TV membuat anak diam?

tv-pilot

Fenomena yang cukup sering saya lihat adalah : orang tua memberikan anak tontonan TV karena merasa TV dapat ‘membantu’ mereka ‘mendampingi’ anak sehingga orang tua pun bisa mengerjakan pekerjaan lain tanpa ‘diganggu’ si anak. Bagaimana caranya TV mendampingi anak? Ya.. dengan membuat anak diam dan kalem berjam-jam di depan TV. Walhasil, orang tua pun semakin sering menyetelkan TV untuk anaknya.

Di lain pihak, AAP menyarankan anak usia 0-2 tahun sebaiknya tidak diberikan TV dan electronic gadget sama sekali; usia 2-5 diberikan maksimal 1 jam; dan usia 5-18 tahun sebanyak maksimal 2 jam.

Nah loh, kalau TV bisa membuat anak diam, lalu kenapa harus dibatasi penggunaanya?

Sebelum bertanya seperti itu, ada baiknya pertanyaan sebelumnya adalah : Apakah anak benar-benar diam saat menonton TV?

Sering kali orang tua yang membiarkan anak di depan TV berjam-jam, mengeluhkan hal yang serupa : ‘anak saya kok bisa ya tahan konsentrasi lama di depan TV (atau sebut alat permainan lain seperti PS) tapi kalau diajak ngomong (atau belajar, atau aktivitas lainnya) sering gak konsen‘.

Nah, sebenarnya itulah adalah salah satu dari sekian banyak dampak negatif dari pemberian gadget yang terus-menerus. Ketika anak terbiasa menonton TV yang adegannya berganti sangat cepat ke adegan lain, otak mereka pun akan merekam dan akhirnya  terbiasa dengan pola yang sangat cepat seperti itu. Cepat berganti dan tidak terbiasa dengan sesuatu yang ajeg atau diam agak lama. Makanya kelihatan anak sekarang gampang bosenan.

Lalu kenapa anak bisa terlihat anteng di depan TV kalau otak mereka terpola sangat cepat? ya.. karena TV-nya yang bergerak aktif di depan si anak. TV-nya yang ‘berlari-lari’ untuk menyuguhkan satu scene ke scene lain. Anaknya jadi anteng saja. Tapi sebenarnya di dalam otaknya pergerakannya menjadi sangat cepat. Alhasil, ketika si anak kembali ke realita (di luar TV), otaknya yang sudah terlanjur terbiasa dengan yang cepat dan cepat, akan merasa dunia berjalan dengan lambat dan menjemukan. Ia pun menjadi cara untuk membuat lingkungannya sama seperti atmosfer yang ia rasakan saat di depan TV. Cepat dan cepat. Itulah yang membuatnya cepat berganti dari aktivitas satu ke aktivitas lain. Yang menurutnya wajar karena itulah yang biasa ia lihat dan otaknya rekam hampir setiap hari. Sedangkan orang di sekitarnya menganggapnya kurang konsentrasi dan terlalu aktif.

Sebagai tambahan, sudah banyak studi yang meneliti korelasi antara rendahnya rentang konsentrasi dan atensi anak dengan tingginya tingkat konsumsi media elektronik. Dan hasilnya positif, yang artinya memang ada hubungan.

Nah, jadi masih merasa TV membuat anak diam? Coba dipikirkan kembali 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s