Kritis?

Apakah seseorang yang selalu bertanya banyak hal bisa disebut sebagai kritis? Hmm.. Mungkin enggak juga.

Julie Burton, salah seorang guru saya pernah bilang, kalau ada seorang anak yang bertanya bagusan ini apa ini? Jawaban yang ideal adalah : ‘gak penting pendapat saya. Yang terpenting adalah tentang kamu. Apapun yang menurut kamu terbaik, itulah yang terpenting’.

Dang! Sepertinya ini bisa dipakai juga ya untuk para pria-pria yang punya pacar atau istri yang penuh melodrama dan selalu memberikan dua buah pilihan jawaban, tapi apapun jawabannya akan selalu salah. Misteri ini sudah terjawab ya, saudara-saudara :p

Saya sendiri juga tipe perempuan seperti itu :p Yang membuat frustasi pria-pria yang ada di dekat saya. Bahkan teman saya ada yang bilang saya punya simptom-simptom histronik -_- (tapi iya juga sih :p ). Tapi itu dulu (sekarang masih lah dikit-dikit :p ) *udah mulai gak penting ini paragraf*

Nah, sekarang serius. Berhubung sedang belajar play therapy, yang menganut pakem : ‘cari tahu yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan’. Saya coba menyelami lebih dalam tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan seorang anak (dan juga saya ehem) saat memberikan pilihan demi pilihan tapi gak pernah puas. Mungkin, sebenarnya itu adalah representasi dari insecure. Merasa dunia ini gak nyaman dan aman, akhirnya berbuat seperti itu. Ada beberapa alternatif kemungkinan sih yang membuat seseorang menjadi insecure seperti itu.

– Bisa karena ia ngerasa dunia gak aman, ia pun punya kebutuhan mendominasi dunia di sekitar. Dengan selalu bilang bahwa pilihan orang lain salah, ia menjadi pihak yang menjadi penentu dan menjadi pihak yang menang. Tapi sebenarnya hal tersebut gak lantas membuat dia senang, jadinya ia terus-menerus melakukan itu lagi dan lagi, tapi gak pernah puas. Karena ya memang bukan itu yang ia butuhkan.

– Bisa juga karena ia gak ngerasa percaya dengan dirinya. Ia pun merasa butuh pegangan orang lain. Akhirnya nanya ke orang-orang lain, dan selalu merasa gak puas. Memang ya karena bukan itu yang ia butuhkan. Yang ia butuhkan adalah kepercayaan pada dirinya sendiri, bukan malah lari ke orang lain.

Dengan kalimat magic, yaitu melempar tanggung jawabnya (yang tadinya ingin ia lempar ke orang) kembali kepadanya, dapat menjadi penyelesaian masalah yang tepat. Kebutuhannya untuk mendominasi dan kebutuhan untuk percaya pada dirinya sendiri, langsung dapat tersalurkan dengan orang lain berkata bahwa ‘yang penting adalah pilihan kamu’. Ditambah lagi anak akan merasa bahwa dirinya berharga, dirinya dianggap penting, suaranya didengar, dengan mendengar kalimat ‘yang penting adalah pilihan kamu’.

Ya, mungkin anak bersikap ‘nyebelin’ dan mungkin kelihatan sok tahu dan nyalah-nyalahin orang, sebenarnya ingin dianggap ia berharga. Ingin dianggap penting. Hal yang tidak orang lain (dan bahkan) ia sadari sebelumnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s