Kenapa gak day-care?

“Kenapa lo gak buat day-care sih?”

, kata salah seorang teman saya saat tahu saya sedang membuat Rainbow Castle.

Jawaban singkatnya sih, karena saya gak setuju dengan day-care. Saya percaya dengan penelitian yang menyebutkan bahwa day-care punya manfaat positif ke kognitif anak, tapi tidak ke sosial emosinya. Saya pun meyakini attachment theory. Sehingga tidak sreg kalau anak-anak dibawah usia 5 tahun berpisah dalam waktu yang lama dengan ibu dan ayahnya. Menghabiskan waktu lebih lama di suatu tempat (day-care) dibandingkan dengan pengasuh utamanya (ayah dan ibunya).

“Tapi kan gak semua ibu punya privilege buat gak bekerja”, tambah teman saya kala itu.

Saya rasa itu pilihan setiap orang tua. Ingin bekerja atau tidak bekerja. Pasti ada berbagai pertimbangan dan berbagai faktor dibaliknya. Siapa saya yang bisa-bisanya menghakimi pilihan itu. Ini bukan pertanyaan ujian yang ada nilai benar dan salahnya. Itu ya semata pilihan hidup saja. Serupa dengan ada orang yang lebih suka makan daging, sementara orang lain lebih suka makan sayur. Kamu gak bisa bilang orang yang suka makan daging hidupnya lebih tidak sehat dibandingkan yang makan sayur, sebenarnya. Ada faktor-faktor lain disampingnya, semisal rutinitas olahraga, faktor kebahagiaan, dan seterusnya.

“Lo kok gak mau memfasilitasi orang-orang ini sih? Daripada anaknya gak keurus mendingan di day-care kan? Nah ya mendingkan lo bikin day-care”, lanjut teman saya.

Saya pun merasa hak setiap orang tua ingin memasukkan anaknya ke day-care atau tidak. Namun kalau saya diminta untuk membuat sebuah day-care, ya jelas saya tidak mau. Wong, bertentangan dengan prinsip saya di atas. Kalau kamu sendiri memangnya mau membuat sesuatu yang gak sesuai dengan prinsip-prinsip kamu?

Saya cukup ‘jleb’ dengan perkataan seseorang yang bilang ‘kalau gak siap punya anak ya jangan punya anak’. Nah ya walaupun saya belum punya anak dan tidak tahu bagaimana rasanya. Namun karena saya sudah meyakini teori-teori attachment yang ada di atas. Jelas ketika saya siap untuk punya anak, ya berarti kesiapannya diwujudkan dengan menjadi full time mother. Dan bukan menaruh anak ke day-care. Tapi mah ya itu untuk saya pribadi. Kalau untuk orang lain, ya terserah mana baiknya. Nah kalau saya sendiri gak mau memasukkan (calon) anak saya (nantinya) ke day-care masa ya saya buat day-care. Gak lucu amat.

Dan saya rasa bukan berarti ketika saya gak buka day-care itu saya gak peduli dengan perkembangan anak usia dini. Peduli dong, peduli banget. Tapi ya cara dan sudut pandangannya berbeda. Justru Rainbow Castle ini mencoba untuk mengakomodir semua orang. Ibu bekerja, Ibu rumah tangga, bapak bekerja, bapak rumah tangga, calon bapak-ibu, semuanya lah. Lewat Rainbow Castle kami ingin berbagi cara bermain yang tepat untuk anak. Bagaimana orang tua bisa memaksimalkan waktu yang terbatas bersama anak secara berkualitas, yaitu lewat bermain. Sehingga justru cocok untuk orang tua yang bekerja.

Jadi habis ini jangan ada yang nanya lagi ya, kenapa saya gak buat day-care. (Hehe edisi agak-agak gemes dengan pertanyaan yang diajukan orang-orang). No offense ya ✌️

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s