Main yuk!

Saya selalu percaya bahwa dunia anak adalah dunia bermain (keyakinan itu yang membuat saya teguh mengambil sertifikasi terapis bermain). Saat saya coba untuk mengedukasi orang-orang tentang pentingnya bermain, ada dua pemahaman yang harus saya luruskan, yaitu :

1) Main itu tidak ada gunanya. Tidak mendidik anak melakukan apapun. Hanya tertawa-tawa saja. Kapan belajarnya? Nanti kalau disuruh masuk sekolah malas lagi karena sudah keasyikan bermain.

Eits. Justu lewat bermain anak itu belajar banyak hal. Seperti Bobo lah, satu paket, teman bermain dan belajar. Hehe. Misalnya dari permainan petak umpet, anak belajar strategi dan kreativitas (dengan kreativitas, anak bisa mencari tempat persembunyian yang tidak mudah ditemukan oleh teman lainnya). Bermain pun membuat anak bergerak, berlari, melompat, yang bagus untuk perkembangan motoriknya. Penelitian-penelitian yang ada pun sudah mengkonfirmasi bahwa olahraga atau gerak tubuh membuat nilai akademis anak meningkat. Anak juga bisa belajar kedisiplinan, misalnya ia jadi tahu ada jam bermain, jam makan, jam tidur, dst. Kemudian dengan orang tua yang memfasilitasi (bukan membebaskan sebebas-bebasnya ya) anak untuk bermain, ia akan memandang orang tuanya dengan cara yang menyenangkan, lalu anak pun menjadi menyayangi dan menghormati orang tua dengan baik. Sehingga ketika waktunya sekolah atau mengerjakan PR sebelum sekolah, anak pun lebih mau menuruti orang tua karena memang memandang orang tua sebagai sosok yang dihormati. Lagi pula anak sudah ‘kenyang’ dengan bermain, dan akhirnya lebih mudah untuk melakukan kegiatan berstuktur seperti sekolah, setelah dia sudah mendapatkan ‘jatahnya’. Mungkin kalau diandaikan seperti kita sedang makan siang, lalu hanya diberi makan sedikit sekali atau malah tidak sama sekali, yang ada sepanjang hari kita ingin makan terus-menerus dan hanya memikirkan makan tanpa yang lain. Beda kalau kita sudah diberi makan siang secukupnya (gak berlebihan juga ya), jadi kita sudah siap untuk melakukan segala macam aktivitas dan kewajiban, sampai nantinya waktu makan malam.

 

2) Main itu termasuk main gadget kan? Udah, saya sudah kasih anak saya gadget. Dia jadi diam kalau dikasih gadget atau ditontonkan TV. 

Ya..Bisa dibilang seperti itu sih. Tapi kalau bisa gadget atau TV menjadi pilihan yang terakhir sekali kalau benar-benar tidak ada aktivitas lain. Kalau bisa bermain ya permainan tradisional, yang indikator gampangnya begini deh : kalau listrik mati tetap bisa bermain. Nah, gadget dan TV gak bisa kan? Karena bisa dikatakan TV dan gadget itu mengandung radiasi, pergerakan yang cepat, warna-warna yang terang, yang membuat sebaiknya penggunaannya pun dibatasi. TV serta gadget pun membuat anak minim bergerak dan juga kurang bersosialiasi, membuat anak menjadi pihak yang pasif. Jadi kalau bisa, berikan anak mainan atau bermain yang membuat anak menjadi pihak yang aktif. Untuk mengoptimalkan manfaatnya.

Jadi, main yuk?

Selamat bermain 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s