Bagaimana meningkatkan komunikasi orang tua dan anak melalui bermain?

Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak merupakan hal yang sangat penting terjalin sejak dini. Ada banyak cara untuk meningkat komunikasi. Salah satunya melalui bermain.
Dunia anak adalah dunia bermain. Sampai usia pra sekolah, anak akan lebih efektif menyerap segala sesuatu di lingkungannya melalui bermain. Oleh karena itu, orang tua pun dapat berkomunikasi dengan anak melalui bermain.
5 caranya adalah melalui :
-Pujian. Orang tua memberikan pujian saat anak berhasil melakukan hal yang baru, hal yang unik / berbeda, atau saat ia mau bermain saja padahal sebelum tidak mau bermain, maka orang tua dapat memberikan pujian. Pujian ini sebaiknya dilakukan secara spesifik. Yaitu memuji dengan menyebutkan tingkah lakunya. Misalnya ‘Wah..anak mama pintar sekali. Bangun baloknya tinggiiii sekali’ dan bukan hanya sekedar ‘wah kamu pintar’. Hal tersebut agar anak mengetahui tingkah laku yang dipuji dan kemungkinan ia melakukan tingkah laku serupa di lain waktu akan lebih besar. Anak juga belajar perbendaharaan kata yang lebih banyak.
– Refleksi. Orang tua melakukan refleksi pada apa yang dikatakan anak. Misalnya anak mengatakan ‘Pa, liat aku buat pesawat’. Orang tua bisa merefleksi dengan mengatakan ‘Wah, iya anak papa buat pesawat biru ya’. Anak akan merasa didengarkan dan diperhatikan orang tua saat bermain.
– Imitasi. Orang tua mengimitasi / meniru yang sedang dimainkan anak. Sebaiknya saat bermain orang tua 2-3 level di bawah anak. Misalnya anak membuat 5 tingkat balok, orang tua membuat 2 tingkat balok. Hal tersebut agar anak tidak merasa tersaingi. Saat diimitasi, anak akan merasa orang tua menyetujui ide bermainnya, dan merasa orang tua memperhatikannya.
-Deskripsi. Orang tua mendeksripsikan tingkah laku anak. Misalnya ‘Jagoan mama lagi gambar Princess Elsa nih’. Anak yang masih belajar merangkai kata, akan  terbantu dan mendapatkan model bagaimana harus merangkai suatu kalimat. Anak juga merasa orang tau memperhatikannya.
– Enjoy. Yang terakhir enjoy atau bersenang-senang. Jangan setelah mengetahui hal ini, jadi terpikir ‘eh bener gak ya yang aku lakuin?’ ‘eh habis ini harus apa ya?’ akhirnya jadi kaku dan gak natural. Yang paling terpenting adalah orang tua dan anak bersenang-senang selama bermain. Itu lebih dari cukup. Dengan orang tua dan anak bersenang-senang bersama saat bermain, itu merupakan modal yang sangat baik untuk membangun komunikasi antara orang tua dan anak.
Oh ya, kelima kemampuan di atas bisa untuk digabungkan. Misalnya menggabungkan pujian dan deskripsi ‘wah, anak mama pintar sekarang bisa menggambar awannya biru. Rapih lagi tidak keluar garis’.
 **
1. Bagaimana cara berkomunikasi dg anak usia 2 th yg blm lancar bicara? Dia kalau bermain yg nyerempet bahaya, saat dilarang mis: “jangan blablabla”, bs lebih marah/keras lg ke kita?
 Anak 2 tahun sedang mengembangkan kemandirian. Ia merasa bahwa sudah dapat melakukan hal2 yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan saat bayi, padahal kemampuannya belum sepenuhnya berkembang. Itu yang sering menyebabkan toddler marah / nangis saat dilarang. Di usia ini, juga wajar anak tantrum saat keinginannya tidak dituruti.
Nah, jadi terbayang kan kalau dilarang, ia akan marah balik ke orang tua. Jika orang tua sudah tahu kira2 apa permainan yang nyerempet bahaya (misal : pegang stop kontak). Saat ia sudah mau melangkah ke stop kontak, hampiri dan arahkan ke permainan lain.
Saat anak bisa untuk tidak mendekati stop kontak dan bermain permainan lain, puji anak, seperti “wah, pintar ya kakak main mobil-mobilannya. Nah, jika ini konsisten dilakukan. Anak akan tahu tingkah laku yang disetujui ortu dan yang tidak. Dan lama kelamaan ia akan meninggalkan perilaku yang ‘berbahaya’ itu, tanpa harus dimarahi.
2. Mba kalau anak kecil terlalu dipuji kata orang tua bisa membuat dia manja. bner da? 
Halo Mbak. Nah, yang perlu diperhatikan pujian seperti apa dulu nih? Apakah pujiannya benar-benar tepat dengan perilaku anak yang ditunjukkan? Kalau pujiannya tepat dan spesifik, Insya Allah tidak membuat anak manja. Malah membuat anak tergerak untuk mengulangi perilaku yang membuat ia dipuji tersebut 🙂
Jadi kalau keponakan saya bertengkar sama anak kecil lainnya. Ibu nya tuh suka muji dia dan ngejelek2in temen aminnya itu di belakang supaya dia berhenti nangisnya
Memujinya seperti apakah? Apakah memang pujian sesungguhnya atau hanya pujian untuk menghindari anak agar tidak menangis? Nah sebaiknya saat memuji juga tidak sambil menjelekkan orang lain. Dengan memuji seperti itu, anak tidak belajar cara menyelesaikan masalah saat berkonflik dengan orang lain secaa baik (saat masalah datang, alih-alih berdiskusi & menyelesaikan masalah dengan teman, justru menghindarinya). Anak juga dapat jadi belajar bahwa tidak apa-apa untuk menjelekkan orang lain.
 3. anakku kan umur 2th seringkali kalo main lempar2 barang dan sering gak fokus dgn yg saya instruksikan, kalo dibilang jangan malah makin dilempar2,😔bgmna cara komunikasinya ya? 
Jawabannya mirip dengan nomor 1 ya Mbak Rani. Kenapa anak usia 2 tahun malah melakukan yang dilarang. Nah, coba dikenali tingkah laku saat anak mau melempar. Misalnya tangannya sudah ancang-ancang melempar, pegang tangannya dengan lembut, gandeng, dan ajak ia bermain permainan lain. Saat ia dapat bermain permainan lain tanpa melempar, puji secara spesifik. Saat bermain, dampingi anak, terlibat, berkomunikasi, dan bersenang-senang dengan anak selama bermain. Hal tersebut akan membuat permainan menyenangkan bagi anak dan dapat berlangsung dalam waktu yang lebih lama dibandingkan anak bermain sendiri (fokusnya pun menjadi lebih terlatih deh) .
4. Bagaimana teknis berkomunikasi pd anak saat tantrum?  Maksd ortu hendak menenangkannya
Tidak berkomunikasi panjang lebar saat tantrum karena pasti tidak akan didengarkan oleh anak (kita sebagai orang dewasa pun juga sulit mendengarkan orang lain kalau emosi masih meluap-luap kan?). Jadi cukup katakan dengan singkat perilaku yang tidak orang tua sukai dan perasaan orang tua saat anak tantrum ‘Ibu sedih lihat adik teriak keras-keras seperti ini’. Lalu diamkan. Kecuali tantrumnya berbahaya (anak membenturkan kepla ke dinding, misalnya), tetap diamkan saja sampai reda. Saat sudah reda barulah berkomunikasi, apa yang tidak orang tua sukai, ap yang diharapkan pada anak, bagaimana agar tantrum tidak terjadi, apa sebenarnya yang diharapkan anak.
Jika orang tua tahu apa penyebab anak tantrum, sebaiknya cegah. Jadi misalnya tahu kalau ke mall dan tidak dibelikan mainan maka anak akan marah guling2. Sebelum ke mall buat kesepakatan dengan anak bahwa tidak membeli mainan saat itu (atau beli mainan hanya satu). Lalu diskusikan juga apa yang akan orang tua lakukan saat anak tantrum. Saat ia minta dibelikan mainan dan tidak dibelikan lalu marah, katakan secara singkat perilaku yang diharapkan dan bisa juga bilang ‘ibu tunggu disana sampai kamu selesai nangis’. Dengan diskusi sebelumnya, anak akan mengerti (walaupun tetep sambil tantrum ya) perilaku ibunya mendiamkannya, dan perilaku tantrum akan lebih cepat berkurang.
5. Sampai umur berapa kegiatan bermain sama anak ini bisa efektif? Ada yg bilang makin gede anak sudah bisa main sendiri dan bisa bikin manja kalo bermainnya didampingi terus.
Sampai umur berapapun akan tetap efektif, mbak Lilik. Namun caranya saja yang berbeda. Misalnya, saat anak masih kecil, maka yang melakukan komunikasi lebih banyak orang tua (anak juga bisa sih, tapi disini orang tua yang lebih melihat situasi & kondisi kapan ortu harus yang lebih banyak bicara / pakai non verbal saja, atau kapan anak yang lebih banyak bicara). Sedangkan saat anak dewasa, lebih seimbang. Ortu dan anak bisa saling menginisiasi komunikasi. Jenis permainannya pun berbeda. Anak-anak misalnya boneka, hewan-hewan, puzzle, dst. Saat anak beranjak dewasa, mainan mungkin lebih banyak board games (seperti monopoli).
Tapi kalau maksud Mbak Lilik mainan yang didampingi, diguide, dan kontrol lebih banyak orang tua : sampai usia pra-sekolah (dibawah 7 tahun). Karena dunia anak lebih banyak dengan ortu. Di luar itu, anak punya dunia lain juga, misalnya dengan teman sebaya.
6. Bagaimana membangun komunikasi antara ibu dengan anak yang memiliki kasus cedera otak apakah sama dengan anak2 lainnya…??? Soalnya pernah kesulitan waktu ngajar anak2 dengan cedera otak
Mbak Noni boleh lebih spesifik lagi cedera otaknya? Sepertinya juga kurang pas dijawab disini. Hehe. Karena anak berbeda-beda satu dengan yang lain, harus dilihat & dimodifikasi secara khusus. Asal tahu prinsip dasarnya, bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan anak
7. Mbak Raissa 😁 ortu seringkali menyalahkan kodok saat anak terjatuh, atau benda2 yg menjadi sebab anak nangis atau terluka  sebaiknya bagaimana komunikasi ortu ya Mbak?  Kemudian ortu sering juga menakuti anak dg serangga atau orang yang dianggap galak di rumah, agar anak jadi penurut, seharusnya bgmn ya Mbak?  😉
Atau satpam atau polisi ya, mbak? Jadi anak takut sama polisi hihi. Nah sebenarnya maksudnya ortu baik, untuk melindungi anak2, agar gak sedih / sakit dengan kejadian-kejadian yang gak mengenakkan. Tapi sebelum ortu melakukan itu, harus diingatkan dulu. Sampai kapan mau melindungi anak dari itu semua? Pada akhirnya, anak akan jadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab dengan dirinya sendiri. Bagaimana cara menyiapkannya? Ya.. dengan mengajarkan ia bertanggung jawab sejak kecil, dan tidak menyalahkan benda2 lain 😁
8. Mba devi, boleh tidak kita memaksa anak, misal anaknya ga mau gosok gigi atw ga mau mandi,, teruus kita paksa utk gosok gigi.. ada akibat buruknya ga ya?
Anak kemungkinan akan nurut kalau dipaksa, tapi.. bisa jadi anak akan tambah gak suka dengan kegiatan itu padahal kegiatan sehari-hari yang penting buat anak.
Nah, terkadang anak gak mau karena gak tahu kalau itu penting buat dia. Jadi ya.. diberi tahu. Ada berbagai cara. Misalnya dengan membaca buku cerita (lebih bagus yang tokoh utamanya gak suka gosok gigi, terus jadi suka, jadi anak bisa identifikasi diri kayak tokoh itu).
Bisa juga anak butuh penguatan. Jadi orang tua dan anak bisa mengatur bersama-sama jadwal mandi & gosok gigi. Anak cenderung akan lebih mau melakukan kalau dia punya power untuk mengatur jadwalnya sendiri. Lalu bisa juga pakai sistem reward & konsekuensi. Kalau anak bisa gosok gigi sesuai jadwal dikasih stiker. Nanti setelah beberapa kali punya stiker, bisa ditukarkan dengan benda yang ia suka. Kalau ia gak gosok gigi sesuai jadwal, dicabut hal yang ia sukai (misal main bola) dan gak dapat stiker.
Kalau anak bisa tidak dipaksa, kenap harus dipaksa, bukan? 😊
Penutup :
Berkomunikasi dengan anak kadang mungkin bikin gemes, bingung, sebel, capek, mau marah. Tapi ada seribu cara menuju Roma, ada seribu cara untuk berkomunikasi dengan anak. Salah satunya lewat bermain. Dengan bermain anak senang, orang tua senang, dan.. komunikasi serta hubungan yang hangat terjalin deh antara orang tua dan anak. Win win solution. Selamat bermain yaaaa 😁😁✌️
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s