Hari Disabilitas Internasional

SLB.

Atau sekolah luar biasa.

Apa yang pertama kali terlintas dalam benak saat pertama kali mendengarnya?

 

Saya sering sekali mendengar berbagai macam stereotip negatif tentang SLB. Sehingga merupakan tantangan besar saat saya mengiyakan tawaran untuk menjadi psikolog di SLB, sebenarnya. Namun saya punya mimpi, untuk bisa mengedukasi orang-orang tentang peran SLB agar anak-anak Indonesia mendapatkan edukasi yang tepat.

 

Sering saya mendapati banyak orang tua yang ‘keukeuh’ anaknya masuk ke sekolah umum, padahal secara kapasitas intelektual ia seharusnya masuk ke SLB. Hal tersebut karena gambaran SLB yang sudah terlanjur buruk. Akibatnya, anak tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah umum dan kemampuannya tidak berkembang. Justru semakin malu karena gap kemampuan antara ia dan teman-temannya menjadi semakin besar. Tapi orang tua – orang tua ini tidak dapat disalahkan. SLB, terutama SLB negeri, memang sering kali kekurangan fasilitas yang memadai untuk dapat memaksimalkan potensi anak didiknya 😦 Untuk itu, saya ingin sekali SLB punya fasilitas yang mumpuni.

 

Mimpi saya sedikit demi sedikit terwujud.

SLBN 7 Jakarta, tempat saya sekarang bekerja, telah memiliki beberapa fasilitas terapi. Berkat kebaikan hati yang tulus, beberapa teman-teman saya yang punya keahlian luar biasa mau datang dan memberikan terapi. Saat ini sudah rutin berlangsung :

Yoga untuk Anak Berkebutuhan Khusus dari Mbak Ika

By_6lBmCQAET398

Terapi Bermain dari Wiliana dan Elitha (dan aku sendiri sih. Hehe)

3736 3737 3738 3739 3740 3741

dan Terapi Interaksi Orang tua – Anak (PCIT) dari Devi Sani dan aku lagi. Hehe.
Satu bulan yang lalu, teman saya dari Dream Bender juga memberikan alat bernama Isara. Sebuah kamus elektronik untuk anak tuna rungu.

3732

3727

3726  3730

Selain itu, sekarang beberapa dari anak di SLB berlatih membuat batik, yang diharapkan dapat dijual dan nantinya bisa untuk menjadi penunjang kemandirian mereka. Agar mereka bisa mandiri dan tidak bergantung (atau paling tidak membutuhkan bantuan yang minimal saja) pada orang lain.

3841 3842 3843 3845

Sekarang saya pun sedang getol-getolnya mencari orang-orang yang dapat mengajarkan dan membina mereka, untuk memiliki keahlian, agar mereka dapat berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Yah untuk kesana memang masih banyak sekali hal yang perlu ditambah dan dibenahi. Ya, saya sadar. Sabar. Satu persatu.

Semoga setelah ini semakin banyak orang yang membantu mengulurkan tangan agar mereka dapat berdiri tegak dan mandiri. Yuk kita bersama-sama membantu mereka.

Momentnya pas sekali hari ini. Hari Disabilitas Internasional. Semoga sejak hari ini banyak orang sadar dan benar-benar meresapi arti dari disabilitas. Lalu bersama-sama kita membantu teman-teman kita yang mengalami disabilitas.

Selamat hari disabilitas international!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s