13 Februari 2015

IMG_0734

 

13 Februari 2015,

Saya rasa, tingkatan tertinggi dari rasa sakit adalah mati rasa.

Saat kita memilih berjarak dari rasa sakit itu sendiri, yang justru merupakan indikasi dari rasa sakit yang terlalu pilu untuk dirasakan.
Saya baru membaca penelitian tentang PSK. Ada dari beberapa PSK itu yang setelah sekian tahun menggeluti pekerjaannya, mengalami mati rasa di berbagai anggota tubuhnya (termasuk alat kelamin). Setelah mereka mengalami mati rasa (dan semakin banyak area anggota tubuh yang mati rasa), justru semakin tinggi kemungkinan mereka untuk terlibat dengan penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan percobaan bunuh diri.
Mungkin kita (saya sih) merasa bahwa ketika seseorang mati rasa ia bebas dari rasa sakitnya. Tapi mungkin justru sebaliknya. Mati rasa adalah tingkatan tertinggi dari rasa sakit. Mati rasa adalah pertahanan diri seseorang ketika ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi rasa sakit. Namun nyatanya rasa sakit itu akan terus ada. Rasa sakit itu terus mencari tempatnya berlabuh, tepat ataupun tidak tepat. Yang terwujud dalam keinginan untuk menyakiti diri dengan obat-obatan terlarang dan bunuh diri pada PSK itu, misalnya.
Sehingga bersyukur jika masih diberikan warna-warni rasa.

#365HariBersyukur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s