Filosofi ala Bella

1972360_10152443307774683_3386376290633350380_n

Pesan moral apa yang mau disampaikan melalui aplikasi ‘Bella dan Kelima Balon?’

Beberapa orang bertanya pada saya tentang hal itu.

Terus terang saya enggan menjawabnya.

Mungkin..karena sudah terdoktrin Kak Ariyo, bahwa pesan moral itu gak sebaiknya dijejali ke pembaca. Orang kan baca dongeng ingin membaca, bukan mendengar ceramah bernama pesan moral. Hehe..

Biarkanlah anak-anak punya imajinasi, perasaan, dan pemikiran sendiri setelah membaca ‘Bella dan Kelima Balon’ tanpa harus saya (sebagai penulisnya) mengarahkan.

Namun, ya..tidak dipungkiri, ada hal yang saya pikirkan dan ingin saya selipkan saat orang lain membaca ‘Bella dan Kelima Balon’. Kalau secara filosofisnya nih, membaca ‘Bella dan Kelima Balon’ membuat saya berpikir tentang hal-hal ini :

Kadang kita terlalu fokus ingin meraih dan meraih, tanpa sadar sebenarnya kita sudah punya segalanya. Mungkin mirip seperti petualangan Bella mencari balon-balonnya yang hilang. Padahal hanya 5 balonnya saja yang hilang, tapi..dia mengerahkan segala energi untuk mengambil kelima balonnya tersebut. Setelah dilihat-lihat, di gapura rumahnya pun ada banyak sekali balon yang ia ambil, tanpa ia perlu bersusah-payah.

Barang yang diberikan dengan penuh cinta kasih ke kita, akan membuat kita mencari setengah mati jika hilang atau merawatnya dengan penuh cinta kasih juga. Balik lagi ke scene yang sama, walaupun mungkin Bella punya banyak balon di gapura rumah atau dengan mudahnya bisa membeli balon lain, tapi..kalau dilihat dari perspektif yang berbeda. Balon-balon itu semua kan diberikan oleh orang-orang yang disayangi Bella. Jadi..ketika hilang, ia akan mencarinya mati-matian juga.

Ada banyak hal yang bisa dikompromikan dan tidak bisa dilihat hitam dan putih. Misalnya saat akhirnya Bella menemukan balonnya, dan akhirnya ia memilih untuk mengambil balonnya dan terkesan tidak memperdulikan kesulitan orang lain (atau dalam hal ini binatang lain). Toh, selalu ada kemungkinan negosiasi yang akhirnya membuat win-win solution bagi kedua belah pihak. Misalnya saat scene balon merah mendarat di atap keluarga beruang yang bocor sehingga atap rumah tersebut tidak bocor lagi. Bella yang memilih untuk mengambil balonnya, terkesan jahat dan tidak peduli dengan kesulitan orang lain. Namun..dengan negosiasi akhirnya sebenarnya bisa dicapai sebuah solusi yang dapat menguntungkan kedua belah pihak. Melalui hal-hal ini saya ingin agar orang tidak dilihat sebagai pure baik atau pure jahat, karena selalu ada scene-scene lanjutan, kemungkinan-kemungkinan lain, dan pilihan yang membuat kenyataan tidak seburuk (dan juga tidak semanis) adanya.

Ah.. Gitu deh kira-kira

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s