Belajar tanggung jawab

Kemarin Hashfi saya perbolehkan untuk mengajak tetangga yang sebaya untuk main di depan rumah kami. Ibu sama papa kami sedang ke luar kota, dan kalau saya sedang kerja di depan komputer sering banget Hashfi nengok-nengok di depan pagar rumah. Jadi kasihan juga (biasanya ia gak diperbolehkan untuk main di luar rumah memang).

Setelah sudah selesai bermain dan teman-temannya pulang, saya pun ke bagian depan rumah, mau melihat keadaan. Tiba-tiba Hashfi memeluk saya dan seperti menahan saya untuk gak ke depan rumah. ‘Wah, ada yang gak beres nih’ kata saya dalam hati. Saya pun mencoba ke depan lagi. Kali ini Hashfi agar berteriak dan bilang ‘Ah jangan Mbak Di’. Lalu saya diam sejenak dan bilang ‘Ok, kalau gak mau mbak Di ke depan, Hashfi cerita’. Dia diam kayak mau nangis gitu. Saya pun melanjutkan bicara ‘Mbak Di hitung sampai 3 ya. Kalau Hashfi gak cerita, mbak Di ke depan’. Lalu dengan terbata-bata ia cerita kalau ia melambungkan bola terlalu jauh sampai tersangkut ke atas terpal tetangga kami (tetangga sebelah dan depannya memang memasang terpal di antara atapnya, biar gak panas kali ya). Bolanya memang punya saya. Kalau dipikir-pikir sih hampir 95% mainan di rumah memang punya saya. Mainan yang dimiliki Hashfi sedikit banget. Jadi kalau dia mau main, ya jadi pinjem saya deh.

Ok lanjut. Kemudian terjadilah percakapan ini.
Saya : Terus harus gimana?
Hashfi : Tanggung jawab.
Saya : Caranya?
Hashfi : Diganti
Saya : Selain itu ada cara lain ga?
Hashfi : Mmm..
Saya : Kalau misalnya bolanya diambil lagi bisa gak?
Hashfi : Bisa
(Kemudian ada jeda diam)
Hashfi : Tapi siapa yang ngambil?
Saya : Menurut kamu?
(Hashfi diam)
Saya : Kalau minta tolong sama orang lain bisa gak?
Hashfi : Bisa. (Saat Hashfi mau melangkahkan kaki ke depan gerbang, ia diam lagi).
Saya : Ok, mbak Di senang karena tadi Hashfi ngakuin kesalahan Hashfi. Itu bagus. Tapi seperti yang Hashfi bilang, Hashfi harus tanggung jawab. Ada dua caranya, tadi yang seperti udah kita omongin. Mbak Di kasih kesempatan untuk ngeluarin bola dari terpalnya sampai besok. Kalau gak, Hashfi harus ganti ya.
(Dia diam).

Besoknya Hashfi tanya dimana beli bolanya dan harganya. Saya bilang di Asemka. Setelah itu ia diam.

Gak berapa lama kami mendiskusikan rencana jalan-jalan weekend, antara pergi ke Fatahillah Food Festival atau ke Jakarta Toys & Comic Fair. Hashfi bilang ke Fatahillah saja, seraya bilang ‘Fatahillah deket kan sama Asemka. Sebelum kesana aku mau beli bolanya dulu’.

Terharu :’)
Hashfi belajar tanggung jawab dengan sangat baik.
Dan sekali lagi saya juga belajar bahwa dengan kita percaya dan tidak terlalu banyak intervensi (misalnya memarahi saat anak salah) dan justru mendorong anak untuk menyadari kesalahannya dan bertanggung jawab dengan caranya sendiri, ia ternyata mampu kok untuk melakukannya 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s