Kenapa homeschooling?

*ini tulisan kedua, tulisan pertama terhapus karena kedodolan saya (sigh)*

Waktu saya ke IIBF (Indonesia International Book Fair) untuk mencari-cari inspirasi cover buku, ternyata bertepatan dengan talkshownya Rhenald Khasali (yang mana saya ngefans banget dengan beliau. Kya..). Dan benar saja, setiap kata yang keluar dari mulutnya tuh benar-benar bikin saya berpikir ‘benar banget!’. Salah satu yang melekat dalam ingatan saya adalah saat ia mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya perkara kognitif saja. Dan itu seperti menyempurnakan pemikiran saya tentang homeschooling. Kalau dirangkum lagi seperti ini :

Kenapa saya ingin (calon) anak saya homeschooling? (iya.. emang belum nikah sih, tapi berpikir panjang ke depan saja dari sekarang, gapapa lah ya? :p )

Pemikiran awalnya bisa dilihat disini. Kesimpulan yang lain adalah pendidikan dini sejatinya adalah pendidikan karakter. Ibaratnya kita membangun rumah, yang dibangun sebelumnya kan kerangkanya atau fondasinya. Kalau ingin cepat-cepat mengecat tembok saja, ya bisa. Tapi nanti bangunannya gak kokoh. Cepat jadi tapi nanti cepat roboh jogo.

Nah, ini mirip dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Anak-anak sepertinya diburu-buru untuk bisa segala hal sejak dini. Terburu-buru untuk dimasukkan ke institusi pendidikan sejak dini. Metode-metode canggih dikeluarkan demi agar anak bisa menguasai kemampuan membaca dan menulis sejak usia dini. Tapi untuk apa? Cepat apakah berarti baik? Ya belum tentu.

Karena di usia anak yang masih dini, dunia anak adalah dunia bermain. Jadi anak belajar maksimal pun ya dengan bermain. Kalau dipaksa duduk manis di depan meja, ya bisa-bisa saja sih. Tapi akhirnya gak maksimal. Akhirnya ia menjadi anak yang bisa membaca dan menulis, tapi tidak mencintai kedua hal tersebut. Padahal bukankah dengan cinta kita akan berusaha untuk mampu? Namun mampu, belum berarti kita akan cinta?

Ini yang saya kira salah kaprah dalam pendidikan di Indonesia. Ini yang saya tidak mau anak-anak saya nantinya dapatkan. Generasi yang hanya bisa, tapi tidak tahu bisanya untuk apa. Bukan tidak mungkin, di satu titik, akan mempertanyakan ‘lalu aku sekolah untuk apa?‘ dan akhirnya memutuskan untuk tidak bersekolah lagi. Karena tidak ada keuntungan yang didapatkan dari bersekolah.

Saya ingin anak-anak saya sedari dini belajar dahulu karakter-karakter yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pembelajar, bukan menggelontarkan ilmunya secara mentah-mentah. Fondasi terlebih dahulu. Belajar yang didahului melalui bermain. Belajar yang didapatkan dari pengalaman sehari-hari. Seperti belajar huruf O, dari donat yang bentuknya mirip huruf O, dan dimakan sambil tertawa-tawa. Dibandingkan belajar huruf O yang diulang-ulang dari deretan huruf O dalam kertas di atas sebuah meja ruang les. Butuh proses lebih lama, mungkin. Belajar huruf di tempat les, mungkin hanya 2 bulan bisa anak kuasai. Tapi belajar huruf lewat keseharian butuh waktu yang lama dan merepotkan. Tapi bukankah tidak ada hal indah yang dapat instant? Lagipula jika dijalankan dengan hati yang riang, tidak akan terasa seperti belajar. Melainkan hanya main dengan anak sehari-hari namun anak mendapat banyak hal yang dapat ia pelajari. Proses yang terus-menerus dan akan lebih melekat dalam ingatannya. Ingatan untuk belajar dengan suasana yang menyenangkan. Sehingga ia ingin lagi dan lagi. Menagih.

Belajar yang menyenangkan yang pada akhirnya membuat ia menjadi seseorang yang mau mencari tahu, kritis, dan kreatif. Belajar untuk tahu bahwa ketika ia mencari ilmu, maka itu adalah bermanfaat untuk kepentingan dirinya sendiri (yang nantinya juga bermanfaat bagi orang lain). Sehingga ia pun akan belajar tanpa adanya paksaan. Malah ia yang bersemangat agar orang-orang di sekitarnya bertukar pikiran dan berbagi ilmu dengannya.

Proses pembelajaran yang belum saya temukan di sekolah-sekolah di Indoenesia (setidaknya untuk saat ini. semoga nantinya ada. atau mungkin sayanya saja yang belum tahu).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s