Kesalahan berbisnis orang Indonesia

Yang aku pelajarin selama ini, ada dua kesalahan berbisnis orang Indonesia (aku juga gak bilang kalau aku jago ya. Tapi seenggaknya please jangan lakuin kedua hal ini di awal mulai berbisnis. Kalau gak bisa dipastikan bisnisnya bubar jalan / gak bertahan dalam waktu yang lama) :

1. Harus banget bareng-bareng.

Aku gak ngerti juga sih hubungannya antara masyarakat Timur dengan budaya bareng-bareng. Tapi dari kecil kita sudah dididik dengan kesannya nista bareng kalau gak beramean dalam hal apapun. Makan sendirian dicengin, ke bioskop sendirian apalagi. Begitu juga dalam berbisnis. Harus banget kayaknya rame-rame. Padahal belum tentu efektif. Belum tentu yang banyak itu dibutuhin. Salah-salah justru itu jadi bumerang. Karena belum apa-apa si ini udah mau ini, si itu udah mau anu, berantem deh dan tidak ketemu konsep. Belum lagi kita budayanya basa-basi. Nah jadi kelamaan di basa-basinya, rapat rapat rapat tanpa eksekusi, terus hasilnya nothing. Dan paling parah budaya gak enakan. Mau gak mau untuk jalan, ya.. harus ada satu yang memimpin, dan bukan yang lain harus nurut-nurut aja sih, tapi ya itu harus ada yang bisa ngambil keputusan kalau keadaan darurat atau terlalu berlaru-larut, biar gak mandek disitu aja. Sayangnya dengan gak enakan itu, omongnya di belakang, hasil di depannya gak dapet. Jadi itu kira-kira rentetan dari kebersamaan. Panjang ya? Gak selesai-selesai. Dan gak jalan-jalan juga sih bro akhirnya.

2. Harus banget semuanya ada.

Lah emang kita toko kelontong, yang semuanya harus ada? Kesannya kalau kita gak menyediakan semua fasilitas kita tidak utuh dan gak oke bisnisnya. Aku pernah ngobrol dengan beberapa orang yang ingin membuka klinik psikologi kayak aku. Yang ada di bayangan mereka sama persis : harus ada pelayanan buat anak, orang dewasa, sekolah, dan perusahaan. Pokoknya lengkap. Padahal mah sebagai psikolog pun kita dijurusin yang mana kita juga gak menguasai semua bidang. Kenapa gak mulai dari bidang yang kita tahu aja? Buat itu menjadi one of the kind, mewah, dan cari keunikannya. Karena kita menguasai banget bidangnya. Masalah anak sendiri juga buanyak banget dan gak semua bisa dikuasai (kayak aku, gak jago banget handle remaja. Jadi kalau punya jangan dibawa ke aku ya. Trust me). Nah terus kalau ada yang bilang, ya itulah gunanya kerjasama, kita partneran sama psikolog-psikolog lain yang handal di bidangnya. Nah itu balik lagi sih ke point nomor 1. Intinya kalau lo punya bisnis, dan udah bagi-bagi kue dari awal. Maksudnya bagi-bagi porsi kerjaan utama ke orang lain. Kayaknya akan bubar jalan. Karena gak ada kapten kapalnya yang ngerti secara keseluruhan. Jadi pilih bisnis yang memang kamu kuasain banget. Kalau kamu udah pikir bagi-bagi kue dari awal. Hmmm.. semua jadi awak dong, kaptennya siapa?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s