27 Februari 2015

Melanjutkan pembicaraan sebelumnya, saya ingat satu saat ketika saya merasa dodol banget dan tapi si profesor tetap saya memberikan umpan balik yang positif. Terus saya tanya alasannya. Dia bilang bahwa saya akan bekerja dengan orang tua yang mungkin merasa gak PD dengan kemampuan mengurus anaknya. Orang tua ini akan takut dihakimi dan dianggap gak becus mengasuh. Untuk itu, kitanya sebagai psikolog / terapis harus menguatkan dan membuat mereka menyadari potensi diri mereka. Selain itu, juga harus membuat mereka tahu hal yang masih harus ditingkatkan dari diri mereka tanpa membuat mereka putus asa.
Untuk bisa semua itu, ya saat training saya harus tahu dulu rasanya seperti apa mendapatkan penguatan seperti itu. Itulah mengapa saat saya belajar, saya didorong secara positif. Saya pikir, iya juga ya. Dengan gaya umpan balik yang diberikan profesor, saya justru mau untuk mengupgrade diri dan belajar lagi, karena rasanya menyenangkan. Saya merasa dikuatkan untuk bisa memperbaiki diri, justru dengan kalimat-kalimat positif.
Saya kembali berpikir kenapa ya pengajar di Indonesia kok gitu banget ya. Apalagi untuk pengajar yang terlebih sudah belajar dalam parenting. Khususnya bahwa konsekuensi negatif (macamnya hardikan, hukuman, cercaan) gak akan membuat anak belajar untuk lebih baik. Tapi kenapa justru hal kayak begini diterapkan ke anak didiknya ya? Bikin saya lelah memikirkannya.
Terus teman saya berkomentar (yang kayaknya benar juga deh) bahwa ini karena kita sudah kelamaan dijajah. Haha. Jadi motifnya kalau melakukan sesuatu ya karena motif balas dendam. Ingin menjajah karena sudah merasakan dijajah itu tidak mengenakkan. Balas dendam yang gak tepat sih memang. Tapi lihat saja misalnya ospek, ada gak kegiatannya yang mendidik? Apa esensi dari meneriaki dan memaki orang lain?
Yah begitulah. Semoga ya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik dan gak gini-gini lagi.
Bersyukur saya seenggaknya bertemu dengan profesor, sehingga (semoga) bisa menerapkan metode pendidikan yang mengempower orang lain, dan bukan mengkerdilkannya. Aamiin.
#365HariBersyukur
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s