Pendidikan di Indonesia

Berbicara tentang pendidikan di Indonesia, yang saya lihat secara tidak sadar kita dibentuk untuk menghargai hasil dan bukan proses.

Saat saya SD, misalnya, untuk masuk ke SMP negeri unggulan, penentuannya hanya dari hasil ujian beberapa hari saja. Hasilnya, menjelang hari ujian, wali kelas saya saat kelas 6 SD, memberitahukan suatu sistem pada kami anak-anak muridnya. Sistem untuk mencontek, tepatnya. Saat itu saya terperanjat. Berusaha untuk mencocokkan informasi lama berupa ‘guru saya yang berbudi luhur, berakhlak, dan bermoral positif’ dan sosok di depan saya yang meminta saya dan teman-teman untuk mencontek. Saya kira saya mimpi, atau guru saya sedang kerasukan apa. Tapi, tidak. Ini memang sosok yang sama. Sosok yang bukan hanya meminta. Namun, memohon untuk kami mau mencontek. Demi peringkat sekolah kami tetap baik. Dengan pemakluman berupa semua sekolah juga mencontek, dan kalau kami tidak mencontek maka peringkat kami akan turun dari sekolah yang mutunya di bawah kami. Agar hasil yang keluar adalah nilai-nilai ujian yang baik. Hasil yang mencitrakan murid-murid yang pintar, guru-guru yang dapat mengajar muridnya, dan sistem sekolah yang rapih dan baik. Pencitraan palsu.

Kemudian saya ingat lagi saat saya kelas 3 SMA. Tepatnya hari-hari menjelang SMPB. Saya mengerutkan kening kala itu, sekaligus bertanya, mengapa saya harus belajar materi yang sama sekali berbeda dengan yang pernah diajarkan ke saya selama 3 tahun di bangku SMA. Bahkan juga tidak pernah saya dengar sebelumnya di SMP atau SD. Namun konon katanya, itulah soal-soal yang akan keluar di SPMB sehingga jika ingin lulus, jika ingin mendapatkan universitas impian saya, maka tipe-tipe soal seperti itu yang harus saya mengerti. Tanpa bantahan. Saat itu, saya hanya bisa belajar dan menghafalkan saja soal macam itu.

Saat itu, ramai obrolan tentang SMPB yang lebih mirip seperti meja judi saja. Ada orang yang pintar setengah mati tapi ketika SPMB tidak lulus. Ada pula orang yang peringkatnya di bawah, pelajaran sepertinya tidak sepenuhnya dimengerti, lalu lulus SPMB. Doa, hanya doa yang bisa menyelamatkan kita. Yang bisa membantu memperlancar jalannya kelulusan di SPMB. Saya setuju dengan mukjizat doa, namun saya tetap merasa ada yang janggal. Sesuatu yang bisa dibenahi, lebih dari sekedar doa.

Kepingan-kepingan puzzle berupa pertanyaan-pertanyaan tentang sistem pendidikan itu sedikit demi sedikit mulai tersusun.

Setidaknya dalam persepsi saya. Yang mengarahkan pada kesimpulan bahwa ‘ini yang terjadi jika penekanan pada hasil, dan bukan proses’

Sejak SD, SMP, SMA, sampai masuk ke bangku kuliah. Kesemuanya ditentukan dengan ujian yang hanya beberapa hari saja. Seakan-akan proses pembelajaran selama 6 atau 3 tahun tidak ada artinya. Padahal ada banyak sekali kemungkinan kesalahan di sana. Bisa saja ada faktor fisik dan emosi yang mempengaruhi disana (misalnya : kondisi badan sedang sakit atau ada anggota keluarga yang meninggal). Selain itu semua sistem ujian, mulai dari namanya UN, SPMB, SMPTN, dan lain sebagainya mengandalkan sistem pilihan ganda yang membuat jawaban seakan pasti dan mengebiri kreativitas. Padahal semua hal tidak dapat hitam putih, bahwa ada jawaban yang pasti benar dan yang lain pasti salah. Sistem ini yang membuat anak yang terlampau pintar dan tidak setuju dengan jawaban konservatif menjadi dianggap mengantongi salah. Sistem ini juga yang membuat anak yang mungkin tidak sepenuhnya mengerti dengan materi yang diujikan, namun kebetulan saja hitungan kancingnya tepat, membuat ia pun terbekati dengan kelulusan dan sekolah di tempat impian.

Padahal kalau kita cari pekerja saja, walaupun hasil tesnya bagus, kita ingin melakukan wawancara atau FGD kan? Karena tidak jaminan hasil tes bagus artinya kualitas bagus juga. Hasil psikotes bagus bisa dibeli segampang beberapa puluh ribu di Gramedia.

Sistem yang akhirnya melihat hasil, membuat orang-orang di sekitar anak pun ‘melegalkan’ praktek mencontek. ‘Ah kan hanya 3 hari saja daripada nanti dia 3 tahun ke depan sekolah di sekolah yang jelek’. Atau anak-anak yang sudah dibebankan untuk sekolah di tempat impian pun memutuskan mencontek karena takut ayah dan ibunya kecewa. Yang penting hasilnya lulus, tidak peduli caranya bagaimana. Hal ini ditambah dengan orang-orang yang lebih memprioritaskan lulusan universitas termuka, yang padahal belum tentu outputnya bagus juga.

Sistem seperti ini akhirnya menghasilkan apa?

Menghasilkan generasi yang pintar menghafal. Menghafal materi tanpa mengerti esensi dari apa yang ia pelajari. Generasi yang kurang diasah kreativitasnya.

Generasi yang ketika dibebaskan di luar sekolah, bingung akan apa yang harus dilakukan.

Bingung dengan dunia yang terlalu bebas, tanpa manual.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s