Belajar Marketing

Ngeri-ngeri sedap.

Kira-kira begitulah pengalaman punya sebuah start-up. Memulai dari 0 dan melakukan (hampir) segalanya sendiri, membuat banyak sekali hal-hal baru yang harus dilakukan dan dipelajari. Tapi disitulah serunya! 🙂

Begitu juga saat Rabbit Hole akhirnya memutuskan menjual buku dalam bentuk cetak secara massal. Proses produksi dan percetakannya itu ada keseruannya sendiri. Tapi sekarang saya mau berbagi beberapa hal yang saya pelajari dalam proses memasarkan buku-buku ini, yaitu :

1) Unpredictable
Saya orang yang paling tidak basa-basi dan paling sebal kalau ada orang jualan ke saya. Apalagi kalau dagangannya gak menarik minta saya. Nah, sekarang kena batunya deh. Harus jualan dan menawarkan pada orang-orang yang sebenarnya gak terlalu dekat. Tapi dari situ saya baru tahu. Kita gak akan bisa berasumsi. Yang saya kira (hampir) pasti beli buku saya, ternyata gak beli. Lalu ada orang lain yang saya kira pasti gak akan mau beli buku saya, tapi dicoba-coba sajalah, eh ternyata beli lebih dari satu. Malah menyebarkan ke orang-orang lain. Ajaib banget ya. Jadi jangan pernah berasumsi. Eh asumsi boleh sih, yang gak boleh sotoy. Hehe..

2) Terlalu idealis
Saya tuh kadang (sering sih. Eh hampir pasti sih. Ya gitu deh) kalau udah yakin dengan suatu hal, suka gak mau melihat alternatif lainnya. Sama dengan penjualan buku cetak ini. Tadinya saya tidak mau melakukannya, dan keukeh dongeng masal yang diterbitkan Rabbit Hole hanya dalam bentuk digital. Tapi tiba-tiba saya memutar setir dan memutuskan untuk mencetak buku sembari menunggu versi digital. Eh ternyata, gak nyangka, bukunya lumayan laris dan justru memperbesar market. Lebih banyak orang yang tahu dan suka Rabbit Hole, jadi lebih banyak juga yang nungguin versi digitalnya, dibanding sebelum gak dibuat versi cetaknya. Hihi. Makanya gak boleh pakai kacamata kuda kalau punya start-up. Selama gak bertentangan dengan idealisme sih sebenarnya kita harus membuka selebar-lebarnya cabang jalan-jalan yang akan kita lalui.

3) Sok terkenal
Alhamdulillah ya setahun belakangan ini Rabbit Hole diliput beberapa media. Tapi hal tersebut mungkin membuat saya jumawa dan lupa diri. Menganggap sudah banyak yang tahu tentang Rabbit Hole. Ih padahal enggak juga. Bisa aja yang konsumsi media-media itu, dia lagi dia lagi. Jadi gak banyak juga exposurenya. Hehe.
Setelah memasarkan sendiri buku-buku ini saya baru sadar akan hal itu. Masih buanyak banget orang yang belum tahu tentang Rabbit Hole. Jadi jangan cepat berpuas diri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s