Financial Literacy (parental guide)

Saya ingat salah satu novel favorit saya. Shopaholic. Disitu diceritakan tentang seseorang bernama Becky. Ia adalah seseorang yang sangat pintar tapi tidak pandai mengatur uang, dan menahan dorongan belanja. Akhirnya, ia pun memiliki banyak hutang. Saya gemes banget bacanya. Terutama kalau ingat dia tuh pintar, tapi banyak hutang karena gak bisa mengerem hawa nafsu untuk belanja. Dari situ saya tersadar, bahwa banyak orang yang memiliki hutang pun sebenarnya orang yang pintar tapi kurang bisa mengelola uang. Jadi pintar saja tidak menjamin seseorang bebas hutang.

 

Oleh karena itu melek finansial sangatlah penting. Mengetahui dan memahami fungsi uang penting dimiliki sejak dini. Agar ketika dewasa pun, anak dapat mengelola uang secara benar, dan tidak terlibat hutang yang tidak bisa ia bayar. Walaupun hal ini penting, sayangnya di sekolah tidak ada pelajarannya, sehingga peran orang tua menjadi sangat penting untuk anak memahami hal ini.

 

Untuk mengenalkan konsep uang, orang tua dapat membantu anak dengan melakukan berbagai kegiatan, seperti :

main monopoli

main supermarket-supermarketan (Sekarang sudah ada mainan yang ada tempat kayak kasir dan bisa menyimpan uang mainan)

baca buku anak yang bertema financial / tokohnya melakukan jual beli. Ini daftarnya (tapi buku luar) : http://www.jumpstart.org/assets/State-Sites/PA/files/ACF9AF3.pdf Buku berbahasa indonesia ada tapi terjemahan, yaitu seri genius matematika

– Anak diberi kegiatan yang membuat ia terlibat dengan uang. Misalnya, meminta anak membeli barang ke warung, menyiapkan uang tol, dst.

 

 

Setelah anak sudah bersekolah, salah satu latihan mengenal uang pun dapat dilakukan melalui pemberian uang jajan. Tapi.. sebelum mengenalkan anak dengan uang jajan, perlu untuk tahu apakah anak sudah :

Mengenal konsep uang secara sederhana. Misalnya : anak tahu bahwa 1.000 lebih besar daripada 500? Uang 500 bisa beli 1 permen, dan uang 1.000 bisa beli 2 permen? Sudah mengerti 10 kue lebih banyak dari 5 kue? Untuk merangsang pengenalan tersebut, orang tua dapat mulai mengenalkan konsep uang secara sederhana. Misalnya, memberitahu anak kalau baru saja membeli tempe dengan uang 5.000 (sambil dikasih lihat uangnya). Sedangkan kalau beli telur pakai uang 20.000. Dengan memberi tahu secara konsisten, anak bisa terbiasa mengerti konsep uang untuk jual beli beserta nominalnya.

Tujuan orang tua memberikan uang jajan, dan anak sendiri sudah tahu belum tujuan orang tua memberikan uang jajan. Apakah sekedar tren karena teman2nya juga semua dikasih? Apa ingin melatih tanggung jawab, dan seterusnya.

Dapat meregulasi diri. Misalnya apakah anak dapat menahan diri saat keinginannya tidak dipenuhi? Apakah anak cenderung bertindak tanpa berpikir panjang, dst. Jika regulasi dirinya belum terbentuk, maka bisa jadi saat dikasih uang jajan mingguan, eh uang jajan sudah habis. Tenang, kalau seperti itu bisa dilatih perlana-lahan kok. Misalnya, mulai dengan memberikan uang secara harian (dan bukan dengan mingguan, apalagi bulanan). Ajak anak sehari sebelumnya untuk membayangkan kira-kira akan membeli apa di hari esok dengan uang yang diberikan. Jadi anak juga berpikir cukup atau tidak uangnya. Jika anak berhasil untuk jajan sesuai target (bahkan menabung), puji dia. Jika kira-kira dalam beberapa minggu, ia dapat jajan sesuai target terus. Maka, bisa dinaikkan menjadi tiga hari sekali misalnya. Disini anak juga belajar regulasi diri dan perencanaan, yang penting untuk bekalnya di masa yang akan datang.

 

 

Ketika akan memberikan uang jajan pun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yatitu :

Perlu / tidak. Sudah perlu atau belum. Apakah anak bisa diberi bekal saja (jika tujuannya mengganjal perut) atau tidak. Jadi penting untuk mendefinisikan tujuan memberikan uang jajan. Anak pun harus tahu tujuan orang tua memberikan uang jajan.

Jumlah. Jangan sampai kelebihan atau kekurangan. Kalau perlu ortu survey harga makanan di kantin dan jenisnya. Misalnya bisa juga digabung, bawa bekal dan uang jajan (tapi uang jajan dikit).

Kekompakan antara ayah dan ibu, baik dalam soal manajemen uang, barang-barang yang boleh dibeli, uang jajan, tujuan memberikan uang, dst. Sehingga anak tidak bingung dalam melaksanakan aturan terkait uang jajan dan keuangan.

Ajak anak diskusi soal menabung uang jajan. Seperti kenapa dan bagaimana caranya. Lebih baik, jika anak juga didorong untuk berdonasi dari uang tabungan. Contohnya adik saya ya (karena belum punya anak hihi). Dia umur 8 tahun. Dari dia kecil kalau saya lagi donasi kemana, saya kasih tau dia, beserta alasannya (kenapa saya memilih satu tempat dan bukan tempat yang lain). Akhirnya ketika ia punya uang jajan, ia pun berkeinginan tanpa disuruh untuk ikut donasi ketika saya donasi.

Beri pujian ketika anak dapat menabung agar ia lebih semangat.

 

**

Nah itu tadi di atas sebenarnya materi saat saya menjadi pemateri (sejak tahun ini memang bertekad untuk lebih rapih mendokumentasikan saat saya menjadi pemateri, agar lebih banyak orang yang bisa saling belajar dan berdiskusi). Berikut ini beberapa pertanyaan yang ada dan jawaban dari saya (kalau ada yang mau bertanya yang lain, juga boleh loh) :

 

Dulu ketika SD, awal dikasih uang mingguan saya kalap. Jadi yang harusnya seminggu habis 2hari. Apa yang harus dilakukan orang tua ketika terjadi hal ini?

Harus mengenali regulasi diri anak dulu. Kalau kayaknya seminggu habis, berarti belum (bukan berarti gak bisa) bisa. mengatur uang. Jika begitu, mulai dengan memberikan uang secara harian. Ajak anak sehari sebelumnya untuk membayangkan kira-kira akan membeli apa di hari esok dengan uang yang diberikan. Jadi anak diajak berpikir juga, apakah cukup atau tidak uangnya. Jika anak berhasil untuk jajan sesuai target (bahkan menabung), puji dia. Jika kira-kira dalam beberapa minggu, ia dapat jajan sesuai target terus. Maka, bisa dinaikkan menjadi tiga hari sekali misalnya. Disini anak juga belajar regulasi diri dan perencanaan, yang penting untuk bekalnya di masa yang akan datang.

 

Jika mengajarkan anak mencari uang sejak kecil. Misal saya ajak jualan di pasar, supaya bisa belajar belanja sekaligus mencari uang. Dan hasilnya nanti di investasikan juga untuk keperluan anak. Boleh tidak?
Mungkin itu bisa dilakukan di usia sekolah ya (7 tahun ke atas), ketika pemikirannya sudah lebih matang. Itu pun dilakukan tidak sering-sering (misal weekend) dan untuk barang yang sederhana. Jika diaplikasikan dengan tepat, justru anak bisa belajar banyak hal, seperti konsep jual beli dan melatih komunikasi dua arah.

 

Bagaimana mengatasi anak usia 2 tahun yang menangis saat meminta dibelikan mainan tidak kita turuti ?
2 tahun adalah masa toddler yang memang masanya anak sering tantrum. Jika itu terjadi, maka sebelum pergi (saat ia tenang, dan bukan dalam suasan bad mood), dijelaskan. Misalnya kita ke mall untuk belanja bulanan jadi tidak akan beli mainan (atau beli mainan satu, sesuai kesepakatan). Nah, ketika dia menangis, maka diamkan saja. Tidak usah dimarahi atau dijelaskan saat itu karena ia tidak akan mendengarkannya. Saat di rumah dan sudah tenang, diterangkan lagi tentang hal tersebut. Dan saat di kesempatan lain, anak berhasil untuk tidak menangis saat meminta mainan, dipuji. Nanti kalau konsisten, lama-kelamaan perilaku anak akan menurun.

 

Sejak usia berapa anak dikenalkan uang?
Dikenalkan uang setelah anak sudah mengerti tentang konsep angka dan hitung. Misalnya sudah mengerti 10 kue lebih banyak dari 5 kue. Untuk merangsang pengenalan tersebut, orang tua dapat mulai mengenalkan konsep uang secara sederhana. Misalnya, memberitahu anak kalau habis beli tempe dengan uang 5.000 (sambil dikasih lihat uangnya). Sedangkan kalau beli telur pakai uang 20.000. Dengan kasih tahu secara konsisten, anak bisa terbiasa mengerti konsep uang untuk jual beli beserta nominalnya. Bisa juga melalui buku bacaan, yang tokohnya melakukan jual beli.

 

Sejak kapan anak diberitahu mana yang boleh dibeli dan tidak?

Sedari dini, anak sudah mulai dapat diajarkan tentang barang yang boleh dibeli dan tidak. Misalnya diajak untuk belanja bulanan. Sebelum belanja, kasih tahu akan belanja apa saja. Anak juga bisa diminta untuk mengambilkan barang yang ada. Jadi ia terbiasa dengan barang yang biasa dibeli. Bisa juga saat belanja bulanan dan ngelewatin rak barang yang dihindari (misalnya mie instant) sekalian dikasih tahu ke anak kenapa gak beli itu, sehingga anak terbiasa dan tahu barang itu memang tidak dibeli / diminimalisir untuk dibeli.

 

Bagaimana manajemen/treatment pengaturan keuangan untuk anak perempuan dan anak laki? Kalo dari segi ayah, perannya seperti apa dalam penerapannya?
Kalau menurut saya sama saja untuk anak perempuan dan laki, tidak perlu dibedakan. Karena setiap orang kan pada akhirnya, saat dewasa, memang perlu bertanggung jawab dengan keuangannya masing-masing. Peran ayah dan ibu pun sama. Kalau bisa ayah dan ibu kompak dalam soal manajemen uang, barang-barang yang boleh dibeli, uang jajan, tujuan memberikan uang, dst. Sehingga anak tidak bingung dalam melaksanakan aturan terkait keuangan.

 

Uang jajan seolah sudah menjadi kewajiban ortu terhadap anaknya dr mulai sekolah TK sampai mereka bekerja. Bagaimana mengarahkan anak untuk tidak perlu uang jajan dan bawa bekal saja?
Jika memang menurut orang tua uang saku tidak urgent, maka ya tidak apa-apa. Namun dibiasakan sejak dini dari anak, diberitahukan ke anak alasannya (sehingga anak tidak kesal saat melihat teman-temannya mendapat uang jajan dan dia tidak), dibiasakan untuk mendapatkan pengalaman sehubungan dengan uang dan jual beli dengan cara yang lain (karena anak tetap perlu melek secara finansial, walaupun tidak dengan uang jajan, mungkin ia bisa sering diminta ke warung atau membayar di kasir saat di swalayan, dst).

 

Seperti apakah sistem pembagian uang jajan/belanja barang yg adil utk kakak dan adik? Dan bagaimana mengedukasi anak terkait konsep adil tersebut?
Tergantung dari umur anaknya, tapi kalau bisa sekongkrit mungkin, apalagi untuk anak pra sekolah (dibawah 7 tahun). Misalnya bisa sama-sama diskusi (pakai gambar lebih bagus jadi lebih terbayang), kakak berangkat dan pulang sekolah jam berapa, adik jam berapa. Dari situ kan sudah beda. Terus dieksplor perbedaan-perbedaan lainnya. Sehingga jadi masuk akal kalau uang jajannya berbeda antara kakak dan adik.

 

 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Financial Literacy (parental guide)

  1. Mantap Mbak…artikelnya komplit bsnget ttg bgmn mengajari si anak mengenal konsep uang.. Memang anak2 sebaiknya sejak belia kita ajari mengenal konsep uang shg bila dia dewasa sdh bisa memanage keuangannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s