Tawa

Laughter

Tertawa,

bukan hal mutlak penanda hal yang menyenangkan, setelah saya pikir-pikir lagi.

 

Saya sebelumnya kurang menyadari bahwa menjadi psikolog, berarti harus memiliki segala tingkah laku yang bertujuan positif. Segala diam, segala dehem, segala tawa, atau ekspresi wajah, yang dilakukan tanpa suara pun, harus memiliki tujuan. Tujuan untuk memberdayakan klien. Itulah mungkin mengapa, rasa lelah sering kali mendera setelah selesai bertemu dengan klien-klien saya.

 

Saya baru menyadari hal itu setelah belajar Play Therapy beraliran non directive. Yang membuat kita sebagai terapis terlihat lebih banyak diam dan membeo apa yang dilakukan klien, namun sesungguhnya ada banyak hal yang kita lakukan. Ada jalan-jalan yang kita bukakan, untuk klien menelusurinya dan menyelamatkan serta memberdayakan diri mereka sendiri.

 

Namun ternyata Play Therapy saja tidak cukup menyadarkan saya. Sehingga mungkin itulah yang membuat saya harus menghadapi ‘pelajaran’ lain yang telak menampar saya. Kala itu hari libur, dan tanpa sengaja mengobrol dengan seorang bapak tua. Obrolan santai mungkin yang membuat saya tanpa sadar menanggalkan peran saya sebagai psikolog, dan menggantungkan kemampuan terapeutik saya entah dimana. Kala itu si bapak bercerita tentang keinginannya untuk membawa anaknya ke ‘orang pintar’. Entah mengapa, saat itu saya tergelak,  (atau kalau tidak tertawa yang saya rasa amat keras), sambil berpikir di kepala ‘konyol sekali, hari gini masih berpikir kayak gitu‘. Tawa itu hanya berlangsung sebentar sebenarnya. Saya cepat tersadar, dan setelah merutuki diri sendiri di dalam hati, langsung mendengarkan dengan penuh empati.

 

Namun tawa itu tidak bisa saya hapus dari bayangan saya sendiri. Saya terus berpikir, bagaimana jika bapak itu tersinggung? Dan terlebih berani-beraninya saya menganggap diri saya paling benar? Saya berpikir sayalah orang yang tahu lebih dan menganggap remeh orang-orang yang tidak sejalan dengan saya. Mengganggap mereka lebih rendah. Walaupun mungkin saya tidak bermaksud seperti itu, namun tawa saya jelas sekali menyiratkan itu.

 

Saya malu. Malu semalu-malunya. Saat itu.

 

Hari itu saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Saya catat (dan mudah-mudahan tidak lupa) untuk diri saya sendiri, bahwa laku itu harus dijaga. Bahkan tawa yang katanya pembawa kebahagian, kalau tidak digunakan dengan tepat, justru menjadi bumerang buat kita.

 

Setelah itu terselip lagi pemikiran bahwa saat ini kita banyak sekali diberi wadah untuk tertawa tidak pada tempatnya. Lewat tayangan yang banyak sekali menyelipkan tawa pada kekurangan orang lain. Rasa empati kita digerus. Sedikit demi sedikit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s