang dikatakan orang tuanya. Misalnya : orang tua mengatakan ‘kuda itu bisa terbang’, anak kemungkinan besar akan percaya. Ia tidak mengolah informasi tersebut lebih jauh, bahwa untuk terbang diperlukan sayap, dan kuda tidak punya sayap, jadi kuda tidak dapat terbang. Bayangkan jika mereka dikatakan sebagai anak nakal yang tidak bisa apa-apa setiap harinya, ia akan merasa bahwa itulah dia karena ia percaya pada apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Dan.. itulah gambaran dirinya yang akan ia bawa sampai dewasa kelak.

Nah, orang tua masih dapat mengubahnya tentu. Misalnya saja dengan memberikan pujian, refleksi, imitasi, deskripsi, dan bersenang-senang selama bermain dengan anak. Semangat!

Sampai bertemu di parenting class selanjutnya 🙂

Jadwal terdekat adalah yang ada di bawah ini 🙂

11137103_490373301118497_2184799777944794272_n