Brain plasticity

Brain plasticity atau neuroplasticity,

adalah ranah ilmu yang sangat menarik perhatian saya akhir-akhir ini.

Pernah saya tulis sebelumnya disini. Sekarang saya baru saja dihadapkan dengan sebuah kejadian yang membuat saya semakin percata dengan brain plasticity.

Saat saya kuliah dulu, selalu dikatakan bahwa IQ seseorang cenderung stabil. Angkanya bisa berubah, tapi maksimal hanya plus minus 10 point. Yang bisa juga diartikan tidak mungkin tingkatannya berubah dengan drastis. Misalnya tidak mungkin yang IQ-nya rata-rata jadi intellectual disability gitu. Tapi.. saya dapati kasus-kasus yang memang IQ-nya bergerak sangat drastis. Sejauh ini, penjelasan yang saya terima bisa banyak faktor yang mempengaruhi. Bisa karena suasana tesnya tidak kondusif, anak tidak mood, dsb. Intinya situasi di luar si anak itu sendiri yang menyebabkan skornya berbeda banget. Yang satu tesnya optimal, yang saya gak optimal. Begitulah gampangnya. Tapi saya kurang puas. Masa sih? Masa tidak ada kondisi dari anak atau lingkungan yang membentuk si anak yang memang bisa membuat IQ itu fluktuatif?

Lalu kemarin, saya mendapatkan berita yang mengejutkan. Hashfi diterima akselerasi. Kok bisa? Yang saya yakini sampai saat ini, akselerasi adalah seperti ini. Tidak mungkin Hashfi bisa masuk akselerasi dengan tingkat kecerdasan, yang saya tahu dari hasil tes IQ-nya, adalah di atas rata-rata. Itu berdasar hasil tesnya saat mau masuk SD dulu, sekitar 3 tahun lalu. Dan ternyata, saat ini IQ-nya ada di tingkat very superior, atau naik 16 point. Kalau dengan IQ segitu, jelaslah ia masuk aksel. Tapi mungkinkah itu secara teorinya?

Mungkin tidak mungkin dengan teori yang ada sebelumnya, tapi saya kira menjadi masuk akal dengan teori-nya brain plasticity. Saya selama ini bias dengan patokan IQ Hashfi yang berada di level di atas rata-rata. Sampai saya tidak benar-benar menyadari bahwa ciri-ciri yang diperlihatkan Hashfi memang memperlihatkan perkembangan yang pesat dari 3 tahun yang lalu. Tapi.. IQ Hashfi yang melonjak dikarenakan banyaknya stimulus di sekeliling dia (saya sering ajak jalan-jalan, ketemu orang, ngobrol ini dan itu, ikut meeting-meeting Rabbit Hole, sering dengar pekerjaannya Dipo, sering ngobrol dengan semua anggota keluarga yang umurnya jauh melebihnya) dan ia pun memiliki self esteem yang positif (sering dipuji, sering dianggap yang paling pintar, dsb). Perpaduan itu yang menyebabkan neuron-neuron di otaknya membentuk memori-memori baru, yang membuat sinapsnya bekerja dan menyambung lebih cepat dan lebi h aktif, dan akhirnya membuat IQ-nya pun meningkat. Itu penjelasan yang paling masuk akal untuk saya saat ini. Walaupun belum tahu juga benar atau tidak. Itu juga masih asumsi saya.

Tapi dari situ.. saya jadi semakin semangat dan positif terhadap kemajuan klien-klien saya yang sepertinya sudah putus asa. Bahwa harapan itu masih ada. Bahwa otak kita bisa dilatih, distimulasi, dan diransang untuk lebih baik dari saat ini. Bukan..bukan. Maksud saya JAUH LEBIH BAIK dari ini. Ah. semoga saja lebih banyak penelitian tentang brain plasticity.

Saya jadi super semangat ini.

Terutama semangat untuk memotivasi para orang tua yang sudah putus asa dan harapan untuk anak-anaknya.

Semoga saya benar-benar bisa bilang asanya masih bisa disambung kok, dan harapannya masih ada di ujung sana jika kita percaya.

Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s