I-message

Beberapa kali saya membawakan seminar parenting dengan tema komunikasi efektif. Salah satu tekniknya bernama : I-message.

Jadi misalnya ketika anak berbuat salah, orang tua ada yang bawaannya marahin anak, mengungkit kesalahan anak dan rasanya anak gak pernah benar. Akhirnya pesannya sendiri gak tersampaikan. Misalnya, anak pulang malam. Yang dirasakan orang tua sebenarnya apa? Khawatir dan cemas, takut ada apa-apa di jalan, kok jam segini belum pulang. Marah, mungkin ada. Tapi lebih ke khawatir dan cemasnya kan? Hayo, inget-inget lagi *agak-agak maksa gitu. Padahal enggak juga gapapa*. Nah ketika anak sudah pulang, orang tua terkadang otomatis langsung memarahi anak, misalnya bilang ‘Kamu nih nakal bilang. Selalu aja gak nurut. Pulang jam segini. Sekalian aja gak usah pulang’. Dengan kalimat itu, apakah anak tahu kalau orang tua khawatir dan cemas? Enggak kan. Pesannya semua ditujukan pada si anak, yang negatif-negatifnya semua ke anak, tapi orang tua sendiri gak menyampaikan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Ngerti sih orang tua pasti udah emosi duluan ke anak. Hehe.. Menerapkan I-message ini memang gak instant bisa, tapi butuh proses secara bertahap. Pertamanya mungkin kaku-kaku dulu. Tapi cara ini efektif lho untuk menjalin komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak.

Saya sendiri waktu pertama kali belajar, diterapkan ke Hashfi. Dianya justru ketawa-ketawa aja dengernya. Gagal deh. Mungkin karena disetting. Tapi sebenarnya banyak percakapan saya dan Hashfi dimana saya (dan juga dia) gak sadar kalau sudah menerapkan I-message dan memang efektif untuk benar-benar menyampaikan secara tepat apa yang kita pikirkan dan rasakan.

Nah, ceritanya minggu lalu saya ada acara di panti asuhan. Awalnya saya senang, karena anak-anak itu bisa menuruti aturan yang saya berikan. Waktu itu saat kami menunggu Fadhli datang, mereka ingin melihat buku yang mereka buat. Saya terapkan aturan bahwa hanya boleh melihat satu lembar saja. Lihat dan bukan pegang. Mereka bisa menerapkan aturan itu loh. Padahal menunggu Fadhlinya sekarang 10 menit. Giranglah yang saya. Kemudian ketika Febry presentasi, mereka pun bisa untuk tenang..hanya beberapa menit. Sisanya buyarlah. Ada yang curi-curi lihat ke handycam, ada yang ke kamar mandi gak balik-balik. Saat itu saya yang memang sedang kurang istirahat, sebal banget. Dalam benak ‘untung-untung gw ngeluangin waktu buat lo, kenapa lo-nya ngelunjak gini sih?’. Terus cepat-cepat saya berpikir, sebenarnya apa yang saya rasakan. Ternyata lebih pada perasaan kecewa. Kecewa karena saya sudah menyusun acara dari jauh-jauh hari, tapi merekanya malah tidak menghargai seperti ini. Kecewa karena saya kira setelah berbulan-bulan saya berinteraksi dengan mereka, mereka dapat menghargai saya, dan menghargai acara yang saya buat untuk mereka serta menghargai para pembicara yang mau datang di hari libur. Kecewa karena saya kira melihat awal yang baik, yaitu mereka dapat menuruti aturan dan duduk manis mendengarkan, lalu kemudian tidak lagi. Lebih pada kecewa atas ekspektasi yang saya buat sendiri.

Oke saat itu, setelah mencoba untuk berbicara langsung dengan mengingatkan mereka aturan dan kemudian menggandeng mereka kembali ke tempat tanpa saya berbicara satu patah kata pun (khas perempuan banget ya kalau udah marah jadinya diam :p ), saya pun (tidak disadari saat itu), menerapkan I-message.

Saya coba formulasi kata, dan gak mungkin banget bilang ‘kecewa’, akhirnya saya ganti jadi ‘sedih’. Saya bilang, ‘Kak Devi sedih deh’ beserta alasannya. Lalu saya kasih pilihan mau saya pulang atau melanjutkan acaranya (untuk anak remaja bisa juga sih dikasih pilihan yang lebih terbuka seperti ‘jadi sekarang apa yang kamu mau?’). Saya sudah prediksi sih, mereka tidak akan ada yang jawab. Saya sengaja begitu, untuk menenangkan diri juga (untuk orang tua yang butuh menenangkan diri sebelum melakukan I-message atau berbicara dengan anak, bisa juga kok masuk ke kamar dulu, tarik nafas. Tapi yang penting sebelum dan setelahnya harus bilang sama anak kenapa masuk ke kamar, agar anak juga gak berpikir orang tua benci sama anak). Setelah sayanya sudah tenang, baru saya tanya anak-anak ini satu persatu (yang saya tahu mereka pasti akan jawab), lalu saya ulangi lagi peraturannya dan apa ekspektasi saya pada mereka. Ajaib, sampai akhir presentasi, mereka bisa gitu duduk manis 🙂 Haha.. Senang deh ternyata I-messagenya berhasil 🙂

Gitu deh kira-kira pengalaman saya I-message. Cocok banget model pendekatan seperti ini untuk remaja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s