Bis

Waktu kuliah dulu, salah satu saat favorit adalah kala bis patas AC melesat dan berhenti tepat di depanku, yang sedang berdiri menunggu di tengah dentuman bunyi hujan di atas halte. Belum lama aku duduk, sudah ada seorang gondrong yang datang, memetik gitar, dan menyanyikan lagu Oasis!

Benar-benar saat yang sempurna!

Jika itu terjadi, bagaimana mungkin kamu tidak ingin merogoh kantung dan mengeluarkan uang sebagai tanda apresiasi pada si lelaki, yang dengan tidak kerennya sering disebut dengan titel pengamen. Ah tapi apalah artinya label. Ternyata, banyak pula orang yang merogoh kocek. Dan bukan receh yang mereka berikan, melainkan lembaran-lembaran kertas.

Kemudian lain hari, ada kalanya bis patas AC tidak datang sehingga saya harus naik angkot diteruskan dengan bis metromini. Kala itu, terkadang ada serombongan lelaki datang. Sama-sama gondrong. Namun bukan alunan merdu yang keluar dari mulut mereka, melainkan suara parau yang berisikan kedengkian, kekecewan, amarah, kelelahan, dan campuran emosi lain entah apa. Tentang negara. Tentang kami yang duduk di bangku penumpang. Tentang segala hal. Belum cukup rasanya emosi negatif mereka tersalurkan, mereka keluarkan benda tajam dan mereka taruh ke tangan mereka. Entah benar dihujamkan ke tangan mereka, entah hanya sekadar gertakan sambal. Saya tidak benar-benar melihat. Tidak benar-benar peduli tepatnya.

Namun yang menarik adalah,

Dengan atraksi mereka yang fenomenal, tidak banyak yang mau bersusah-payah memberikan duit. Bahkan sereceh dua receh. Kalau pun ada, mungkin setelah dipelototi dan diteriaki. Itu pun tidak banyak.

Jadi apa kesimpulannya?

Bahwa gertakan, amarah, dan segala hal yang membuat takut, belum tentu akan mendorong orang untuk melakukan apa yang kita inginkan. Sebaliknya keindahan, kelembutan, dan kasih sayang, justru membawa orang untuk ikhlas memberikan apa yang kita inginkan, bahkan mungkin lebih dari yang kita inginkan.

Itu menurut saya sih. Bagaimana menurut kamu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s