Lumpuhnya logika

Beberapa bulan belakangan ini (dan terutama beberapa hari belakangan), saya belajar bahwa : logika berpikir cenderung lumpuh mana kala kita mendapatkan informasi yang mendukung opini kita. Ya, saya memang sedang berbicara tentang pilpres. Cukup menarik, ketika ada seseorang yang menyerang dan mengejek artikel dukungan kepada rival capresnya yang setelah dilihat memang logikanya lemah dan banyak bolong disana-sini. Namun ketika artikel dengan logika berpikir yang sangat lemah namun bertemakan dukungan terhadap capres yang didukungnya, ia langsung membagikan dengan penuh pongah dan membusungkan dada bahwa pilihannya adalah yang paling benar.

Dari situ terlihat bahwa sebenarnya orang (dan orang-orang ini) jelas memiliki nalar dan kemampuan berlogika yang baik (buktinya ia bisa mengejek logika yang aneh dari rival si capres). Namun begitu logika aneh ini mampir untuk mendukung asumsi dan pilihannya yang selama ini, pengolahan informasinya tidak panjang, Informasi masuk melalui jalur pintas dan plung langsung diiyakan saja. Karena mungkin, pada akhirnya kodratnya manusia memang ingin dianggap sebagai benar. Seberapapun legowonya kita.

**

Selama ini saya memiliki fokus yang cukup besar pada intervensi dini pada anak-anak. Kenapa? Karena jelas dengan adanya intervensi dini, akan banyak biaya yang dihemat dan masalah pada anak yang tidak perlu terjadi. Jika misalnya seorang anak punya masalah tingkah laku, lebih mudah diatasi saat ia kecil, dibandingkan saat ia sudah masuk usia sekolah yang ruang lingkup pergaulannya lebih luas. Yang tadinya hanya masalah tingkah laku ngata-ngatain orang, misalnya. Kalau sudah masuk sekolah, masalahnya bisa merembet ke masalah pergaulan (teman-teman menjauhi), kepercayaan diri (dicap anak nakal terus), atau malah jadi tidak mau masuk sekolah. Lagipula kalau sudah besar, tentu tingkah lakunya sudah jadi kebiasaan menahun, dan lebih sulit diatasi dibandingkan masih baru-baru. Mencabut akar pohon jelas lebih susah dibandingkan mengambil benih yang baru ditanam, toh?

Itu yang menyebabkan saya sering berbagi tentang tips pengasuhan anak usia dini. Bagaimana cara memaksimalkan potensi anak. Atau jika ada hal yang perlu dicurigai, itu ciri-cirinya seperti apa. Agar lebih banyak orang yang membawa anak ke tenaga kesehatan secara tepat dan tidak terlambat. Nah, ternyata walaupun setelah berkonsultasi dan diberikan informasi yang tepat, sering ada orang tua yang menolak dengan saran-saran yang diberikan. Saya pikir apa yang salah?

 

Saya runut-runut, benar lah yang dikatakan oleh Kubler Ross, dimana tahapan orang berduka adalah denial terlebih dahulu. Ketika ada orang lain mengatakan sebuah kondisi yang tidak dapat diterima (katakanlah seperti autism atau IQ rendah), yang ada di pikiran adalah ‘apakah iya?’ secara berulang-ulang. Pun ketika sudah dijemberengkan semua bukti-bukti yang mendukung, penyangkalan mengalahkan logika dan mematahkan fakta-fakta yang ada. Disini (yang saya suka sebel. Sebel banget malah), ada pihak-pihak yang suka memanfaatkan kondisi ini demi kepentingannya.

Misalnya saya ilustrasikan dalam sebuah kasus ya (tidak persis sama, disamarkan) : Ada orang tua membawa anaknya untuk mengikuti terapi wicara karena belum dapat berbicara. Namun karena terapis merasa anak kesulitan untuk menyerap materi yang diberikan, dirujuklah ke saya untuk tahu IQ anak terlebih dahulu, agar bisa dimodifikasi pengajaran materinya. Setelah saya tes, ternyata IQ-nya rendah. Orang tua-nya (yang saya asumsikan sedang memasuki masa denial), merasa bahwa anaknya masih belum lancar bicara saja, namun bukan berarti tidak bisa. Pas banget, ada terapis lain entah dari mana (bersertifikat atau enggak, saya juga gak tahu) bilang bahwa anaknya sebenarnya bisa, pintar malah, hanya harus dimotivasi saja. Jadi disarankan untuk ikut asrama selama 1 tahun penuh, yang orang tuanya tidak boleh menjenguk sama sekali, tapi nanti hasilnya luar biasa. Masalahnya si anak akan hilang sama sekali. Btw, anaknya masih dibawah 5 tahun. Kontan, saat itu orang tuanya langsung mempercayai si terapis-entah-dari-mana-ini. Bahkan tanpa pikir panjang ingin memasukkan anaknya ke asrama.

Padahal jika dipikir-pikir, anak umur di bawah 5 tahun harus dipisah dari orang tua, dan dititipkan di tempat yang asing, apakah benar-benar bisa dipercaya? Apakah hasil perubahannya benar-benar bisa terbukti? Namun pertanyaan seperti itu tidak mampir, karena informasi tentang anak ini pintar dan masih ada harapan sejalan dengan harapan orang tua, sehingga informasi ini langsung masuk ke jalan pintas dan diiyakan saja oleh orang tua.

Saya dulu pikir, bagaimana bisa informasi tersebut langsung terabas ke jalan pintas. Tapi kalau lihat dari pilpres kali ini. Ya.. akhirnya tidak heran kalau banyak informasi yang langsung plung plung plung diiyakan si otak, dan tidak melalui saringan bernama logika. Apalagi jika memang ada pihak-pihak yang memang pintar melihat situasi dan sengaja memasukkan informasi lemah nalar dan logika ini pada waktu yang tepat, seperti si terapis entah dari mana itu.

Jadi dalam situasi apapun, walaupun memang sulit, tapi (meminjam istilah dari seseorang) : rawatlah akal sehatmu.

PS : Dan.. walaupun logika-logika lemah ini sepertinya mencemaskan untuk kondisi intervensi dini di Indonesia, tapi tidak boleh patah arang dan semangat!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s