Love & Trust

Hari ini baca buku ‘The Healing Path With A Children’ dan dari situ diingatkan bahwa sangat perlu satu sosok yang : crazy about the child. Sosok yang menyayangi dan mempercayai segala potensi dalam diri seorang anak. Agar ia pun punya kepercayaan dalam dirinya sendiri.

Itu mungkin yang membuat saya bertahan untuk datang berkala ke panti asuhan. Saat pertama kali datang, saya tidak yakin, apa yang bisa saya lakukan untuk dapat membantu mereka? Kok ya saya gak yakin dengan diri saya sendiri? Seiring dengan interaksi saya dan mereka, saya perlahan tidak pernah lagi membuat program untuk merubah perilaku mereka. Pokoknya, saya selalu berusaha menepati janji saya ketika akan datang kesana (membuat mereka penting, menempatkan mereka sama seperti saya janji ke orang-orang penting lainnya), berusaha untuk memberitahu hal baik yang saya lihat dari mereka, dan mengundang orang-orang yang mau dan senang bermain dan membagi pengetahuan dan keahlian ke mereka. Ya sudah itu saja. Simple sih kelihatannya. Bahkan implementasinya akhirnya lebih terkesan main-main. Tapi yang saya rasakan, kemajuan mereka jauh lebih baik. Mereka jadi lebih percaya dengan orang lain. Dengan ada orang yang mereka percaya, mereka pun lebih mau melakukan hal-hal baik. Apalagi jika yang meminta adalah orang yang lebih percaya. Saya sampai terharu banget melihat mereka. Yang dulunya mesti penuh susah payah untuk saya suruh duduk diam dan mendengarkan orang lain yang sedang bicara. Namun, sekarang mereka bisa duduk diam bertahan mendengarkan, walaupun saya tahu, ada orang-orang yang mereka anggap omongannya membosankan setengah mati. Itu baru contoh sederhana, dan masih banyak hal-hal lainnya yang bikin saya senang bukan kepalang.

Intinya, anak memang butuh orang yang ‘crazy about him/her’. Satu saja sudah bermakna, apalagi banyak. Sebentar saja sudah terasa dampaknya, apalagi konsisten dilakukan dari waktu ke waktu. Sudah tidak jamannyalah orang tua harus meremehkan anak dengan tujuan agar anak bangkit, maju, dan membuktikan bahwa ia bisa. Kalau dari dasarnya saja (orang tuanya) tidak percaya padanya, bagaimana orang lain mau percaya? Ibaratnya cheescake, base dibawahnya harus kuat untuk bisa menopang lapisan atasnya. Atasnya lembek-lembek lembut sih tidak mengapa, asalkan lapisan paling dasarnya kuat! Itulah ibaratnya orang tua bagi anak šŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s