Kapan waktu yang tepat membacakan buku?

Jadi ‘pembicara virtual’ lagi di komunitas ibu-ibu profesional tanggal 22 April 2015 kemarin. Berikut rangkumannya 😀

Kapan waktu yang paling tepat untuk membacakan buku bagi anak?

Sedini mungkin! Jika memungkinkan, sejak awal trimester ke-3 kehamilan, janin sudah bisa dibacakan buku cerita. Mengingat indra pendengaran mereka sudah mulai berkembang.

Apakah kira-kira manfaat dari membacakan buku sejak anak masih di kandungan?
Beberapa diantaranya yaitu :
1. Ibu hamil yang senang membaca dengan bersuara (reading aloud) akan lebih tenang. Ketenangan ini penting, karena terlihat dalam sebuah penelitian, stress & kecemasan pada masa kehamilan dapat meningkatkan kemungkinan penyakit dan penggunaan antibiotik pada anak setelah lahir. Selain itu, janin akan berespon pada ritme jantung Ibu, terutama jika Ibu dalam keadaan relaks.

2. Membacakan buku pada janin adalah salah satu kegiatan aktif untuk berhubungan dengan jabang bayi. Jika dibiasakan kegiatan membaca buku ini dapat melatih bonding / kedekatan antara orang tua dan anak. Akhirnya, hal ini dapat membiasakan orang tua dan anak dekat saat nantinya anak lahir.

3. Janin akan mulai mengenal suara orang tua sedang dalam kandungan, dengan kegiatan membaca buku ini. Dan ia pun akan lebih familiar dengan suara orang tua saat kelahiran kelak.

Dengan anak rutin dibacakan buku secara rutin, maka ada berbagai manfaat, yaitu :
1. Belajar berbagai kata baru (terutama kata yang jarang didengar dalam percakapan sehari-hari). Terlihat buku anak mengandung 50% lebih banyak kata yang jarang diucapkan dibandingkan TV atau bahkan percakapan antar mahasiswa.

2. Menstimulasi interaksi antara orang tua dan anak (yang mempengaruhi perkembangan kemampuan bahasa anak). Bahkan terlihat membaca buku bersama lebih banyak memberikan keuntungan dalam perkembangan bahasa anak dibandingkan bermain atau interaksi orang tua – anak lainnya.

3. Meningkatkan kemampuan komunikasi reseptif (mengerti apa yang dikatakan lawan bicaranya) dengan meminta anak menunjuk atau menyentuh halaman-halaman buku selama membaca bersama.

4. Meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif (mengungkapkan apa yang ada di pikirannya) dengan anak menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan orang tua terkait bacaan.

Bagaimana memaksimalkan pengalaman membaca di dalam buku ini?
1. Saat membacakan setiap kata, ingat untuk menunjukkan kata yang sedang dibacakan dengan tangan. Hal ini untuk membuat anak lebih terbiasa melihat huruf. Read aloud dengan cara ini, menurut penelitian-penelitian yang ada, dapat membuat anak lebih familiar dengan huruf. Dan untuk selanjutnya, mereka pun lebih lancar dalam membaca pada masa yang akan datang.

2. Saat awal membacakan, mulai dari membacakan judul, nama pengarang, dan ilustrator. Hal tersebut untuk membuat anak belajar mengenai konsep ‘asal mula’. Bahwa setiap benda pasti ada pembuatnya, tidak ujug-ujug ada. Sehingga ia pun dapat menghargai hasil karya orang lain (maupun dirinya sendiri), di masa yang akan datang. Ia pun dapat belajar struktur, bahwa ada awal, isi, dan akhir. Baik dalam buku, maupun dalam segala hal.

3. Orang tua mendampingi anak di dalam membaca buku.

Selain itu, ada banyak sekali cara yang dapat dilakukan orang tua untuk dapat menumbuhkan kecintaan membaca pada anak.

Beberapa caranya seperti :
1. Menaruh di sebelah tempat tidur, dan membiasakan membacakan buku-buku tersebut saat anak akan tidur atau baru bangun tidur. Sehingga ia akan mengasosiasikan membuka dan menutup harinya dengan membaca.

2. Menaruh buku di mobil atau membawanya saat bepergian di angkutan umum. Sehingga alih-alih sebal karena kemacetan yang tidak henti, orang tua dapat bergembira bersama anak dengan membaca buku bersama.

3. Membawa buku saat tahu akan menunggu sesuatu yang agak lama. Misalnya, pergi ke bengkel, menunggu antrian bank, menunggu makanan datang di restoran favorit, bisa dengan membacakan buku, sehingga anak tidak punya kesempatan untuk cranky karena terlalu lama menunggu.

Dengan buku dimana-mana dan dibacakan dengan suasana yang menyenangkan dan bersama orang yang sangat disayangi anak (ayah dan ibunya), bagaimana anak tidak menjadi cinta
***

1. Sekarang kan sdh banyak buku yg disertai dgn e-pen.apakah fungsi ortu/ pengasuh yg membacakan buku bisa digantikan dgn fungsi e-pen?
Menurut saya interaksi dengan orang tua / pengasuh jelas tidak dapat digantikan dengan digital, secanggih apapun.
Membaca bersama orang tua melibatkan sentuhan fisik, seperti pelukan & ciuman, yang akan merekatkan hubungan & komunikasi orang tua dan anak. Yang jelas tidak dapat digantikan digital.
Selain itu, walaupun dengan e-pen ada interaksi, namun interaksinya berkesan1 arah. Sedangkan dengan ortu/pengasuh 2 arah. Ada saat trrtentu ortu jawab, anak tanya. Atau sebaliknya. Sedangkan di e-pen tidak dimungkinkan hal tersebut.
Kita sendiri sebagai orang dewasa kan, pasti akan beda saat berinteraksi dengan orang langsung dan dengan gadget kan (seperti Siri) 😁

2. Saat kita read aloud,apakah buku yg dibaca sebaiknya disesuaikan dgn usia anak?kadang saat saya baca buku, anak minta saya membaca dgn keras.
Iya. Ada yang mengatakan saat read aloud juga sebaiknya 1-2 tingkat di atas level anak. Karena read aloud dipandu oleh orang yang lebih dewasa.
Selain itu saat read aloud, tunjuk kata yang dibacakan. Hal tersebut akan membuat anak mengasosiasikan kata yang di buku dan suara yang dihasilkan dari huruf yang di buku itu. Dan akan membuat anak lebih mudah membaca saat ia siap membaca kelak

3. Anak saya Ainun umur 10 tahun, suka menulis cerita. Walaupun kadang ada kata-kata yg blm tepat penulisannya. Mungkin ini disebabkan ia kurang suka baca buku. Setiap ulanganpun ia sulit disuruh belajar. Kalau menjawab soal, suka seenaknya sendiri. Tapi sebenarnya ia kreatif dalam bercerita, mengarang puisi. Gmn spy potensiny bisa dikembangkan dan suka dengn buku? Anaknya aktif dan suka bergerak. Ia lbh suka game, atau nonton tv. Pdhl sdh dibatasi.
Setelah menulis cerita, bisa minta anak membacakan ceritanya (dari situ ia bisa sadar sendiri juga tentang tata bahasa yang salah misalnya, atau logika berpikir saat ia menulis). Jangan lupa puji usahanya menulis. Puji juga jika ada peningkatan setiap kali ia menulis cerita.

Setelah itu bisa membuat cerita bersama antara anak dan orang tua. Setelah sudah terbiasa, bisa divariasikan dengan membaca cerita bersama. Lalu di tengah anak bisa menebak jalan cerita atau mengarang cerita sendiri. Bisa juga di akhir cerita, anak diminta mengkhayal skenario lain misalnya di cerita cinderella, gimana ya kalau sepatunya tidak ketinggalan di tangga tadi? Secara tidak sadar anak akan rutin membaca dengan memanfaatkan kebiasaannya yang suka bercerita 🙂

4. Mbak devi saya sudah membiasakan read aloud sejak trimester 3 sampai sekarang. Tapi semakin besar anak saya suka membuang buku yg sedang saya bacakan dan lebih suka kalau saya ‘mengarang bebas’ tanpa membaca. Di materi kulwap kan mbak bilang kalau sebaiknya malah sambil menunjukkan kata2 yg sedang dibacakan ya? Kalau gt pake taktik apa ya mbak biar anak saya mau untuk ikutan baca? Terus kira2 apa penyebab anak saya terkesan ga suka sama buku ya mbak? Terimakasih
Bisa macam2 penyebabnya. Coba dilihat apakah buku tersebut dia suka? Bisa jadi dia menolak bukan karena gak suka baca buku, tapi tidak suka isinya. Coba mulai dari yang dia suka, dan puji saat ia terlihat bersemangat. Coba juga dengan buku yang ada aktivitas, misalnya pop-up atau buku tutup.
Atau dilihat juga waktunya? Apakah saat itu anak sedang tinggi level energinya? Karena sebaiknya saat energinya sedang low, misalnya saat akan tidur. Jadi lebih sesuai kegiatan calm seperti membaca. Itu beberapa contoh faktornya. Ada banyak faktor lain yang dapat menyebabkan anak enggan membaca. Intinya harus dilihat situasi & kondisi anak, dan masuk saat sikon anaknya enak 🙂

5. Anak sy Insya Allah 4th bulan mei ini, suka sekali membaca dr mau tidur smp bangun tidur dia rutin minta dibacakan buku. pertanyaannya default bahasanya adalah inggris. sering kali kami orang tua mencoba membacakan buku2 dengan bahasa namun pada akhirnya tetap harus di terjemahkan ke inggris lagi.. krn kelihatan sekali anak sy ini kaya loading lama buat menyerap cerita tsb. bagaimana sebaiknya, tetap diterjemahkan b.inggris/bahasa?.
Loading lama saat mendengar bahasa inggrisnya atau saat dibacakan bahasa Indonesia saja? Alternatifnya bisa dibacakan buku bilingual. Bacakan satu kalimat Indonesia baru Inggris. Lalu tunjuk gambar adegan di dalam buku (jika ada) yang merepresntasikan kalimat (agar anak lebih mudah mengerti). Jadi anak tetap mendengar bahasa ibunya terlebih dahulu.

6. Anak saya usia 6y1m sdh lancar membaca, tp ketika ditanya dari yg dibacanya belum ngerti, tp kalo lewat film cepet menceritakan kembalinya, spt kisah2 teladan. Kira2 gmn ya cara mengajarkan anak tdk hny sekedar membaca tp jg memahami jalan ceritanya.
Sy pengen sekali beli buku2 yg dapat mendukung pembelajaran anak2, tp terkadang, ayahnya kurang mendukung, bagaimana cara mengkomunikasikan ke ayahnya anak2??
Film lebih kongkrit, karena adegannya jelas satu persatu. Kalau buku, satu gambar merepresentasikan beberapa adegan. Untuk cek pemahaman anak, bisa tanya jawab (tapi tetap dengan suasana menyenangkan agar terkesan mengobrol dan anak senang melakukannya) di tengah halaman, atau setelah beberapa halaman. Hal tersebut juga untuk melatih penalaran & pemahaman anak.
Bisa ditanyakan dulu alasan ayahnya tidak mendukung apa, setelah tahu alasan baru bisa dicari solusinya. Misalnya mungkin membeli di saat2 tertentu saja / tidak sering tapi terjadwal seperti sebulan sekali.

7. Menjelang bobo baca cerita adlh hal yg paling dtunggu anak2 tp kdua anak sy beda usianya jauh jd sering rebutan minta dibacakan cerita duluan, krn  tema cerita/buku bbeda. Si abang 10th & edeknya 2,2th (skamar). Bgm menyiasatinya ?
Bisa dengan pembagian jadwal. Misalnya hari ini adik yang pilih. Besok kakak yang pilih. Hal tersebut dapat membuat anak belajar juga menghargai orang lain, belajar mengantri dan bertenggang rasa pada orang lain.

8. Mb devi, sy mau tanya bgmn mengenalkan buku kpd anak yg berusia 18 bln krn stiap sy belikan buku malah dsobek dan apakah membacakan bukunya dgn membaca dr gambar sj atw mengikuti tulisan yg ada dibuku?
Hai mbak, usia batita memang saatnya usia anak bereksplorasi secara sensori (belajar sesuatu di lingkungan dengan menggunakan bagian tubuh, termasuk mulut). Jadi gak heran anak akan memasukkan apapun ke mulutnya. Untuk itu, buku dengan bayi biasanya tidak dari kertas biasa. Tapi kertas tebal, buku bantal, atau buku kain. Bisa dicari buku-buku seperti itu ya mbak.
Lalu membaca bisa dua-duanya. Tapi lebih baik membaca dengan mengikuti tulisan lebih sering. Agar anak belajar suara yang dikeluarkan sesuai dengan text yang tertulis (mempermudah saat nantinya ia belajar membaca). Tapi membaca dengan berimprovisasi dengan gambar juga seru sesekali dilakukan 🙂

9. Usia brp anak mulai dikenalkan buku cerita nabi2? Dan bagaimana mengajarkan anak batita merawat bukunya?
Sejak awal dikenalkan buku, mulai dari cerita nabi juga bagus. Namun sayangnya, buku nabi yang beredar tulisannya panjang dan gambar sedikit, yang sepertinya lebih cocok untuk usia sekolah (7 tahun ke atas). Jika ada buku nabi yang sesuai untuk batita (tulisan sedikit, gambar besar & tidak banyak detail), bagus juga dikenalkan sejak batita.

Batita memang masih mengeksplorasi segala sesuatu dengan tubuhnya (jadi gak jarang ia bisa merobek halaman buku atau memakan dengan mulutnya). Untuk itu orang tua memfasilitasi dengan memberi buku yang sesuai dengan bayi (buku kain atau buku dengan kertas tebal). Mencegahnya untuk memakan atau membuangnya (saat ingin dimasukkan ke mulut langsung dijauhkan). Saat anak bisa tidak merusak, dipuji, sehingga ia tahu dan lebih bisa menahan diri untuk tidak merusaknya. Orang tua juga berperan sebagai role model (menaruh buku di tempat setelah membaca, misalnya).

10. Skrg ini gadget semakin canggih, bahan bacaan tdk hanya berupa lembaran kertas tp ada jg dlm bntuk e-book misal. Nah di usia brp anak diperbolehkan memanfaatkan peran gadget sbg fasilitas membaca/mencari informasi sdngkan setau saya buku dlm bentuk kertas/kain yg full color lbh bermanfaat lbh buat anak.
Di atas 2 tahun boleh. Tapi waktunya dibatasi (maksimal 1 jam tidak berturut-turut dalam satu hari), dan ada pendampingan orang tua (orang tua di sebelah dan tetap berinteraksi dengan anak).

11. Aslm Mba Devi. Saya pernah mendengar bhw sebaiknya dlm membacakan buku cerita, buku yg dipilih disesuaikan dg usia anak, baik dr segi cerita, jml kalimat, dan ilustrasi. Nah, ada yg berpendapat bhw membacakan buku ttg nabi sebaiknya dimulai sejak dini (usia pra sekolah, bhkn ada yg blg baiknya sejak dr bayi). Menurut saya, sekalipun di dukung dg ilustrasi yg menarik, bbrp cerita ttg nabi cukup kompleks bhkn kata2/kalimatnya pun tdk cukup sederhana bagi anak usia pra sekolah. Bgmn pendapat mba devi ttg hal tsb? Usia brp sebaiknya membacakan buku ttg para nabi? Terima ksh sebelumnya
Sama seperti jawaban nomor 9 ya.

12. Model buku seperti apa yg sebaiknya diberikan pada anak usia balita?
Untuk batita dibagi lagi buku berdasarkan usia bayi (0-1 tahun), toddler (1-3 tahun), dan pra sekolah (3-6 tahun).

Bayi kata-kata sebaiknya 1 kata per halaman. Satu gambar dalam 1 halaman dan tidak detail (misalnya menceritakan tentang rumah, di halaman itu hanya ada rumah tanpa ada rumput di sekeliling, pagar, dst). Buku dengan bahan yang kuat (seperti buku kain atau board book).

Toddler bisa dengan dua kata sampai 1 kalimat per halaman.
Preschool : 1 kalimat per halaman, gambar mulai detail, bercerita tentang situasi sehari-hari. Misalnya keluarga.

13.Buku satu bahasa atau bilingual yg lebih cocok utk anak balita? Apakah buku komik yg banyak gambar atau buku bergambar biasa yg lebih disarankan utk balita?
Sebaiknya belajar bahasa ibu terlebih dahulu. Jadi satu bahasa. Sambil sesekali dikenalkan bahasa kedua (Inggris). Kalau anak kelihatan bersemangat, boleh ditambah porsinya.

Komiknya dilihat dulu apakah gambarnya detail dan hitam putih? Jika iya (seperti komik pada umumnya), sebaiknya baru saat usia sekolah ya (7 tahun ke atas).

14. Terkait dgn jwbn pertanyaan no.3,bacakan buku 1-2level diatas kemampuan anak, bagaimana cara identifikasi level kemampuan membaca anak?
Apakah ada dampak negatif bila kita senang membacakan buku apa saja utk anak (tanpa mengidentifikasi level kemampuannya) ?

Bisa lihat dari sehari-hari saat dibacakan buku, anak seperti apa reaksinya, apakah paham? Apakah tertarik? Untuk menentukan levelnya.

Lebih baik lagi jika mengikuti buku yang disarankan sesuai usia anak (biasanya buku dari luar mencantumkan usia yang disarankan). Atau patokan simpelnya bisa seperti ini:
Bayi kata-kata sebaiknya 1 kata per halaman. Satu gambar dalam 1 halaman dan tidak detail (misalnya menceritakan tentang rumah, di halaman itu hanya ada rumah tanpa ada rumput di sekeliling, pagar, dst).  Buku dengan bahan yang kuat (seperti buku kain atau board book).

Toddler bisa dengan dua kata sampai 1 kalimat per halaman.
Preschool : 1 kalimat per halaman, gambar mulai detail, bercerita tentang situasi sehari-hari. Misalnya keluarga.

Jika dibacakan acak saja, tidak apa-apa, tapi.. bisa saja anak menjadi bosan (tidak sesuai dengan minatnya atau terlalu mudah untuknya). atau belum paham (tidak sesuai dengan level kognitifnya).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s