Rest in Peace

Hari ini saya dapat kabar kalau supervisor saya meninggal dunia, karena kanker.

Beberapa hari sebelumnya, ia mengirimkan surat ini pada saya.

 

Dearest Supervisee,

It is with deep regret that I need to inform you that my illness has returned which means I am no longer able to supervise your work.

Please contact your course director for advice on choosing another supervisor.

Once again my sincere apologies for this and I wish you well in the future.

Yours truly

xxx

 

Kematian. Dulu, saya sering merasa takut akan konsep itu. Konsep bahwa kita akan hidup di dunia yang kekal abadi dan tidak ada kata akhir. Selalu ada besok setelah besok. Itu yang paling saya takutkan.

Lalu semakin dewasa, perasaan akan kematian berubah menjadi penasaran yang dibalut dengan ketakutan, tanpa saya sadari. Hal itu, mungkin, yang menuntun saya untuk mengambil tesis mengenai kematian. Persepsi anak tentang kematian saudara kandungnya, tepatnya.

Saat ini, mungkin saya terlihat begitu datar menghadapi berita kematian. Namun, ada perasaan yang sungguh tidak dapat dijelaskan saat berita itu diterima otak saya.

Mungkin, saya sebenarnya sebegitu penasarannya akan konsep itu, namun takut untuk terlalu dalam menjamahnya. Sehingga perasaannya pun menggantung, tidak dapat dijelaskan oleh bahkan, diri saya sendiri.

Seperti kali ini.

Saat berita tentang supervisor saya yang berpulang.

May she rest in peace. Itu mungkin kata yang paling appropriate untuk saat ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s