1 Maret 2015

Dongeng jaman dulu tuh sebenarnya suka bikin (saya) geleng-geleng kepala, terutama karena sebenarnya banyak yang logikanya suka gak masuk (baru sadar sih setelah dibaca ulang dewasa gini).
Nah, hari ini saya baru saja membaca untuk pertama kalinya dongeng berjudul ‘Buttercup’. Sadis banget ini mah dongengnya. Awalnya sih saya merasa konyol logikanya, tapi akhir cerita yang ditutup dengan kesadisan membuat saya terngiang-ngiang.
Perasaan ini membuat saya teringat saat membaca buku ketika kanak-kanak dulu. Mungkin banyak yang gak masuk akal. Tapi yang saya ingat justru emosi si tokohnya. Kesedihannya, keriangannya, dan segala emosi lainnya.
Mungkin itu yang menyenangkan membaca saat kecil dulu. Membaca ya membaca saja. Gak perlu ditelaah dan dianalisis seperti dewasa ini. Membaca jadi rasanya menyenangkan. Rasa saja yang jalan, nalar mah urusan kesekian.
#365HariBersyukur
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s