Pendidikan Indonesia

Setelah lulus dan resmi menjadi psikolog, masih ada yang mengganjal dari diri saya. Iya sih, sekarang sudah boleh-boleh saja pasang plang nama. Sudah bisa melakukan banyak hal yang bisa dilakukan psikolog-psikolog lain. Tapi.. apa iya saya benar-benar mampu? Perjuangan dengan darah dan air mata (iya.. emang lebay hoho) ini tidak menjadikan saya sendiri percaya diri saya punya kemampuan yang cukup untuk menolong orang lain, dengan kapasitas saya sebagai psikolog.

Saya pun mengambil training PCIT, yoga, dan akhirnya Play Therapy. Dari situ, ada hal-hal yang saya pelajari. Betapa saya merasa diperlakukan sebagai seorang ‘manusia’, dan untuk pertama kalinya merasa bahagia dan beruntung dengan pelatihan-pelatihan yang saya jalani. Perasaan yang tidak pernah timbul saat sekolah dulu hehe

Saat pertama kali mengikuti pelatihan PCIT, di Amerika pula, saya agak deg-degan dengan role play dan tes yang diberikan tiba-tiba di tengah training. Bahasa Inggrisnya hancur pula. Kemudian teman-teman sekelasnya Phd gitu. Makin melemahlah self-esteem. Tapi tahu gak feedback yang saya dapat setelah role play? Ada yang bilang nyaman main sama saya, pengen main sama saya lagi, dan itu gak sekedar basa-basi, karena setelahnya kami memang menjadi akrab. Padahal saya yakin banget, saya gak segitunya. Hal serupa terjadi lagi saat tes. Kami digilir satu persatu (atau berdua) untuk mempraktekkan apa yang sudah dipelajari. Deg-degan makin menjadi. Kalau gak lulus, malu banget kan. Tapi yang terjadi dalam ruangan, sama sekali gak tegang dan gak seperti tes pada umumnya. Bahkan kalau ada yang salah dikit, yang sepertinya Profesor saya tahu kalau sayanya lagi grogi aja, dipancing-pancing dan dibantuin. Pokoknya benar-benar terlihat pengen banget kita berhasil. Feedback pun fokusnya diberikan pada hal-hal yang positif. Padahal saya yakin banyak hal-hal yang masih harus diperbaiki dari saya. Waktu saya tanya kenapa mereka begitu baik seperti itu (hehe), mereka menjawab bahwa mereka ingin saya merasakan dulu apa yang akan dirasakan klien-klien saya. Bagaimana menyenangkan untuk didorong dan dipuji, agar saya pun nantinya bisa melakukan hal yang serupa dengan mereka. Kalau tidak pernah merasakan rasa menyenangkan, bagaimana saya atau mereka berharap saya bisa melakukan hal yang serupa pada klien? Memang pada PCIT, sebagai terapis sama sekali tidak boleh mengkritik atau memberikan feedback negatif di terapi pertama. Fokus pada hal-hal positif saja. Agar orang tua percaya diri untuk meneruskan terapi. Karena sudah datang dan mau mencoba hal-hal yang selama ini berbeda dengan yang mereka lakukan dan berpayah-payah melatih kemampuan itu, bukan hal yang mudah loh. Dan memang hal tersebut justru mempercepat kemajuan klien pada akhirnya. Beda banget dengan pendidikan di Indonesia. Saya sih merasa disiksa dan dicecar kalau misalnya sedang punya kesalahan. Sepertinya kok saya tidak ada benarnya sama sekali. Hiks.

Tapi well begitulah. Saya merasa mengambil jalan yang tepat untuk ikut training ini dan itu. Jadi saya lebih tahu bagaimana memperlakukan orang lain (dan diperlakukan) dengan tepat. Semoga saya bisa menelurkan semangatnya ke klien-klien saya. Trus dari klien-klien saya ke dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya. Terus akhirnya banyak anak-anak atau orang-orang di Indonesia yang makin bahagia deh. Horreee!!!! šŸ˜€

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s