Delegasi Tugas

delegate.001

Delegasi tugas, ternyata adalah bagian yang saya rasa paling sulit dalam menjadi seorang pemimpin. Kamu bisa saja menjadi seseorang dengan ide paling brilian sedunia, namun jika partner kerja atau bawahan kamu tidak benar-benar mengerti apa yang kamu kerjakan atau visi misi kamu itu apa, ya..pekerjaan kamu tidak akan selesai. Karena kamunya stress, partner/staf kamu juga stress, hasilnya kerjaannya ya gak dikerjain. Berhenti di situ-situ saja. Atau malah mundur. Kamu mau kerjain sendiri juga gak mungkin. Karena satu hari hanya ada 24 jam dan gak mungkin semuanya kamu kerjain sendirian.

Itulah mengapa pendelegasian tugas adalah sesuatu yang teramat sangat penting!

Sejauh ini saya belajar 3 point penting dalam pendelegasian tugas (ini yang fit untuk saya ya, gak tau deh bisa diterapkan untuk orang lain atau gak. Hehe..) yaitu :

1) Pastikan partner/staf kita memiliki visi dan misi yang sama (atau paling gak serupa) dengan kita.
Itu point pertama yang penting (pakai banget)! Karena ya mau sebagus apapun teknik penyampaian tugas kamu, kalau orangnya gak sevisi misi ya percuma saja. Masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Ibaratnya nih kamu mau dari titik A ke titik B, tapi kamu maunya jalan kesananya lurus, tapi partner/staf kamu merasa lebih baik jalannya meliuk-liuk untuk ke titik B. Nah jadinya cekcok terus kan walaupun sama-sama tahu bahwa tujuannya itu ke titik B.
Jadi menurut saya sih, selain memang punya kemampuan harus dipastikan juga apakah ada chemistry atau perasaan bahwa orang ini akan bisa kerja sama dengan kita atau tidak.
Nah, karena saya orangnya feeling banget, jadi memang saya lebih banyak intuitif tuh untuk menentukan orang-orang yang bekerja dengan saya. Namun ya, mau kamu orangnya feeling atau thinking, yang paling penting harus benar-benar yakin bahwa orang yang bekerja dengan kamu adalah orang yang punya tujuan yang sama dan cara untuk mencapai tujuan juga sama (atau paling tidak mirip atau satu seleralah) dengan kamu.

2) Berikan feedback dan bukan cercaan.
Saat orang lain bekerja tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan atau kita minta, kita akan menjadi gemes dan mungkin cenderung ingin sekali memaki (misalnya dengan : ‘deh..gitu aja gak becus. Bisanya apa sih?’). Tapi coba kita pikir dengan lebih rasional. Terus kalau sudah dimaki-maki apa? Kita lega, mungkin, tapi apa pekerjaan jadi beres? Gak juga kan. Yang ada kita besok-besok akan mendapati kesalahan yang sama, pekerjaan yang seharusnya dikerjakan gak dikerjakan, marah-marah lagi, dan gitu terus deh gak berkesudahan. Staf kita juga tidak nyaman hidup di lingkungan yang penuh kritik kan?

Karena saya dibesarkan dalam lingkungan yang tidak ada (atau jarang banget) pujian namun banyak kritik, saya tahu bagaimana tidak enaknya hal tersebut. Bagaimana hal tersebut hanya membuat self esteem / kepercayaan saya pada diri saya sendiri menjadi sangat rendah, dan hasilnya tidak membangun hal positif apapun dalam diri saya.

Hal tersebut membuat saya sebisa mungkin berhati-hati saat menyampaikan kritik. Saya setuju banget dengan teori sandwich, dimana saat memberikan feedback berikan dulu hal yang positif (susah mungkin, apalagi kalau kita lagi kesal-kesalnya, tapi pasti ada dong) lalu berikan kritik setelah itu ditutup lagi dengan hal yang positif dari orang itu. Seperti sandwichlah tumpuk-tumpuk tiga lapis. Saya juga suka menggabungkan dengan I-message, seperti memulainya dengan mengutarakan perasaan saya seperti ‘Saya kecewa…’.

Jadi begini kira-kira formulanya :

‘Saya senang deh (bisa juga : Hal positif yang saya lihat) selama (isi dengan nama proyek/pekerjaan yang sedang ditangani si staff), kamu (isi dengan hal positif). Namun saya kecewa (atau isi dengan emosi yang lain), saat (isi dengan hal yang kamu lihat kurang di si staf. Fokus disitu saja, jangan melebar ke yang lain). Saya harap (isi dengan harapan kamu ke depannya secara spesifik). Saya tahu kamu mampu (atau isi dengan hal-hal motivasi lain, tapi yang realistis ya, dan kalau perlu berikan contoh saat si staf berhasil mengerjakan tugas serupa sebelumnya). Terimakasih (dan bisa juga ditambahkan bahwa masukan ini untuk membuat si staf dan juga perusahaan lebih baik. Staf juga boleh menyampaikan feedbacknya ke bos jika ingin).

3) Beri ruang bergerak, namun jangan sampai jadi terlalu ‘bebas’.
Nah ini bagian paling tricky, karena harus benar-benar jeli melihat bahwa staf itu memang saatnya untuk dikawal satu -persatu dalam menunaikan tugas, mulai dilepas, dan benar-benar dilepas.
Jangan sampai ketika kita membebaskan tapi sebenarnya ia belum siap, dan waktu kita follow-up ternyata tugas tidak selesai sama sekali karena ia bingung namun malu juga bertanya sama si bos karena si bos sudah percaya sepenuhnya.
Nah jadi tuh pemimpin benar-benar kayak ibu, harus tahu kapan anaknya masih harus disuapin, kapan sudah bisa makan sendiri, kapan sudah bisa ambil makan sendiri, dan kapan sudah bisa buat makan sendiri.

Fiuh..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s