#AkhirnyaMilihJokowi

Saya tidak pernah benar-benar begitu mengerti dan tidak pernah sekalipun tertarik dengan dunia politik. Saya kira, seberapa pun bombastisnya visi misi para calon pemimpin negeri, dampaknya nihil (atau paling tidak sangat minimal) yang akhirnya dirasakan rakyat biasa seperti saya. Seberapa patuhnya kita membayar pajak, toh rasanya uangnya tidak pernah benar-benar tersalurkan dalam bentuk pelayanan atau fasilitas publik (yang paling tidak) memadai. Saya pun sedikit demi sedikit ‘terpaksa’ untuk apatis pada pemerintahan negara Republik Indonesia. Keinginan saya untuk turut menyelesaikan masalah-masalah di Indonesia, lebih saya pilih untuk menyelesaikannya dalam lingkup yang teramat kecil. Bekerja bersama dengan teman-teman yang punya idealisme dan passion yang sama. Tidak apalah hanya sedikit dan tidak signifikan, yang penting ada dampaknya. Susahlah mengharap pemerintah. Makan ati.

Tapi tidak dalam Pilpres kali ini. Ada sebuah harapan. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat banyak orang menjadi ‘melek politik’ (dan bahkan mungkin ada yang kebablasan). Yang untuk saya sendiri, digerakkan oleh kehadiran seseorang bernama Joko Widodo.

Jokowi menjadi seseorang yang dapat menggerakkan. Setidaknya menggerakkan saya untuk melihat rekam jejak kedua pasang calon, menelaah, dan memantapkan hati untuk memilih yang paling sesuai dengan apa yang saya yakini dan percayai. Sebelum masa pilpres, Jokowi pun sudah cukup sukses menggerakkan (sebagian) masyarakat untuk menjadi pengawas pemerintah. Coba dilihat di jaman gubernur sebelumnya, saya tidak benar-benar tidak tahu (dan tidak peduli) apa sebenarnya yang ia kerjakan 5 tahun ke belakang. Mungkin sudah terlalu apatis dan pesimis, bahwa apa yang gubernur sebelumnya kerjakan dapat membawa dampak bagi penduduknya. Tapi tidak saat jamannya Jokowi (dan Ahok). Ada ‘sesuatu’ yang membuat (kalaupun tidak tahu-tahu banget, setidaknya pernah mendengar) apa yang dikerjakan Jokowi-Ahok, semisal PKL Tanah Abang, Rusun Marunda, atau Waduk Ria Rio. Tidak semua menyetujui kebijakan jokowi-Ahok itu. Banyak pula kritik, karena toh ia hanya manusia biasa yang tidak dapat mengakomodir kepentingan semua pihak. Namun Jokowi menggerakkan kita untuk peduli.

“Jokowi adalah kita”. Mungkin itu yang menggerakkan banyak orang ingin tahu, ingin dekat, tidak segan-segan memuji, atau tidak segan-segan mengkritik. Kita merasa Jokowi adalah sedulur (saudara) kita. Yang membuat kita tidak jengah untuk mengawasi atau mengkritik seprintilan apapun ide dan kebijakannya. Entah itu efek Jokowi atau apalah namanya. Yang jelas, ia punya ‘sesuatu’ yang membuat orang lain mau bergerak. Bukan aura wibawa, hormat, atau disegani. Berbeda dengan itu, ia punya sesuatu yang membuat orang lain ikhlas untuk bergerak. Bahkan bisa menggerakkan media seperti Jakarta Post atau The Economist yang tidak pernah mengemukakan dukungan sebegitu gamblang pada seorang capres. Dan bukankah memang itu yang dibutuhkan untuk menjadi masyarakat atau negara yang lebih baik? Ketika seluruh (ok terlalu ambisius. Paling tidak ‘sebagian’) orang mau untuk bergerak mewujudkan hal yang baik? Tidak hanya semata-mata pemimpinnya saja yang bergerak.

Di luar itu, point tambahan bagi Pak Jokowi bagi saya pribadi, ia tahu betul masalah seperti pendidikan, difabel, dan ekonomi kreatif. Tiga isu yang sangat dekat dengan kehidupan saya. Pengetahuan yang bukan basa-basi yang membuat saat debat kedua Pak Jokowi dapat mengatakan bahwa pendidikan di SD harus didominasi(80%) pada pendidikan karakter, akhlak, dan sikap mental, dan sisanya baru pengetahuan. Selanjutnya baru setelah bertahap porsi pengetahuan ditingkatkan. Dari situ, saya yakin ia tahu persis bahwa pendidikan dasar seorang manusia dimulai dari pendidikan karakternya. Itu adalah yang paling sulit untuk dibentuk dan perlu untuk ditumbuhkan sejak awal. Jika diibaratkan dengan rumah, pendidikan karakter adalah fondasinya, yang memang harus dibangun sejak awal. Jika itu sudah kuat, maka akan jauh lebih mudah untuk menyerap pengetahuan. Dibandingkan jika pengetahuan diajarkan terlebih dahulu. Pernyataan itu menyalakan harapan. Harapan bahwa calon anak-anak saya nanti tidak perlu homeschooling, saking putus asanya saya melihat sistem pendidikan di Indonesia.

Saya percaya Pak Prabowo pun merupakan orang baik. Jika tidak bagaimana mungkin selama 15 tahun ia berjuang untuk naik ke kursi kepemimpinan tertinggi. Mungkin orang bilang itu adalah ambisius. Tapi bukankah untuk mencapai keinginan kita memang harus persistance? Edison saja mengutak-atik lampu sampai berapa ribu kali percobaan baru akhirnya lampu bisa diciptakan  (contoh klasik 😛 ). Apalagi keinginan untuk tulus ikhlas melayani masyarakat dalam level paling tinggi. Sebuah keinginan dan usaha yang patut diacungi jempol. Saya pun percaya bahwa ia merupakan orang dengan level intelektualitas yang tinggi.

Namun mempertimbangkan hal-hal di atas, saya rasa Pak Jokowi adalah pilihan yang paling tepat untuk mendaratkan paku saya di tanggal 9 Juli nanti ke nomor 2.

Salam 2 jari 🙂

*kembali ke Rabbit Hole*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s