Calon Manten berkata :

“Menikah itu harus diniatkan dan diprioritaskan, biar jadi”.

Begitu nasihat teman baik saya yang sebentar lagi akan menikah, dan ingin melihat saya juga menikah tahun ini.

Sebelum menikah satu bulan lagi, malam kemarin dia memberikan saya wejangan-wejangan yang (tumben-tumbennya) sangat bijak. Hehe.. Kemarin (tumben-tumbenannya juga) saya hanya manut-manut mengiyakan semua omongannya dan tidak membantah sama sekali.

Ia mengingatkan saya bahwa hidup itu sederhana. Manusianya saja yang suka ribet. Hidup itu sebuah siklus. Bahwa manusia itu lahir, tumbuh dewasa, dan lalu menikah, berketurunan, dan kembali lagi ke liang lahat. Sebuah siklus yang sudah dapat diprediksi. Sebuah takdir yang memang digariskan Tuhan. Dijalani saja. Sesederhana itu. Tapi terkadang kitanya saja yang membuat rumit.

Kalau prioritasnya masih duniawi. Nikah tidak akan pernah menjadi prioritas, dan hampir pasti tidak akan terlaksana. Selalu saja ada yang terasa kurang. Selalu saja ada yang harus dikejar dan diraih. Selalu saja ada yang lebih dan lebih. Selalu ada setan yang menggoda dan membuat kita ragu, kata teman baik saya itu.

Menikah itu sesungguhnya perkara mudah dan sederhana, jika memang diniatkan. Mencari seseorang yang kita yakini, dan memang mau dengan kita. Dan lalu bertahan bersama. Mendiskusikan dan mengkompromikan segala godaan, kebosanan, dan hambatan bersama. Dan jika memang itu semua bisa dilewati, ya tinggal menikah.

Sesederhana itu.

Sesederhana keyakinan dua belah pihak, yang mendorong tindakan sang pria melamar dan wanitanya menerima. Sesederhana itu wanita Jawa sesungguhnya.

Kata teman saya, saya Jawa yang sudah berbau Mampang Prapatan. Haha.. Mungkin karena dia menduga saya akan membatah ucapannya. Mungkin karena dia sudah memprediksi kerutan dahi saya mendengar segala kesederhanaan dari calon istrinya yang manggut-manggut menerima pinangannya. Mungkin karena ia sudah kenal saya yang suka membantah dan merasakan kejanggalan dari hidup yang sederhana dan hanya iya iya saja.

Tapi malam itu, saya yang gantian manggut-manggut. Mengiyakan. Menelaah diri saya kembali. Bahwa mungkin saya yang membuat segalanya begitu rumit. Saat sebenarnya dunia menawarkan kesederhanaan.

Ahh.. Terimakasih sahabat baikku yang mengingatkan itu padaku.
Mungkin karena ia sekarang calon manten sehingga bahasanya menjadi teramat bijak. Ah..semoga ini tidak berlangsung malam ini saja. Tapi terjadi seterus-terusnya. Saat ia menjadi pemimpin bagi keluarganya kelak.

Tak sabar saya jadinya melihat ia mengucap ijab kabul dan meminang calon istrinya. Mu buddy growing up so fast. Jadi terharu :’)

Semoga saya gak lupa wejangannya malam itu ya, dan bisa mengamalkannya segera. Hehe..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s