‘Membunuh’ mimpi

Beberapa tahun yang lalu, adik saya pernah bercerita dengan menggebu-gebu tentang keinginannya untuk membuat suatu perusahaan untuk merancang tools agar lembaga-lembaga (dan nantinya perusahaan-perusahaan) dapat menganalisa social media milik mereka. Sehingga perusahaan dapat mengetahui ‘tingkah laku’ konsumen atau follower mereka, untuk nantinya memberikan service atau meningkatkan mutu dengan lebih baik.

Saat itu saya mengernyitkan dahi. Apa benar bisa berhasil? Mau dan rela apa perusahan mengeluarkan uang ‘hanya’ untuk menganalisis social media mereka? Kan bisa melihat sekilas dan melakukan analisa ‘amatir’ tanpa harus ada tool-nya. Pikir saya waktu itu, dan kira-kira begitulah yang saya utarakan pada adik saya.

Singkat cerita, ia jalan terus. No Limit menjadi bukti kesuksesannya. Bukan hanya sukses membuktikan bahwa perusahaannya bisa bertahan, karyawannya terus-menerus bertambah dari tahun ke tahun. Ia juga masuk ke media-media, dan menjadi salah satu contoh kesuksesan seseorang yang membangun karir di usia muda.

Untung waktu itu dia tidak mendengarkan saya (ya iyalah hehe.. ). Tapi dari situ saya sadar bahwa terkadang, sadar tidak sadar, kita ‘membunuh’ mimpi orang lain. Kita mengukur mampu tidak mampunya orang lain dengan standar kita sendiri. Padahal bisa saja ia memiliki standar dan kemampuan yang sama sekali berbeda dengan diri kita. Saya juga beberapa kali pernah mengobrol dengan orang-orang yang meremehkan mimpi saya, seperti mengatakan ‘emang bisa hidup dari nulis?‘ atau ‘emang ada yang mau beli produk kayak gitu?’ yang sering kali membuat saya jiper. Namun, sejak saya memutuskan untuk bekerja mengikuti apa yang menjadi passion, saya sering tidak memedulikan apa yang dikatakan orang lain. Karena kan ini mimpi saya, dan bukan mimpi mereka. Mereka tidak tahu apa yang saya alami sampai saya akhirnya memiliki mimpi seperti ini. Mereka tidak tahu usaha seperti apa dan seberapa banyak yang akan saya wujudkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya itu, dan seberapa tahan saya untuk mengatasi segala hambatan-hambatan yang ada (namun bukan berarti benar-benar tidak mendengar orang lain dan jadinya tidak mau diberi masukan ya).

Dan begitu juga yang akan saya pikirkan sebelum saya membuka mulut saat ada orang lain menceritakan mimpinya. Jangan sampai apa yang saya katakan berpotensi ‘membunuh’ mimpi orang lain. Karena setiap orang berhak bermimpi, dan mewujudkannya dengan caranya masing-masing.   

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s