Mengenal emosi

Kemarin Hasfi marah..

marah besar sekali.

Perkaranya begini. Saat saya pulang, Hashfi sedang bermain bola di depan rumah. Biasanya jadwalnya adalah ia tidur dan bangun sorean untuk mempersiapkan UTS keesokan harinya. Saat saya tanya ia bilang ‘gak bisa tidur’. Memang saat itu ibu dan ayah saya sedang ke luar kota, jadilah Hashfi dijaga kakek dan tante saya. Bingung kali ya kalau negesin Hashfi. Ya sudah, saat itu saya bilang Hashfi harus tidur dulu. Hashfi bilang kalau sekarang sudah jam 3, jadi ia mau langsung belajar. Saya bilang gak bisa, dia harus tidur. Kalau saya sudah tegas gitu, dia sudah gak bantah lagi.

Saya juga temani dia tidur di sebelahnya. Saya terbangun jam 16.30, dan langsung bangunin Hashfi. Hashfi saat itu benar-benar marah, teriak, nangis. Memang biasanya jadwal belajarnya jam 16.00. Tapi ya kita sama-sama tahulah kalau tidur jam 15.00, bangunnya pasti lebih-lebih dikit. Lagian dia tipe pembelajar yang cepat kok. Jadi paling gak sampai magrib juga sudah selesai belajar semuanya. Tapi salah saya juga sih sebelum tidur gak mengingatkan hal itu. Orang udah tahu Hashfi orangnya tepat banget soal waktu dan jadwal, jadi dia pasti marah kalau jadwalnya berubah.

Ya sudah, saat itu ia marah semarah-marahnya. Rasanya saya belum pernah lihat ia teriak sebesar itu. Saking marahnya. Saya diam saja. Ngomong atau bertindak apapun saat itu, pasti akan diinterpretasi salah olehnya, orang lagi puncaknya marah gitu.

Saya pun mengambil air wudhu dan bersiap sholat. Saat mau mengambil mukena, Hashfi langsung dengan gesit mengambil mukena saya. Dia mau mencari perhatian saya dan membuat saya berbicara. Saat itu, saya langsung ambil kembali mukena saya, dan ia mau menendang saya. Saya langsung bilang ‘Hashfi boleh marah-marah, tapi gak nyakitin orang lain‘ (langsung diterapin gitu prinsip play therapy). Ia pun tetap marah, nangis, dan teriak, tapi gak ke arah saya.

Saat melihat saya sholat, ia sepertinya bingung strategi apa yang harus ia terapkan, ia pun bilang ‘telfon ibu nih. aku telfon ibu nih’. Dan dia beneran nelfon ibu saya. Saat itu suara ngadunya lebih didominasi sama suara tangisannya, jadi ibu saya pun tidak bisa mendengar apa yang ia ucap. Ibu saya pun menutup telfon dan menelefon saya. Kalimat pertama saya yang ‘tadi pas aku pulang adek gak tidur..’ sepertinya menyadarkan ia ke realita. Terlihat tangisannya mereda walaupun masih saja dengan gerutuan ‘tapi mbak Di ga bangunin aku..’.

Setelah itu saya pun mengambil makan dan sama sekali gak ngelihat dia (ngelihat sih, pakai ekor mata). Dan gak berapa lama, ia memanggil tante saya (dan tante saya saya dengar nanya sih dengan nada kasihan ‘adek kenapa nangis?‘ untungnya drama Hashfi gak bertambah setelah dikasihani gitu, karena gak berapa lama Hashfi ternyata meminta tante saya untuk menemani ke kamar mandi. Ia mengambil air wudhu, lalu sholat. Kemudian dia duduk di meja belajarnya, nangis sebentar, lalu belajar deh.

Setelah makan, saya pun Skype dengan supervisor, dan setelah saya Skype, saya lihat Hashfi sudah tenang, saya pun ajak dia ngomong, dia udah biasalah lagi.

Malamnya, ibu saya telfon Hashfi dan pertanyaan pertamanya adalah ‘tadi adek kenapa?’ dan Hashfi langsung menjawab ‘gak apa-apa’ dan benar-benar kayak gak kenapa-kenapa gitu -_-

**

Kejadian itu mengingatkan saya kembali akan pentingnya memberikan anak ruang untuk ia merasakan emosi negatif. Coba kalau Hashfi malah dibujuk-bujuk untuk diam atau dimarahi untuk diam, dramanya pasti akan bertambah. Entah saat itu, entah di masa yang akan datang saat ia mengalami hal yang serupa. Lagian dengan mendiamkan Hashfi, ia jadi belajar bahwa ia tidak mendapatkan reward apapun dari perbuatannya. Sebaliknya, kalau ia sudah tenang, barulah orang lain (which is saya) akan kembali berinteraksi dengannya.

Nah, tapi jangan lupa. Setelah dia sudah tenang dan reda amarahnya, bukan berarti peristiwa tadi tidak dibicarakan. Justru setelah reda, harus dibicarakan. Jadi anak juga mengenali apa yang sebenarnya ia rasakan, ia pikirkan, ia inginkan. Lalu bagaimana cara mencegah hal serupa terjadi, dan kalau misalnya hal serupa terjadi apa yang harus dilakukan. Anak pun jadi belajar juga untuk mengenali emosinya dan bagaimana sebaiknya bersikap atas emosinya tersebut

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s