Letters To Aubrey

BxJK8H4CMAEMmZa

‘Letters To Aubrey’

Begitu judulnya.

Kumpulan surat dari seorang ibu untuk anaknya, Aubrey. Atau yang biasa dipanggil Ubii.

Mungkin tidak ada yang luar biasa dari hal ini. Tidak, jika Ubii bukan anak yang luar biasa.

Membaca lembar demi lembar surat dari Gesi untuk Ubii, anaknya, sering kali menimbulkan ‘Aha moment’ dalam diri saya. Dan menutup lembar terakhirnya dengan berpikir bahwa jenis buku seperti inilah yang saya cari selama ini. Saya ingin ada banyak buku seperti ini beredar di toko buku. Mudah-mudahan šŸ™‚

Buku ini mengisahkan tentang proses dari mulai Gesi sebelum melahirkan Ubii sampai kondisi Ubii saat ini. Dari mulai kecurigaan-kecurigaan Gesi terhadap kondisi Ubii sampai akhirnya semua pertanyaan Gesi bisa terjawab. Dari mulai Gesi yang sama sekali belum tahu (dan mungkin belum pernah mendengar) tentang Rubella, sampai akhirnya sekarang tahu, menulis, dan bahkan mengedukasi banyak ibu-ibu lain tentang Rubella dan pencegahannya.

Ada beberapa hal yang dapat saya petik setelah membaca buku ini, yaitu :

– Siapa yang ingin, siapa yang siap, untuk memiliki anak dengan kebutuhan khusus? Sehingga wajar jika ada fase penolakan atas kondisi yang dimiliki. Ada fase saling menyalahkan antara suami-istri. Dan itu pun diungkapkan Gesi (dan Adit, suaminya) dengan jujur dalam buku ini. Namun disini, juga terlihat bahwa mereka dengan cepat bangkit dan berada dalam fase menerima (dan bahkan bersyukur akan hal-hal yang terjadi seputar) kondisi tersebut. Dan itu yang terpenting. Bahwa wajar ada fase penolakan dan tidak menerima untuk memiliki ABK. Namun yang terpenting, adalah cepat bangkit dari keterpurukan seraya berkata ‘Ok. What’s next? What I need to do?‘. Gesi pun menguraikan dengan jelas perubahan emosinya dari hari ke hari, dari peristiwa ke peristiwa. Sehingga sebagai pembaca kita pun setidaknya bisa berempati pada ibu dengan ABK.

Feeling orang tua biasanya penting banget untuk dipercaya. Apalagi ibu, yang sudah bersama-sama anak dengan sangat dekat selama 9 bulan. Apalagi jika berkali-kali merasa ada yang aneh. Itu pula yang diungkapkan Gesi dalam buku ini. Dan untungnya ia percaya pada feelingnya, sehingga penanganan pada Gesi pun lebih cepat untuk dilakukan. Saya sedikit bisa mengerti sih apa yang dialami Gesi, saat mendengar orang-orang di sekitar yang mengatakan ‘ah..namanya juga anak kecil’. Karena sering kali itu yang terjadi pada klien-klien saya yang datangnya terlambat. Sering kali mereka sudah curiga dari si anak berumur berapa bulan. Namun karena orang-orang di sekitar berkata ‘ah biasalah anak kecil’, sehingga penanganannya pun terlambat šŸ˜¦

Keukeuh dengan ASI. Mengusahakan banget untuk memberikan ASI pada Ubii. Sebagai seseorang yang Pro ASI, saya pun senang membaca cerita Gesi tentang hal ini.

Pentingnya peran ayah. Di setiap keluarga, idealnya peran ayah pun bukan sekadar mencari nafkah. Apalagi untuk ABK. Dan terlihat dari buku ini, kerjasama yang apik dari Gesi dan Adit. Senang deh lihatnya. Bahwa makin banyak ayah-ayah yang peduli dan berperan aktif dalam pengasuhan anak šŸ™‚

Penting memakai alat bantu dengar (ABD). Sebagai seseorang yang sering berurusan dengan orang tua dari anak tuna rungu, saya sering melihat masih kurangnya kesadaran bahwa ABD adalah sesuatu yang sangat penting. Jika anaknya tidak nyaman atau ingin mencopot, maka hal tersebut pada akhirnya dituruti (karena memang amat melelahkan mengawasi anak untuk akhirnya mau memakai ABD). Membaca cerita Gesi dan melihat perjuangannya untuk akhirnya dapat memakaikan ABD bagi Ubii, mudah-mudahan dapat membuat orang tua yang membaca juga termotivasi dan teredukasi dengan pentingnya ABD bagi anak dengan kesulitan pendengaran.

– Walaupun sudah melakukan intervensi dini, tapi penanganan harus dilakukan secara konsisten. Jika anak sudah teridentifikasi ABK sejak kecil, bukan berarti berhenti sampai tahap identifikasi saja. Harus ada intervensinya, misalnya dengan terapi wicara, okupasi, dst. Belum lagi di rumah pun harus rutin distimulasi. Melelahkan memang. Apalagi untuk anak yang baru teridentifikasi saat umurnya sudah beranjak usia sekolah, misalnya. Akan lebih banyak ‘PR’ yang harus dIkerjakan orang tua. Tapi seperti yang dikatakan orang, Tuhan tidak mungkin menitipkan anak spesial jika orang tuanya pun tidak spesial. Dan Gesi memperlihatkan dalam buku ini segala kekonsistenan dan melakukan upaya ini dan itu untuk Ubii. Semoga ini juga memotivasi orang tua dengan ABK.

Akhir kata, orang tua dengan ABK sering kali merasa ‘kenapa saya?’ Dan merasa sendirian. Semoga buku ini dapat menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendiri. Ada orang-orang di luar sana yang juga berjuang untuk anak-anaknya yang memiliki kondisi serupa.

Buku ini juga dapat membuat kita-kita yang ada di lingkaran luar, orang-orang yang tidak memiliki ABK, tahu apa yang dirasakan orang tua dengan ABK. Yang dapat membuat kita berempati saat berpapasan di mall, tempat-tempat umum lainnya, atau dimanapun. šŸ™‚

Selamat membaca šŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s