Di balik OPRAH

Saya selalu ingin tahu bagaimana rasanya bekerja di panti asuhan. Mungkin karena dulu sukanya baca Candy-Candy atau Si Paman Berkaki Panjang, dan bacaan serupa lainnya. Saya tahu sih, panti asuhan di Indonesia gak mungkin sama, bahkan mendekati serupa dengan buku cerita yang saya baca. Tapi ya saya penasaran saja.

Kemudian setelah jadi psikolog, saya pun bertekad untuk pergi ke panti asuhan. Pasti ada yang bisa saya lakuin, psikolog gitu. Psikolog anak pula *maklum masih baru waktu itu, jadi jumawa gak jelas gitu*. Setelah sudah browsing sana-sini, saya pun memantapkan hati ke salah satu panti asuhan x. Yang saya suka adalah karena anak-anaknya masih kecil banget (dan saya memang mau memfokuskan diri di intervensi dini), dan yang punya lulusan Leiden *berhubung ingin kesana tapi gak kesampaian walaupun sudah keterima #gagal move on * dan mendalami attachment pula, jadilah sangat-sangat pas dengan apa yang saya inginkan. Tempatnya pun gak jauh dari rumah saya.

Tapi..beberapa kali kesana, yang punya senang sih dengan kedatangan saya, tapi bingung juga saya harus ngapain. Akhirnya saya kebanyakan hanya bengong, ngeliatin anak-anak itu, dan main-main aja. Gak jelaslah. Saya pun memutuskan udahan disana. Daripada makin GJ.

Kemudian gak berapa lama saya magang, dan program magang itu ternyata bekerjasama dengan panti asuhan! Yeiyy.. Senang bangetlah saya. Langkah saya untuk mendekat ke panti pun menemui titik terang. Setelah magang 6 bulan di panti asuhan itu (dan memang bayangannya jauh banget dengan cerita-cerita yang saya baca), tapi saya senang punya insight dan punya tools kalau ke panti asuhan lagi.

Nah, selain kesenangan, saya merasakan suatu kejanggalan. Banyak perbuatan baik yang rasanya kurang tepat dengan kebutuhan anak-anak ini (menurut analisis sotoy saya) seperti yang pernah saya tuliskan disini. Seperti yang orang-orang bilang, kalau gak suka suatu keadaan, rubah dong, jangan hanya kritik aja! Sabar..sabar.. Itulah kira-kira yang akan saya lakukan, tekad saya. Walaupun belum tahu juga gimana caranya.

Kemudian entah dari mana asalnya, lampu ide menoyor kepala saya dan cling..cling. Saya pun terpikir untuk membuat OPRAH. Saya ingin membuat sebuah program yang tidak sekedar bagi-bagi uang atau hadiah, lalu pulang. Saya mau suatu program yang memberdayakan mereka, yang dapat membuat mereka sadar bahwa mereka punya potensi. Yang membuat mereka optimis ke depan, punya cita-cita. Lebih lengkapnya seperti yang saya tulis disini.

Pertama sounding dulu saja, walau belum tahu bagaimana realisasinya kapan dan bagaimana. Yang saya percaya sih, ide kalau diomongin ke orang-orang akan lebih mungkin terwujud dibandingkan ide yang dipendam sendiri. Saya pun share rencana ke Asti dan Denok. Mereka antusias untuk membantu. Sikasik. Kemudian saya lupa rencana itu *kebiasaan* Kemudian beberapa bulan setelah itu, saya kembali WA Asti & Denok kalau OPRAH akan segera diadakan. Terus lupa lagi gak di-follow up. Untungnya Asti nanya, dan untungnya saya pun lagi di Depok. Ya sudah tiba-tiba kami langsung bertemu saat itu. Impulsif sih, tapi untungnya impulsifnya membawa ke arah yang lebih baik.

Nah, selanjutnya semua berjalan dengan baik. Alhamdulillah, tanggal 2 Maret kemarin bahkan sudah berjalan OPRAH yang pertama.

Jika ingin melihat dan atau berpatisipasi lebih lanjut bisa lihat disini ya.

Semoga program ini bisa sustain dan membawa manfaat bagi yang terlibat.

Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s