Kursi Prioritas

Akhir-akhir ini saya sering mendengar postingan tentang orang-orang yang bersikap acuh tak acuh menduduki kursi prioritas di angkutan umum. Walhasil, orang-orang yang harusnya diprioritaskan pun malah berdiri atau duduk di lantai.

Saya jadi mikir seumur-umur naik angkutan sepertinya tidak pernah melihat yang seperti itu. Malah biasanya ada penumpang pria yang manggil-manggil dengan semangat (beneran semangat karena kadang saya suka bengong gak denger terus sampai dipangggil berkali-kali) untuk memberikan tempat duduknya ke saya atau ada bangku kosong terus ibu-ibu di depan saya malah kasih tempat duduknya ke saya dengan alasan ‘saya satu halte lagi kok, neng’. Apa mungkin saya-nya yang gak ngeh, gak tau juga.

Sampailah di hari ini. Tepatnya saat saya naik TJ. Begitu saya masuk, ada penumpang perempuan yang langsung bilang ‘Duduk, bu’. Tapi penumpang perempuan yang berdiri di kursi sebelah persis langsung mengambil celah dan duduk di kursi itu. Nah, disitu saya baru sadar. Saya nengok ke belakang. Eh..ternyata, di belakang saya ada ibu-ibu yang lagi hamil. Oooh ternyata mbak-mbak tadi nawarin duduk ke ibu-ibu di belakang saya. Geer aja deh nih saya. Hihi.
Untungnya gak berapa lama, ada penumpang lain yang nawarin duduk ke ibu hamil ini. Jadi dia pun bisa selamat sentosa.

Sepanjang perjalanan, saya lihatin saja tuh ibu hamil dan mbak-mbak yang tadi merebut kursi secara bergantian. Mungkin gak ya, kalau sebenarnya si mbak ini gak tahu kalau yang ia rebut kursinya itu ibu hamil? Mungkin aja dia berpikir kalau dia udah dari tadi ada di sebelah kursi, nah begitu si empunya kursi pergi, otomatis dia dong yang jadi pemegang hak untuk kursi itu, tanpa benar-benar memperhatikan kalau orang di depannya itu sedang hamil? Mungkin aja gak mbak ini lagi suntuk berat karena habis diputusin pacar jadi gak merhatiin di depannya ada ibu hamil? Mungkin gak kalau kondisi sakit di kaki mbak-mbak ini yang membuat ia harus segera duduk, tapi dia gak mau memperlihatkan ke orang lain kalau dia lagi sakit karena ia mau terlihat kuat? Atau ya.. memang ia gak empati aja sama ibu hamil. Saya gak akan pernah tahu jawabannya, memang (kecuali saya memutuskan untuk mewawancarai si mbak-mbak ini tadi (?)). Saya hanya bisa mengolahragakan otak saya dengan memainkan berbagai kemungkinan yang ada.

Tapi bayangkan aja kalau kemungkinan-kemungkinan itu yang terjadi, misalnya mbaknya beneran sakit, lalu kita main share di sosial media tentang ‘betapa parahnya mbak ini’, kebayang gak sih betapa tetotnya kita. Kadang ya, kalau saya pikir, di era dimana dengan mudahnya kita berbagai informasi, kita pun menjadi share dengan alasan ‘senang saja ngeshare‘. Ada kepuasan tersendiri, apalagi jika banyak yang berkomentar atau membagikan ulang yang kita share. Tanp benar-benar berpikir apakah yang kita bagikan adalah hal yang tepat atau tidak.

Dibandingkan berbagi di social media dan membuat kehebohan, mungkin tegur dulu kali ya mbak-mbak atau oknum ‘perebut tempat duduk’. Atau jika sungkan, minta saja ke petugas TJ untuk menegur orang tersebut (seperti yang memang terjadi selanjutnya. Waktu saya transit ganti bus, saya mendengar suara kencang ‘ada orang hamil nih pak’, dan petugas TJ-nya langsung sigap ke arah suara itu). Nah.. Kalau memang bebal dan sudah dibilang bahwa ada orang yang harus diprioritaskan tapi tetep keukeh merebut haknya. Mungkin baru saat itulah social media memang bertindak sebagai ‘pentungan’ dan ‘sentilan’ agar gak ada orang-orang yang berbuat serupa.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s