#TGIF 1

Saya tidak pandai merasa, apalagi berbicara tentang duka. Jadi bukan itu yang akan saya bicarakan disini.

Tapi saya akan bicara mengenai kematian. Kematian yang seharusnya memicu duka. Namun, ada hal lain yang turut terpancing akibat kabar kematian baru-baru ini.

Malam itu, saya mendapat kabar bahwa Om Arief meninggal dunia.

Om Arief adalah orang yang membuatkan music dan scoring apps Rabbit Hole yang terbaru. Saya hanya satu kali bertemu dengannya. Selebihnya komunikasi dengannya menggunakan perantara orang lain. Jadi terbayangkan kan ketidakdekatan hubungan saya dan dia. Tapi setahu dan sepenglihatan saya, Om Arief segar bugar dan tidak ada riwayat penyakit apapun yang gawat. Jadi kabar itu cukup membuat saya berpikir, sebenarnya.

Setelah beberapa saat mencerna, saya lalu merutuki diri saya sendiri. Om Arief mengirimkan materi music dan scoring awal September. Yang seharusnya langsung saya feedback. Namun, gunungan pekerjaan dan teralihnya fokus saya kemana-mana, menyebabkan saya pun tidak kunjung membuka email darinya. Padahal untuk feedback (yang sebenarnya tinggal finishing), paling tidak sampai 30 menit, tidak saya lakukan juga. Sampai ia akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Dari kematiannya, saya belajar untuk lebih teratur dan membuat skala prioritas. Bekerja dengan tanpa bos atau tanpa deadline seperti yang saya jalani dua tahun ini terkadang (ehmm.. maksudnya sering kali) membuat fokus saya tercecer kemana-mana. Akhir-akhir ini terasa sekali, saya mengerjakan banyak hal, tapi tidak ada yang selesai. Yang satu dikerjakan 50%, satu 75%, satu 20%, tapi gak ada yang 100%.

Dari kematiannya, saya mulai belajar membuat skala prioritas. Lalu di pagi hari, mulai (mulai ya, jadi belum rutin sih emang), untuk menuliskan apa yang akan saya kerjakan di hari itu beserta checklistnya. Dan memang hidup lebih menenangkan dengan adanya panduan apa yang akan dikerjakan per hari. Sesuatu yang saya sudah tahu sedari dulu, tapi tidak pernah saya sadari itu akan berguna pada diri saya, mengingat saya adalah orang yang tidak menyukai aturan dan kekangan.

Dari kematiannya, saya menyadari dengan sangat bahwa ada hal-hal yang tidak boleh ditunda-tunda. Bahkan sebaiknya memang setiap hal yang bisa langsung dikerjakan, kenapa tidak langsung dikerjakan? Mungkin tidak akan ada yang menagih atau mengeluhkan kelakuan kita. Tapi.. kalau Tuhan yang langsung mengambil alih dan menghentikan segala tindakan kita. Kita bisa apa?

Perlu kematian seorang Om Arief untuk saya menyadari fokus saya yang sangat beleber.

Butuh kabar kematian seseorang untuk membuat saya kembali ke track yang benar.

Ah saya ini.

Btw, tenang di sana ya Om Arief! Terimakasih Om, telah mengajarkan saya pelajaran berharga dan saya perlukan saat ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s