Prestise

Casey, teman saya, saat ini kuliah S2 mengambil jurusan fisioterapi. Sebelumnya ia S1 di jurusan psikologi. Saya baru tahu kalau di Amerika, fisioterapis haruslah lulusan S2. Lalu saya tanya alasannya beralih jurusan, dia bilang biar lebih cepat mendapatkan penghasilan. Setelah lulus S2 ia bisa langsung jadi fisioterapis. Sedangkan kalau mau jadi psikolog, dia harus ambil S3 dulu. Apalagi dia sudah menikah, jadi harus realistis untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Alasannya cukup realistis memang. Lalu, saya jadi mikir. Lebih mikir ke pertanyaan saya sendiri. Kenapa saya bertanya pertanyaan itu? Karena saya lihat Casey nih pintar, jadi ‘sayang’ kalau dia nanti ‘cuman’ jadi fisioterapis. Terus saya mikir lagi, memang kalau jadi fisioterapis itu pekerjaan yang ada di bawah psikolog apa? Sampai saya bisa berpikir ‘cuman’ fisioterapis.

Memang mungkin di Indonesia sendiri, tidak (belum) ada lembaga yang mengatur tentang profesi ini. Jadi siapa saja bisa mengaku sebagai terapis. Pada prakteknya, banyak yang abal-abal, ilmu hanya dapat dari seminar beberapa hari (atau gak ikut sama sekali) nekad untuk mengaku sebagai terapis. Ada juga keluhan-keluhan yang saya suka dengar, seperti terapisnya main facebook saat menangani anak, dsb. Nah, mungkin disini yang salah adalah regulasinya dan prakteknya. Tapi.. Apakah lalu saya bisa merendahkan profesinya?

Saya jadi ingat, waktu saya kuliah kemarin. Memang sudah digembar-gemborkan kalau jurusan saya (klinis anak) yang paling susah dan tugasya seabrek, jadi masuk dan keluarnya susah. Mungkin hal itu membuat kami (atau saya) menjadi (secara gak sadar) merendahkan jurusan lain.

Padahal mah ya, kalau dipikir-pikir. Mau apapun pekerjaanya, kalau dikerjakan dengan hati dan usaha untuk selalu mengupgrade diri, pekerjaan apapun tidak ada yang menjadi rendah atau tinggi.

Paradoks juga mengingat kami sebagai psikolog suka keki jika dianggap ‘di bawah’ dokter. Tapi kami pun sering kali mengganggap rendah profesi lain. Terapis misalnya.

Eh, atau barang kali itu hanya saya saja. Reminder untuk saya menjadi lebih humble 🙂

Oh ya, btw, tokoh yang suka disebut-sebut saat kami belajar psikologi perkembangan, Erik Erikson saja, tidak kuliah di jurusan psikologi tuh. Hehe..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s