Kembali..

Dua mingguan yang lalu, saya naik kereta lagi setelah sekian lama. Stasiun ternyata sekarang amat sangatlah keren. Sudah canggih seperti di luar negeri gitu. Yang paling saya suka jelas adalah pergantian penggunaan tiket kertas menjadi kartu. Jadinya mengurangi pemborosan kertas. Hore banget!

Kemudian kejadian selanjutnya saat sedang belanja bulanan, saya pertama kalinya meminta agar barang belanjaan saya dimasukkan kardus saja. Biasanya kan selalu bawa tas belanja sendiri, tapi waktu itu lagi gak siap jadi hanya bawa satu tas belanja saya. Dan eh ternyata kasirnya baik banget, langsung ngiyain, walaupun ternyata lagi gak ada kardus di tempatnya dia. Jadi dia harus entah kemana dan ngelakbanin lagi. Dengan kegigihan mas-nya akhirnya berhasil tidak pakai plastik. Yeiyy!

**

Udah lama memang saya tidak lagi posting tentang hal-hal berbau global warming dan teman-temannya. Tapi sebenarnya tetap melakukan tindakan yang sama dengan yang sebelum-sebelumnya. Bawa tas belanja sendiri dan tempat minum sendiri sih, paling enggak. Walaupun dari dulu sampai sekarang belum berhasil untuk menjadi vegan. Ugh!

Lalu sekarang terpikir untuk nulis lagi tentang topik ini. Kangen juga euy. Terutamanya karena terinspirasi oleh tulisan ini.

Iklan

Re-use paper

Parkir di mall dikasih kertas parkir, jalan di jalan tol dikasih kertas tanda masuk tol, ke rumah makan dikasih kertas perincian pembayaran. Sebagai manusia yang hidup di kota metropolitan, kemanapun melangkah, kita akan disuguhi kertas-kertas penanda kita pernah mengunjungi berbagai tempat. Terus kertas itu biasanya diapakan? Ya.. dibuang dong ke tong sampah! Jawaban itu tentu tidak salah, ya daripada dibuang di sembarang tempat. Namun, lebih baik lagi jika kertas-kertas itu dapat dimanfaatkan kembali. Kalau saya biasanya mengumpulkan kertas-kertas itu dan menaruhnya di kedai daur ulangnya Pak Salam. Lalu saat beberes kamar beberapa hari yang lalu, saya berpikir, sebelum saya taruh ke kedai daur ulang, ada baiknya kertas-kertas ini dimanfaatkan dulu. Misalnya dibuat jadi post-it gitu (terutama untuk orang-orang yang gak teratur dan pelupa macam saya) Begini caranya. Pertama-tama, siapkan dulu peralatan di bawah ini :

photo 3

itu gak mesti styrofoam ya, bisa langsung dinding kamar, atau dinding dilapisin kertas kado yang sudah tidak terpakai. Saya kebetulan pakai styrofoam karena ada sisa setelah intervensi dengan klien. Kemudian saya pilih glut-ex karena bisa dipakai berkali-kali, tidak seperti double tape misalnya.

photo 1

lalu tempel glut-ex di belakang styrofoam (kalau bisa pilih glut-ex yang paling kuat, ada jenis-jenisnya, yang paling kuat bisa menahan beban sampai 3 kg)

photo 2

Terakhir, tempelkan kertas bekas deh. Dan Voila, jadi deh. Selamat mencoba!

Si Bundar Dikepung Plastik

image taken from http://www.google.co.id/imgres?um=1&hl=en&sa=N&tbo=d&biw=1366&bih=596&tbm=isch&tbnid=R9WFq1rSVdPMfM:&imgrefurl=http://www.masterfile.com/stock-photography/image/645-01826226/The-earth-in-a-plastic-bag&docid=N_vtCGLj9IxNnM&imgurl=http://image1.masterfile.com/em_w/01/82/62/645-01826226w.jpg&w=550&h=391&ei=kcvEUKX0I8LPrQfkr4CoDw&zoom=1&iact=hc&vpx=742&vpy=128&dur=2217&hovh=189&hovw=266&tx=131&ty=91&sig=107280799218359135546&page=1&tbnh=141&tbnw=212&start=0&ndsp=23&ved=1t:429,r:4,s:0,i:93

Pernah lihat (atau setidaknya membayangkan) rumah coklat milik nenek sihir di dongeng ‘Hans & Gretel’? Saya rasa, kalau anak-anak tidak dikutuk jika memakannya, pasti dalam sekejap rumah tersebut sudah langsung menjadi sejarah. Licin tandas masuk ke perut anak-anak yang kekenyangan. Bagaimana tidak tergoda, melihat makanan yang begitu lezat terhidang di depan mereka, dalam porsi besar lagi!

Rumah coklat yang menyenangkan itu mengingatkanku pada bumi yang kita pijaki, namun ingatan yang diikuti perasaan tidak menyenangkan. Bumi kita, memiliki segala hal menyenangkan yang bisa diraih dengan manusia, dan dapat diperoleh dengan cara cuma-cuma. Buah-buahan warna-warni yang dapat dipetik sesuka hati; daging dari berbagai hewan yang melintas; air bersih dalam berbagai versi, mulai dari yang tenang menghanyutkan sampai yang terus bergemuruh tiada henti; rangkaian pemandangan indah dari matahari-bulan-bintang-pelangi yang terus menerus diputar bergantian tanpa jemu dipandang; dan juga udara bersih tanpa interupsi dari karbon. Bahkan saking baiknya, Tuhan memberikan kita privilage. Tidak seperti rumah coklat nenek sihir yang sekali kita makan, langsung habis, segala isi perut bumi, boleh kita ambil dan ia akan dengan ajaibnya dapat tumbuh sendiri, sehingga tidak akan habis meskipun kita ambil beratus kali pun. Namun dengan satu syarat, jangan pernah mengambilnya berlebih. Karena ia membutuhkan waktu untuk bertumbuh. Hanya itu saja. Kita, diharapkan bisa untuk mengontrol diri kita dan memilah-milah, kapan bisa mengambil dan kapan harus menanam kembali. Sayangnya, ada sebagian dari kita yang melewati batas yang ditetapkan. Dalam hal ini, kita sepertinya tidak melihat adanya ‘nenek sihir’ yang bertugas untuk menjaga si bumi. Tidak ada yang menghukum saat ada sebagian dari kita yang mengambil lebih banyak dari semestinya. Kita pun menjadi terlena untuk terus mengambil tanpa menanam. Kita tidak menyadari, nenek sihir itu sebenarnya ada, tapi datangnya belakangan. Menyentil kita saat kita sudah terlalu melewati batas, lewat banjir, lewat bencana alam, dan lewat es di kutub yang semakin lama semakin cepat mencair. Walaupun hukuman itu datang bertubi-tubi, namun tetap saja ada dari sebagian dari kita yang belum menyadarinya. Tutup kuping dan tutup mata, yang penting senang. Bandel ya?

Ada banyak sekali, dan kalau dirinci mungkin tidak akan ada habisnya, tentang berbagai sumber daya alam di bumi yang kita peloroti dan habisi tanpa ampun. Sekarang saya coba mengajak teman-teman untuk menyoroti satu saja, dari sekian banyak, benda yang dapat merusak bumi. Ia bernama : plastik. Kenapa plastik? Ya..karena plastik merupakan hal yang dianggap remeh dan hampir semua kita mengkonsumsinya, namun tidak menyadari bahaya yang dapat ditimbulkannya. Kita, memiliki andil untuk merusak bumi, walaupun mungkin hanya sepersekian persen. Tapi kalau sepersekian persen itu digabungkan, hasilnya bisa jadi berapa puluh persen bukan?

Coba, berapa banyak plastik yang kita konsumsi per harinya? Saat kita berbelanja, kita akan diberikan kantong plastik sebagai pembungkusnya agar tidak repot dalam membawa barang belanjaan. Namun lama kelamaan, karena sudah terbiasa dengan pemakaian kantong plastik, membeli satu botol air mineral saja, misalnya, dibungkus plastik juga, padahal kan kalau dipikir-pikir, jika air mineral itu dibawa dengan tangan atau dimasukkan ke dalam tas tetap bisa toh, tidak harus memakai peranta kantong plastik? Saat air mineral sudah selesai diminum, plastik pun dibuang. Proses yang cepat dan instan ini membuat plastik kira-kira hanya berjasa selama 5 menit. Siklus ini terjadi bukan pada satu dua orang, atau dalam satu dua hari saja. Namun saya lihat sendiri terjadi setiap hari, pada banyak orang, setidaknya di minimarket depan kampus saya. Coba dibayangkan hal ini terjadi pada beratus-ratus orang, ada berapa banyak plastik layak guna yang sia-sia terkonsumsi dan terbuang untuk kegiatan yang sebenarnya bisa untuk tidak terjadi ini? Mungkin para konsumen ini tidak menyadari berapa banyak energi yang harus dihabiskan untuk membuat plastik-plastik itu, lalu menguraikan dan atau mendaur ulangnya. Jika mereka menyadari mungkin mereka akan berpikir lebih dari dua kali untuk mengkonsumsi plastik secara masif.

Sekarang, kita lihat dari proses pembuatan kantong plastik. Untuk memproduksi kantong plastik, dibutuhkan jutaan galon petrolum, sumber energi yang sebenarnya lebih berguna untuk digunakan dalam transportasi atau untuk pemanas*. Setelah plastik selesai digunakan, ia tidak serta merta menghilang. Plastik merupakan bahan yang susah terurai. Benda ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat terurai. Dalam proses penguraian itu, mereka bisa menyumbat saluran air, mencemari tanah dan air*. Mereka juga dapat ‘membunuh burung dan hewan di laut, karena sering kali hewan ini salah menyangka plastik adalah makanan mereka*. Jika fakta ini masih belum dapat membuat teman-teman tergugah, maka saya beri tahu kalau plastik ini pun memiliki dampak negatif bagi kita, manusia. Plastik yang menyumbat saluran air yang tadi saya bilang, sudah dipastikan dapat menjadi faktor penyebab banjir. Sebagai tambahan info, ada sekitar 500 juta hingga satu miliar kantong plastik yang digunakan di dunia setiap tahunnya, yang jika dibentangkan, maka dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat**. Ingat kan tadi kalau plastik susah terurai? Nah, kalau konsumsi plastik kita seagresif sekarang, bukan tidak mungkin kita nantinya akan saingan dengan plastik yang sebegitu banyaknya untuk sekedar memijaki bumi kita ini. Penggunaan plastik untuk wadah penyimpanan makanan, juga merupakan hal yang tidak dianjurkan, karena mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. Bahan-bahan kimia ini, berkolerasi dengan perubahan jaringan di tubuh, kerusakan genetik, keguguran, perubahan hormonal, dll***.

Lalu apa yang kita bisa lakukan?

Cara termudah adalah mengubah pola pikir dan pola hidup kita. Jika ada yang menawari plastik, teman-teman pikir terlebih dahulu, apakah saya benar-benar harus menggunakan plastik ini? Apakah barang yang saya beli benar-benar tidak bisa untuk ditenteng dengan tangan atau dimasukkan ke tas? Jika jawabannya iya, ya tidak ada salahnya untuk mengkonsumsi plastik tersebut.

Langkah selanjutnya, adalah teman-teman bisa meninjau ulang gaya hidup teman-teman. Jika sehari-hari sering menghabiskan plastik karena barang belanjaan yang banyak, nah apa salahnya untuk sedikit repot dengan membawa tas kain sendiri. Saya sendiri juga selalu membawa tas lipat seperti ini. Dengan membawa tas seperti ini, kita sudah benar-benar membantu untuk menjaga lingkungan dengan cara yang sederhana. Dan bukan tidak mungkin, kita juga bisa mengedukasi teman-teman atau keluarga kita. Misalnya, saat pertama kali memakai tas seperti ini, awalnya keluarga saya heran melihatnya, namun lama-kelamaan mereka pun juga mulai terbiasa untuk menolak plastik jika barang belanjaannya sedikit, dan bahkan sekarang ibu saya juga membawa tas sendiri jika belanja bulanan (bravo, mom!).

Setelah mengubah gaya hidup kita, langkah selanjutnya adalah ikut menyebarkan gaya hidup ini ke orang lain di sekitar. Saya sendiri, sejujurnya, suka sungkan jika ingin menegur teman saya yang masih mengkonsumsi plastik padahal barang belanjaannya gak seberapa. Jadi langkah untuk ‘mengedukasi’ orang lain adalah dengan memperlihatkan gaya hidup itu sendiri. Misalnya saat belanja beramai-ramai, saya memilih untuk menolak plastik dan mengeluarkan tas lipat yang saya punya. Dari situ, ada teman saya yang bertanya, dan akhirnya ada juga yang ikut untuk menolak plastik seperti saya 🙂 Langkah yang lain, karena saya suka menulis, saya menuliskan tentang hal ini di blog, seperti yang saya tulis sekarang, dan tulisan-tulisan saya yang sebelumnya, yang ini, ini, ini, ini. Untuk teman-teman, pasti ada banyak sekali langkah yang dapat dilakukan sesuai kesukaan dan kebisaan masing-masing, misalnya yang suka memotret, bisa upload di instagram tentang foto limbah plastik atau hewan laut yang memakan plastik. Teman-teman yang suka mendongeng, bisa mendongeng dengan tema plastik untuk anak-anak, agar mereka dapat menyadari dan mengaplikasikan gaya hidup ramah lingkungan sejak dini. Dan masih ada banyak lagi pasti ide-ide brilian dari teman-teman untuk dapat mereduksi plastik. Namun yang terpenting, sebelum mengajak orang lain, kita mengajak diri sendiri untuk berubah. Itu saja sudah besar sekali maknanya untuk lingkungan kita. Pasti 🙂

Langkah lain yang akan saya lakukan adalah proyek yang akan dilakukan saya dan teman saya, yaitu pembuatan web untuk memantau pengurangan plastik. Selama ini kan, misalnya saya sendiri, tidak tahu berapa besar plastik yang dapat dikurangi dengan mengubah gaya hidup untuk mengurangi plastik. Nah di web ini, kita bersama-sama mengisi ‘diary harian‘ kita, misalnya dengan mengupload foto atau menuliskan cerita tentang berapa banyak plastik yang dapat kita kurangi di hari tersebut, dan juga menghitung jumlah plastik yang dapat dikurangi di hari tersebut. Sehingga kita dapat benar-benar mengetahui bahwa dengan tindakan yang sederhana ternyata perubahan yang kita hasilkan benar-benar signifikan. Dengan tahu adanya perubahan yang bisa kita lakukan, diharapkan kitanya bisa semangat untuk terus konsisten melakukan aksi sederhana ini. Gerakan ini diharapkan juga dapat mengedukasi teman-teman yang belum menyadari pentingnya pengurangan plastik, untuk mengetahui dan selanjutnya bersama-sama bergabung dalam gerakan pengurangan plastik ini. Bagaimana menurut kamu? 🙂

Akhir kata, saya ingin menyampaikan kembali kata-kata yang disampaikan seseornag pada saya, bahwa ketika kita mengatakan kita menyelamatkan bumi, sebenarnya kita menyelamatkan diri kita sendiri. Bumi sudah pernah luluh lantah dan akhirnya ia bisa ‘hidup’ kembali, namun ketika bumi hancur, sebenarnya makhluk yang ada di dalamnyalah yang hancur binasa. Jadi atas nama keegoisan, masa kita masih tidak mau untuk menyelamatkan diri kita sendiri?

Sumber :

*http://environment.about.com/od/reducingwaste/a/no_plastic_bags.htm

**http://bplh.bekasikota.go.id/read/82/bahaya-sampah-plastik-bagi-lingkungan-dan-kesehatan