Speed Dating

Kalau kamu mengikuti blog ini cukup lama, kamu pasti tahu bahwa saya adalah seorang introvert sejati.

Saya sering sekali takut berhadapan dengan orang baru. Tidak tahu apa yang harus saya lakukan atau bicarakan dengan mereka. 

Namun sejak menjadi psikolog, hal tersebut semakin lama semakin bergeser. Saat bertemu dengan orang baru, yang mana adalah klien saya, atau para audience saat saya menjadi pembicara di dalam sebuah seminar, saya dengan santainya bisa berbicara dengan mereka panjang lebar. Bahkan tak jarang (ya memang kewajiban juga sih) saya yang memulai percakapan atau interaksi terlebih dahulu. Dan seiring berjalannya waktu, hal tersebut bisa dengan lancarnya saya lakoni.

Dan..tibalah saat saya harus menjalani peran sebagai seorang pebisnis.

Salah satu aturan menjadi seorang pebisnis ya berarti harus terpapar dengan banyak orang, untuk menjalin relasi dengan invostor, berkolaborasi dengan sesama start-up, calon konsumen, dst.

Kesempatan itu datang pertama kali saat saya diundang oleh kedutaan Amerika Serikat. Berhubung saya sangat amatir, saya pun mengajak adik saya, Dipo. Dan.. lebih membuat jiper karena sepertinya semua orang yang ada disana kenal dengan Dipo, padahal yang diundang saya. Jadi semakin bingung harus ngapain. Bahkan katanya kalau ada orang yang senyum, kita harusnya senyum balik, dan nantinya akan terjadi percakapan. Tapi eyalah..saya malah buang muka ketika ada orang yang senyum ke saya. -__- Intinya saat itu saya benar-benar kacau.

Dan ya sangat beda sekali. Saat saya menjadi psikolog, walaupun berhadapan dengan orang baru. Saya sudah tahu sebelumnya calon klien saya. Atau saat menjadi pembicara, saya sudah tahu topik apa yang akan ditanyakan orang-orang baru di sekitar, karena sudah tahu topik yang akan dibahas (ya iyalah kalau gitu gak bisa nyiapin materi dong). Tapi berada dalam sesi networking, yang orang-orangnya random banget membuat saya pun semakin bingung. 

 

Tapi setelah itu beberapa kali diundang untuk networking session, membuat saya semakin kenal medan *hihi..klaim aja* dan mudah-mudahan sih kemampuan networking saya sekarang semakin meningkat. Gak culun-culun amat seperti sebelumnya.

Jika saya simpulkan, networking itu seperti saat kita ngedate sama calon pasangan kita. Entah itu melalui blind date atau dikenalkan oleh teman, awalnya kita akan saling mengenalkan nama dan sedikit tentang siapa kita. Jika sama-sama tertarik, baru dilanjutkan ke saling tukeran nomor telepon dan follow up misalnya dengan saling menelepon, SMS whatsapp, atau melakukan pertemuan selanjutnya. Yang mungkin berlanjut ke pertemuan-pertemuan selanjutnya, dan akhirnya mengarah ke hubungan yang lebih.

Nah sama dengan saat networking. Kita akan mengenalkan siapa kita dan bisnis kita apa secara singkat (makanya penting kemampuan pitching seperti yang contohnya saya sebutkan sebelumnya), setelah tertarik barulah kita masuk ke tahap yang lebih lanjut. Ketertarikan itu bisa dilihat dengan saling bertukar kartu nama (jadi penting kartu nama itu selalu disiapkan!). Lalu gak cukup dengan kartu nama, tapi harus ada follow-up, misalnya dengan salah satu menghubungi terlebih dahulu dengan mengirimkan email atau mengajak bertemu lebih lanjut. Kalau yang selama ini saya alami, ketertarikan itu bisa dilihat saat pertama kali bertemu, misalnya walaupun bertukar kartu nama, tapi kelihatan yang tertarik basa-basi dan tertarik yang beneran tertarik. Dan mengingat gak semua orang bisa suka dengan kita, jadi ya.. jangan dimasukin hati ya, kalau ada orang yang bisa hanya angguk-angguk sebentar dengar kita ngomong terus pergi. Ada juga yang angguk-angguk dengar kita, minta kartu nama kita, dan kelihatan tidak tertarik, tapi selanjutnya email follow-up mau bertemu. Hihi.. orang kadang-kadang tidak bisa ditebak.

Yang jelas dan yang pasti, kalau networking session jangan lupa untuk selalu melatih kemampuan pitching (karena networking session itu ada banyak orang yang potensial dan waktunya singkat, jadi kalau kamu sudah tidak menarik di menit-menit awal, lebih baik orang lain mendatangi orang lain saja yang lebih potensial. Mungkin ada orang yang bisa basa-basi mendengarkan kamu, tapi ada juga yang gak pakai tedeng aling-aling meninggalkan kamu secepatnya kalau kamu membosankan).

Dan oh ya, siapkan kartu nama.

(Kalau kata adik saya, kartu nama itu ya tujuannya untuk dihabiskan).       

Good luck! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s