Pertama

Masyarakat sekarang doyan banget jadi pertama.

Makanya, pembukaan apa gitu, atau ada apa gitu yang baru, langsung diserbu dan diantri berjam-jam oleh banyak orang.

Tapi coba pikir deh :
Rasanya gimana setelah menjadi salah satu dari sekian banyak pertama? Bahagia kah? Atau biasa saja? Asal bisa share di social media dan jadi salah satu yang ikut tren?

Rasanya bagaimana saat kita menjadi yang ‘pertama’ tapi sebenarnya tidak benar-benar pertama? Mengingat ada ratusan orang lain yang juga menjadi yang pertama.

Rasanya bagaimana setelah menjadi pertama saat ini? Lalu minggu depan ada lagi hal baru, dan hal baru yang dengan cepatnya berganti. Dan ‘pertama’ kita hari ini akan segera menguap dengan cepat, karena ada begitu banyak hal menakjubkan, menarik, dan ‘pertama’ akhir-akhir ini.

Rasanya perlu tidak untuk menjadi yang pertama? Butuh tidak? Apakah benar-benar tidak sayang waktunya digunakan untuk mengantri berjam-jam untuk menjadi yang ‘pertama’ padahal bisa melakukan hal-hal lain dan kembali lagi ke tempat yang sama bulan depan tanpa perlu mengantri sebegitu lamanya?

Rasanya bagaimana kalau kita tidak ada disana menjadi yang ‘pertama’? Apakah benar-benar sebegitu patah hatinya? Atau sebenarnya.. biasa saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s