Antitesis

Saya baru saja makan puding. Coklat, favorit saya. Tapi ternyata kemanisan. Kemudian, saya memakan puding yang sama. Tapi coklatnya menjadi lapisan paling bawah, diatasnya ada lapisan hijau, dan paling atas merah.

Biasanya saya gak begitu suka puding yang campur-campur seperti itu. Rasanya jadi gak karuan. Tapi gak ada makanan lagi, jadilah dimakan saja. Saya baru sadar (atau baru ingat?) kalau ternyata puding campur-campur itu membuat rasa puding coklatnya menjadi nikmat. Rasa pandan dan strawberry yang gak begitu saya suka menjadikan si coklat nikmat, padahal kalau makan coklatnya saja terlalu manis.

Saya jadi mikir, itulah mengapa kali ya, hidup ini adalah rangkaian antitesis. Ada baik ya ada jahat. Ada yang menyenangkan ya ada yang menyedihkan. Dan seterusnya. Agar kita tuh benar-benar bisa merasakan setiap lapis rasa yang diberikan Tuhan ke kita. Agar kita memaknai dan meresapi setiap kejadian yang datang ke kita. Kalau kita hanya dihujani dengan yang positif-positif saja. Akhirnya kita akan merasa bosan, atau merasa terlalu gak menantang. Atau merasa gak pas. Seperti puding coklat yang baru saja saya makan itu 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s