Passion itu apa sih?

enter-hr-standards

Passion itu saya ibaratkan seperti jodoh.

Ada orang yang dari awal sudah tahu dan meyakini passionnya. Hasilnya? Ia pun terus-menerus mencari kesempatan mengasah keterampilannya untuk kelak dapat menjalani hidupnya berdasarkan passion.

Itu adalah jenis passion yang umum. Passion yang kita kira mewakili semua passion.

Padahal, saya pikir, tidak semua passion muncul dengan terangan-terangan seperti itu. Passion itu bisa saja kita sadari sedari awal, namun bisa juga belum kita sadari sampai waktu yang lama. Sama seperti jodohlah.

Ada yang berjodoh berpasangan sebagai suami-istri, setelah sekian lama statusnya ‘teman baik’. Bertahun-tahun saling curhat pasangan masing-masing. Sampai akhirnya di satu titik sadar, bahwa jodohnya selama ini ada di depan mata. Si passion ini ada juga yang perjalanan tumbuh kembangnya berputar-putar seperti itu. Sejak lama, kita tahu kehadirannya ada. Kita tahu kita senang menjalaninya, namun rasanya kesukaan kita belum sebegitu kuatnya untuk dilabel sebagai ‘passion’. Ada hal-hal lain yang kita kira lebih pantas menyandang titel ‘passion’ dalam diri kita. Kita jalani ini itu, sampai akhirnya kita putuskan untuk mencoba passion, dan setelah dijalani baru kita sadar itulah passion kita. Passion yang harus kita jalani dulu baru kita bisa menyadari bahwa itulah yang namanya passion.

Ada juga orang-orang yang berjodoh setelah sekian lama saling membenci setengah mati. Pertemuan-pertemuan awal berjalan dengan tidak baik, sampai akhirnya tangan Tuhan bekerja untuk menakdirkan kedua orang tersebut menjadi pasangan sehidup semati. Passion pun ada yang seperti itu. Kita kira tidak akan kita bisa suka, tidak akan kita terjun pada bidang seperti itu, namun beberapa tahun kemudian takdir berkata lain. Kita justru menyukai bidang yang tadinya kita rutuki sebagai ‘amit-amit-jabang-bayi’.

Diantara semuanya itu, satu yang menyamakan adalah ketertarikan. Entah itu muncul cepat atau lambat, yang pasti ada ketertarikan di dalam passion. Iyalah, kalau tidak gak mungkin terjadi yang namanya passion. Jadi.. passion itu tidak bisa dipaksakan juga. Mau terus-menerus berkutat dengan bidang itu, tapi kalau tidak ada ketertarikan. Tidak akan jadi si passion itu berkembang.

Lalu gimana dong menemukan si passion?

Tidak ada rumusan pasti. (Lagi-lagi) sama seperti menemukan jodoh. Ada yang berhasil dengan cara x, namun ada yang justru gagal dengan x tapi berhasil dengan y (ini aja saya jodohnya belum ketemu-ketemu juga *ihik*).

Bagi saya sendiri, passion saya juga ngumpet dan tidak saya sadari sebelumnya.

Satu yang saya yakini adalah, saya suka dengan dunia tulis-menulis. Saya pikir, menjadi wartawan atau jurnalis adalah pilihan yang tepat untuk menyalurkan passion saya. Sampai saya masuk SUMA dan menjadi jurnalis kampus, saya langsung tersadar bahwa bukan itulah dunia yang saya inginkan. Dunia tanpa kepastian jam kerja dan dapat merengut sebagian (besar) kehidupan pribadi saya. Keinginan saya tidak sebesar itu untuk akhirnya mau berhadapan dengan apa yang akan saya korbankan kelak. Saya pikir tentu itu bukanlah passion saya. Kalau iya, kenapa saya gak mau berkorban demi apa yang saya yakini sesuatu yang saya suka. Saya pun dengan mantap memutuskan untuk tidak mengambil pekerjaan di jalur media.

Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian, saya justru menjadi seorang psikolog anak dan juga mengelola bisnis buku anak. Apa itu passion saya? Hmmm.. iya. Tapi saya tidak benar-benar tahu sampai harus benar-benar tercebur dan menjalaninya dulu, barulah saya menyadarinya. Saya baru sadar bahwa saya sangat menikmati berhadapan dengan anak-anak dan orang tuanya, serta menulis buku anak setelah benar-benar ada di dalamnya. Saat membayangkannya saja? Saya rasa saya tidak mampu jatuh cinta pada dunia ini. Saya tidak mungkin sanggup berlama-lama berkutat dengan aktivitas seperti ini. Namun ternyata, sebaliknya.

Jadi kesimpulannya, banyak sekali jalan untuk menemukan si passion ini. Entah ia sudah langsung hadir tanpa kira cari, malu-malu tapi mampu, atau kita sampai gali tanah untuk menemukannya, tapi nikmatilah proses pencariannya. Lucu kalau diingat-ingat ketika kita sudah menemukannya.

Life is surprise, indeed.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s