Working vs Stay at Home Mom

working-mom-vs-stay-at-home-mom

Perdebatan yang cukup hip pada masa ini adalah : Lebih baik ibu rumah tangga atau ibu bekerja?

Dulu.. Mungkin saya akan dengan yakinnya menjawab, ibu bekerja. Saya dengan kesadaran penuh mati-matian mengejar karir, untuk nantinya menjadi seorang wanita karir yang sukses. Namun..apa benar yang saya inginkan menjadi seperti itu?

Beberapa waktu yang lalu, saya patah hati banget dengan sistem pendidikan di Indonesia. Amburadulnya sudah semakin semerawut sehingga sepertinya akan teramat sulit untuk mengurai benang kusutnya. Saya pun dengan gagah berani mengajukan ide bahwa saya akan menerapkan homeschooling untuk anak saya kelak. Mengobrollah saya dengan salah satu teman dan dia terlihat kaget, seraya berkata bahwa nyangka aja orang seperti saya mau menerapkan homeschooling. Dia kira saya mau menjadi wanita karir. Tersentaklah saya saat itu. Oh iya ya.

Kejadian lain, sudah sebulan ini Ibu dan Papa saya pergi ke luar kota. Ada eyang dan tante saya sih yang menunggu Hashfi di rumah. Namun, ada perasaan tidak tenang yang membuat saya pun sering kali buru-buru pulang ke rumah atau kalau tidak penting-penting banget ya bekerja dari rumah. Saya pun rela untuk meninggalkan kerjaan sejenak saat saya lihat Hashfi bosen gak tahu mau ngapain dan memang mau main, ngobrol, atau baca buku dengan saya. Saya rela untuk menunda tumpukan pekerjaan saya demi menghabiskan waktu untuk Hashfi. Saat itu saya pikir, dengan adik saya saja saya seperti ini bagaimana nanti dengan anak saya kelak ya?

Kejadian-kejadian itu membuat saya merenung. Saya pikir saya mau menjadi wanita karir, tapi ternyata (mungkin) sebenarnya yang saya inginkan dan butuhkan bukan itu. Saya lebih ingin menjadi ibu yang melewati setiap tahapan perkembangan anaknya dari dekat. Dari dulu saya pikir, kualitas lebih penting dari kuantitas. Tapi kalau ternyata memang saya bisa memberikan kualitas maupun kuantitas ya kenapa enggak? Kalau ternyata saya bisa bekerja yang bisa tidak mengorbankan waktu dengan anak saya kelak, kenapa enggak?

Ehem.. Ya tidak tahu sih nantinya seperti apa pengasuhan yang akan saya berikan pada anak saya kelak, wong sekarang saja masih single.

Tapi kalau kembali lagi ke topik awal, dimana debat antara mana yang lebih baik antara ibu bekerja atau ibu rumah tangga, saya rasa semuanya ya..berpulang lagi pada apa yang dianggap tepat oleh ibu-ayah dan anak itu sendiri. Mana yang lebih fit. Kalau memang keadaan keuangan tidak memungkinkan untuk tidak bekerja, menjadi ibu karir bukan dosa besar kok. Atau menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya bukan berarti menganggur yang tidak bisa apa-apa juga.

Jadi ya.. Gak usah berdebat yang gak perlu lah :p
.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s