Sex education (special needs)

image1

Saya pernah membaca berita tentang seorang anak dengan intellectual disability yang setiap hari di rumah terus karena dianggap belum bisa melakukan apapun. Bahkan bina diri sederhana saja harus dibantu. Namun tiba-tiba hamil.

Saya juga mendengar kasus-kasus lain dimana anak dengan intellectual disability tiba-tiba hamil, tapi gak tahu siapa yang menghamili. Si anak sendiri tidak dapat meminta pertolongan atau menceritakan kejadian yang ia alami karena belum mengerti hal tersebut merupakan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan.

Atau kasus lain ketika anak dengan intellectual disability atau autism, masturbasi di tempat umum karena tidak tahu bahwa hal tersebut tidak appropriate untuk dilakukan di depan umum.

Serta banyak kasus pelecehan seksual pada anak berkebutuhan khusus atau anak-anak tersebut melakukan aktivitas seksual namun anaknya sendiri tidak benar-benar mengerti.

Oleh karena itu, hari Rabu kemarin saya memberikan seminar singkat ‘pendidikan seksual’ pada anak di SLBN 7.

Di SLBN 7 juga ada kasus-kasus terkait topik ini (tapi gak bisa diceritain). Intinya, topik ini memang sebuah topik yang urgent untuk diketahui dan dimengerti anak-anak berkebutuhan khusus. Dan gak hanya anak-anak saja, orang tua dan guru mesti tahu tentang pendidikan seksual, cara menyampaikan ke anak, serta bagaimana cara melakukan pengulangan anak (karena anak-anak ini mudah lupa). Jadi nanti tahap selanjutnya juga akan ada  sharing dengan guru dan orang tua.

Kali ini dibantu oleh psikolog anak Rendra Yoanda, M.Psi., Psikolog. untuk edukasi ke anak laki-lakinya. Thank you Rendra!

****************************************

Ini kira-kira yang kemarin saya lakukan (pendidikan seksual yang masih sangat dasar, karena disesuaikan dengan tingkat inteligensi, rentang perhatian, dan kebutuhan dari murid-murid saya) :

 

Dimulai dari menerangkan bahwa setiap orang memiliki badan yang berbeda-beda. Ada yang pendek, tinggi, kurus, besar, dst. Tidak ada yang sama antara satu anak dengan anak lainnya. Bahkan anak kembar pun pasti ada bedanya satu dengan yang lainnya. Karena itu kita istimewa. Tuhan menciptakan kita secara spesial. Untuk itu, kita pun harus menjaga badan kita yang istimewa ini.

 

Bagaimana caranya?

Caranya adalah menjaga badan yang bersih dan aman.

 

Apa yang dimaksud dengan bersih?

Bersih adalah mandi, keramas, gosok gigi, dan potong kuku secara teratur. Selain itu untuk yang perempuan juga harus memakai pembalut dengan benar (tepat di tengah celana dalam agar tidak  tembus). Saat sudah penuh pun harus dibersihkan dengan air, dibuang ke tempat sampah, dan diganti dengan pembalut yang baru (setelah itu praktek memakai pembalut di celana dalam).

 

Selain itu apa yang dimaksud dengan aman?

Yaitu kita berhak mendapatkan sentuhan yang aman.

Coba bayangkan lampu lalu lintas (beri gambar lampu lalu lintas di layar. Selain itu, bendera berwarna merah, kuning, dan hijau.

image3

Kalau lampunya hijau artinya apa? Boleh jalan. Nah, sama dengan badan kita. Ada bagian yang boleh disentuh (mendapat lampu hijau). Misalnya tos dengan teman atau bersalaman dengan teman atau orang lain (peragakan). Jika ada yang menyentuh area hijau, disebut dengan sentuhan baik.

Kalau lampunya kuning apa artinya? Artinya bagian tubuh yang boleh disentuh oleh orang-orang terdekat kita (seperti keluarga atau teman dekat yang sama jenis kelaminnya). Misalnya memeluk atau memegang bahu, kakak kita boleh melakukannya. Tapi orang yang baru dikenal boleh tidak? Tentu tidak. Jadi lampu kuning yang berarti hati-hati, adalah bagian tubuh yang kita harus hati-hati melihat, siapa yang boleh menyentuhnya dan siapa yang tidak boleh.

Kalau merah? Sama seperti lampu merah yang artinya gak boleh jalan. Bagian tubuh yang termasuk area merah artinya tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali kita sendiri. Untuk laki-laki ada 2 area, yaitu bagian belakang (pantat, ditunjuk bagiannya atau pakai gambar) dan selangkangan (atau bisa juga disebut diantara dua kaki, dengan ditunjuk bagian tersebut atau memakai gambar). Untuk perempuan ada 3 area, yaitu dua area sama dengan laki-laki, dan satu lagi bagian dada atas (payudara, tunjuk atau pakai gambar). Jika ada yang memegang area merah kita, itu yang disebut sentuhan jahat.

Selain kita, ada yang boleh menyentuh bagian merah tapi dengan situasi dan kondisi tertentu. Misalnya ayah dan ibu kita saat kita masih belum dapat mandi sendiri. Atau dokter saat memeriksa kita terkadang harus memegang salah satu dari ketiga area tersebut (namun saat dokter memegang atau melihat ketiga area itu, harus ditemani  orang tua atau orang yang kita percaya)

 

Kira-kira apa yang akan terjadi kalau ada yang menyentuh bagian merah kita?

Marah, senang, kesal, atau senang? (Boleh eksplorasi emosi lebih lanjut. Pakai bantuan gambar juga lebih baik). Setelah anak mengetahui bahwa lebih ke arah emosi negatif (sebal atau sedih misalnya), itulah alasannya tidak ada yang boleh memegang area merah kita, karena akan membuat kita tidak nyaman. Kita pun tidak boleh memegang atau melihat area merah orang lain.

image4

Apa yang harus kita lakukan jika ada yang mau melihat atau menyentuh area merah kita?

Ada 3 hal yang bisa kita lakukan (ini saya contek dari :  www.childpsychiatrypune.com ) yaitu :

1. Teriak ‘TIDAK’!

2. Lari!!!!

3. Cerita pada orang yang dipercaya (orang tua atau guru, misalnya).

 

Sekarang yuk kita berlatih sentuhan baik (lampu hijau) dan sentuhan jahat.

(ini bebas dengan cara apapun). Kalau saya kemarin menyiapkan kumpulan kartu-kartu, bendera (tiga warna yaitu : merah, kuning, dan hijau), serta wayang-wayangan orang). Anak-anak diminta maju satu persatu, membacakan kartu, lalu bersama dengan teman-teman yang ada di kelas menentukan apakah kejadian yang ada di dalam kartu termasuk sentuhan baik (hijau), sentuhan yang hanya boleh dilakukan oleh orang dekat (kuning), dan sentuhan yang sama sekali tidak ada yang boleh dilakukan (merah).

image2

contoh kasus sex edu

Nah.. ini tidak bisa hanya dilakukan satu kali. Untuk anak-anak pada umumnya harus diulang selama 6 bulan sekali. Untuk anak-anak berkebutuhan khusus tentu harus lebih sering, lebih kongkrit, lebih terkait dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, orang tua dan guru juga harus tahu. Jadi di rumah pun bisa sambil diulang-ulang saat mengobrol santai atau saat sedang membaca buku yang terkait. Salah satu buku yang saya rekomendasikan adalah “I said No!'” oleh Zack dan Kimberly King.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s