Simpati

Sekarang, setiap saya cerita dengan mata berkaca-kaca atau muka sedih, maka Hashfi, adik saya, akan ikut berkaca-kaca.

Kemarin, saya sedang flu berat saat cerita tentang suatu hal (yang saya juga lupa apa). Namun belum selesai saya bercerita, saya sudah tidak tahan lagi, dan segera berlari ke kamar untuk mengambil tissue. Saat itu, pasti mata saya terlihat berkaca-kaca, karena saat saya kembali, mata hashfi berkaca-kaca.

Lalu saya menggodanya dan bilang bahwa mata saya berkaca-kaca karena saya sedang flu, bukan karena saya bercerita sedih. Saat itu Hashfi, entah karena malu atau apa, langsung bilang bahwa ia tidak berkaca-kaca. Namun akhirnya ia mengaku bahwa ia berkaca-kaca karena cerita saya sedih. Ah entahlah..

Lucu tapi rasanya melihat ia sudah semakin dewasa. Mengerti akan namanya emosi dan simpati (yang sedikit demi sedikit harus diarahan ke empati).

Pertama kali lihat dia simpati saat menonton film Jobs, tepatnya saat Steve Wozniak memutuskan hengkang dari Apple. Saat itu Hashfi menangis tanpa suara, walaupun kami yang lain tidak meneteskan air mata sedikit pun atau pun terlihat bersedih. Ia sudah mampu untuk mengenali emosi orang lain saat itu. Jadi terharu :’)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s