Aturan

Semakin bertambahnya umur seorang anak, yang paling ditakuti mungkin adalah bagaimana mengatasi saat ia membantah.

Makin besar bantahannya makin rasional dan mungkin tidak akan mempan dengan ancaman atau bentakan.

Begitu juga yang terjadi pada adik saya, Hashfi.

Semakin besar, intensitas membantahnya makin meningkat. Tapi itu semua bisa diatasi dengan keteguhan hati dan aturan yang jelas *ngomong apa ya gw keteguhan hati, itu maksudnya persistance gitu* :p

Saya ambil contoh saat Hashfi pertama kali memukul saya, dan saya beri peringatan (ini termasuk memberikan aturan yang jelas), bahwa kalau ia memukul lagi, maka ia tidak bermain iPod selama beberapa jam (saya lupa, mungkin 2 jam). Saat itu, dengan marahnya, ia memukul saya kembali. Saya pun mengambil iPodnya. Ia pun berusaha terus mengambil iPodnya dari saya dan semakin kuat memukul. Saat itu, saya menahan tangannya dan pergi ke kamar saya di lantai atas. Setelah saya kira kemarahannya sudah reda, saya kembali ke lantai bawah. Ia tetap manyun namun sudah tidak memukul saat saya datang. Saya waktu itu bilang ‘Nanti jam 4, adek boleh ambil lagi iPodnya dan main‘ (lupa persisnya jamnya, tapikira-kira begitulah). Ia diam saja. Saat jam 4 persis, saya pun memberikan iPodnya kembali. Setelah beberapa jam kemudian, kami pun membicarakan lagi saat ia marah, kenapa saat ia marah saya mengambil iPodnya (karena banyak games di iPodnya yang mengandung kekerasan, dan itu memicu dia untuk melakukan kekerasan pada orang lain juga) dan apa yang bisa ia lakukan selain marah, serta mengingatkan ia bahwa jika lain kali ia memukul kembali maka tidak bermain iPod selama beberapa jam (lupa juga tapi jumlahnya jam ditingkatkan, 6 jam misalnya).

Setelah itu, saat ia marah dan memukul saya (yang sebenarnya jarang terjadi) ia sudah tidak lagi merengek-rengek atau berusaha mengambil iPodnya dari saya. Bahkan saya sama sekali tidak mengambil iPodnya, tapi ia sudah dengan sadar tidak akan memainkan sampai waktu yang ditentukan.

Selanjutnya, saya ingat pertama kalinya Hashfi tantrum di tempat umum, pas udah umur 8 tahun pula. Yaitu ketika ikut saya saat buat company profile Rabbit Hole. Nah, dari rumah dia memang sudah manyun dan tanda-tanda ngambek sudah terlihat, tapi gak mau ditinggal juga. Lalu seperti biasa, ia akan bertanya kapan waktu pulang, yang saya bilang jam 14 tapi belum tentu juga karena gak bisa diprediksi. Eh, jam 14 belum selesai take gambar untuk videonya, menangis dan mengamuk aja loh dia. Bahkan sampai memukul saya. Saat itu saya bilang, kalau pukul berarti tidak ada bermain iPod di hari itu (sekarang konsekuensinya sudah satu hari tidak bermain, makin lama makin diperpanjang). Ia tetap tidak peduli dan memukul saya, jadi saya hanya bisa menahan tangannya saat itu. Ia bahkan bilang kalau saya jahat, dsb. Setelah pulang, saya kira dia masih ngambek. Tapi dia sudah cerah ceria. Bahkan dengan riangnya mengajak saya bermain, dan ia tetap patuh dengan peraturan yang sudah dibuat.

Terus saya kira, dia akan ngambek saya setelah diberikan konsekuensi. Tetapi ternyata tidak. Besok-besoknya dia bahkan bisa ingat hal-hal yang menyenangkan dari peristiwa itu. Bahkan dia bisa berfilosofi, yaitu :

Hashfi : Waktu itu yang di mobil panas banget ya, Mbak Di (waktu itu kita rekaman suara untuk video memang di dalam mobil, dan biar suaranya jernih, mesin dimatiin dan benar-benar tertutup, jadilah udah kayak sauna bok).

Saya : He’eh.

Hashfi : Itu aja udah panas, apalagi di neraka ya, Mbak Di

 

Peristiwa lain yang membuat saya yakin bahwa dengan konsekuensi yang jelas, anak akan menuruti peraturan apapun kondisinya adalah saat saya mengajak Hahsfi sholat saat kami sedang berjalan-jalan. Dia tadinya tidak mau dengan alasan mau lihat barang-barang lain dulu (padahal itu Magrib sudah hampir adzan Isya). Lalu saya bilang kalau lihat barangnya habis sholat. Ia tetap tidak mau. Lalu saya gandeng dan tuntun ke tempat sholat. Ia menurut walaupun sambil mengomel-omel yang intinya ‘orang gak mau dipaksa’. Saya cuek bebek dengan teknik andalan saya, yaitu extinction (mendiamkannya). Dia terus mengomel sampai di tengah jalan menuju musholla ia melihat TV yang menanyakan Avenger, berhenti sebentar dan bertanya ‘itu Avenger 1 apa 2 ya?‘, baru saya bereaksi ‘Satu kayaknya‘. Ia menjawab ‘Iya, kayaknya satu‘. Lalu kami meneruskan obrolan sambil perjalanan ke musholla tanpa ngambek lagi (ngambeknya makin bertambah umur makin berkurang dan makin cepat selesainya, seiring dengan ia belajar bahwa ngambek gak akan menghasilkan apapun). Setelah ngobrol lagi, ia bilang bahwa sebenarnya saat itu ia sedang malas sholat, lalu kita pun mengobrol soal itu, bahwa itu suda kewajibannya dia dan saya memujinya (bahwa saya bangga dengannya karena walaupun dia malas tapi dia tetap melaksanakan kewajibannya).

Dengan metode penegakkan konsekuensi ini, akhirnya anak pun menjadi bertanggung jawab. Pernah Hashfi tidak boleh bermain iPod seharian. Itu kejadiannya pagi. Lalu sore-sorean saya sudah lupa dengan konsekuensinya dia. Tiba-tiba hashfi datangin saya dan bilang kalau dia sedang bosan. Lalu saya tanya, apa yang ia ingin lakukan. Ia bilang, mau main iPod tapi gak bisa. Saat itu saya teringat bahwa oh ya, dia sedang kena konsekuensi. Lalu saya pun bilang, ‘7 jam lagi kan kamu udah bisa main lagi’. Lalu kami pun berdiskusi tentang pencegahan (lain kali apa yang harus dilakukan agar ia bisa bermain iPod lagi).

Nah, mungkin buat orang tua yang ingin menerapkan aturan dengan anak, kadang tidak tega, atau bingung anaknya akan nurut atau tidak, sebaiknya lakukan saja. Asal memang aturannya jelas, konsekuensinya nyambung dengan aturannya (misalnya soal iPod dan memukul tadi, kasih tahu hubungannya ke anak misalnya kalau memukul kenapa konsekuensinya jadi gak boleh main iPod, biar anak tahu relevansinya dan bisa lebih nurut, dan anak juga disitu jadinya berlatih bernalar), konsisten menerapkan aturan di kondisi apapun (jangan ada istilah tidak tega karena efeknya untuk kebaikan anak kok), diamkan saat anak bertingkah (misalnya nanya-nanya terus kenapa ia dihukum. Jelaskan satu kali saja, kalau masih tanya, diamkan. Atau dia bilang kita kejam saat menerapkan aturan, diamkan saja. Dia tidak bermaksud seperti itu kok, hanya mencari perhatian saja. Nanti kalau emosi mereda, baru diskusikan tentang tingkah laku anak itu dan diskusikan juga tingkah laku yang lebih sesuai saat anak sedang marah) dan puji (atau bisa berikan konsekuensi positif) saat ia melakukan hal yang positif.

Kira-kira seperti itulah. Semoga membantu 🙂

PS : Hashfi hanya boleh bermain iPod saat jumat setelah pulang sekolah, sabtu, dan minggu sampai pukul 16.00. Begitulah aturan dari bapak ibunya. Tapi kalau pergi jalan-jalan dengan saya, sama sekali tidak boleh bawa iPod, itu aturan saya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s