#TGIF 10

Lucu,

saat sedang keluar buku baru Rabbit Hole, kebetulan sekali silih berganti yang datang bekerjasama dan menawarkan untuk memberikan free booth ke Rabbit Hole. Alhamdulillah. Terimakasih sekali!

Nah.. lewat beberapa kali menjaga stand Rabbit Hole, saya jadi belajar bahwa ada beragam orang dengan macam-macam karakteristik yang membuat saya semakin memahami tingkah laku unik orang-orang.

Salah satu yang sangat melekat dalam ingatan saya adalah saat ada seorang lelaki yang datang dan langsung membolak-balik buku yang memang ada di display. Seraya membolak-balik, ia bertanya berbagai hal ke saya. Seperti layaknya pengunjung lain, sebenarnya. Sampai ia bertanya dengan mendetail tentang kualitas dan kredibilitas dari buku yang dibuat dari Rabbit Hole. Nanyanya teramat sangat tidak santai. Bahkan dosen penguji tesis saya saja kalah rasanya. Panas saya dibuatnya. Saya pun dengan songongnya bilang bahwa saya adalah psikolog anak. Jadi saya tahu betul apa yang saya buat di dalam buku itu. Menyesal saya kenapa harus saya ikutan panas. Tapi sudahlah.

Namun ia tidak berhenti sampai disitu. Ia mengkritik hal-hal lain yang bisa dikritik. Untung saya bisa mengendalikan diri saya dan akhirnya terus-menerus berkata ‘Baik pak. Terimakasih banyak atas masukkannya ya. Akan diperhatikan untuk pengembangan selanjutnya‘. Itu berkali-kali saya ucapkan, karena ia tidak berhenti-hentinya bicara dengan nada yang sangat tidak santai. Bahkan sampai menyuruh saya mencium buku saya sendiri, dan saat saya bilang saya tidak merasakan hal yang salah, ia mencium kembali buku saya dan menjauhkannya dengan terlihat jijik. Sampai gak tahu ya, dia sadar mungkin atau bagaimana, nada bicaranya menurun. Ia pun terakhir berkata ‘Iya, tadi mbak kan bilang mbak psikolog anak kan? Saya percaya soal isinya (padahal sebelum saya bilang saya psikolog, dia awalnya mengkritik habis-habisan isinya sebelum benar-benar membacanya). Tapi bahan kertasnya ini loh. Ini aman gak buat anak? Saya cuman nanya aja‘. Begitu kira-kira dan saya ulangi lagi kata-kata saya. Dan terus dia pergi.

**

Saya sangat terbuka dengan kritik. Bahkan untuk usaha yang saya juga masih teramat hijau seperti ini, kritik merupakan hal yang sangat perlu saya dapatkan. Untuk membuat saya lebih meningkatkan kualitas. Tapi.. kenapa ya sebagian orang Indonesia itu pintar mencari celah kesalahan orang lain, namun tidak pandai untuk menyampaikan saran dan kritik mereka. Seperti pernah saya tulis disini. Mungkin ya.. kita tidak dibiasakan untuk dilatih berdebat dengan baik. Kita belajar berdebat sendiri saja, tanpa ada yang benar-benar melatih.

Saya ingat, saat saya masih sekolah dulu soal-soal ujian hanya mengulang apa yang sudah tercantum di buku. Sehingga  bagus atau tidaknya nilai, hanya bergantung pada baik atau tidaknya kita menghafal materi. Saat sudah kuliah, menjadi lebih menarik, sebenarnya. Dengan membuat essay. Misalnya dengan mengkritisasi sebuah fenomena. Melatih penalaran kita dengan lebih baik. Tapi ya begitu, sayangnya. Tugas dikumpulin begitu saja, dan tiba-tiba keluar nilai saat akhir semester. Tanpa saya benar-benar tahu darimana nilai itu berasal. Argumen mana dari saya yang sudah baik, dan masih perlu untuk ditingkatkan. Cara penulisan saya yang mana yang sudah baik dan mana yang perlu diperbaiki. Semua itu hanya diwakili dengan nilai atau huruf, tanpa saya benar-benar tahu. Nah.. dengan sistem itu, mungkin tidak mengherankan menyampaikan pendapat menjadi sebuah kualitas yang langka dimiliki kita, orang Indonesia (over generalisasi gak ya?).

Saya coba ingat-ingat apa yang sebenarnya ingin disampaikan bapak itu? Sebenarnya mungkin maksudnya baik. Ia ingin membuat saya lebih jeli dan kritis saat menentukan jenis kertas saat membuat buku. Ia ingin saya membuat produk yang lebih baik. Tapi.. semua itu tertutupi dengan nada bicaranya yang (menurut saya) menyebalkan. Nah, itu mungkin ya yang akhirnya menyebabkan banyak orang ribut dan gontok-gontakkan. Kekurangbisaan untuk menyampaikan pendapat dengan baik menyebabkan pihak lawan bicara sebal, dan akhirnya DUMM! konflik lah yang terjadi.

Namun lewat bapak itu, saya menjadi belajar untuk lebih jeli memahami makna dibalik komunikasi yang diutarakan orang lain. Tidak ditelan bulat-bulat saja. Tidak langsung terpancing amarah begitu saja.

Lewat bapak itu, saya menjadi belajar untuk lebih berhati-hati saat menyampaikan kritik dan saran. Dengan penyampaian yang tidak tepat, bukan tidak mungkin pesan tidak sampai. Namun lebih dari itu, si lawan bicara justru sebal duluan dengan kita, dan tidak benar-benar menangkap isi pesannya.

Lewat bapak itu, saya diingatkan bahwa kemampuan berkomunikasi dan menyampaikan pendapat adalah hal yang teramat penting. Kemampuan yang harus diajarkan sejak awal-awal kehidupan dan dilatih terus-menerus bagi seorang anak. Bukan ujung-ujung langsung diminta bisa saat ia sudah dewasa dan bekerja.

Terimakasih pak. Lewat Anda, saya justru belajar banyak hal! 🙂

 

PS : Rapel TGIF-nya karena minggu lalu belum buat. Hoho.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s