Bagaimana meningkatkan empati pada anak? (Parental Guide)

Steps-Big-Kid

Kejadian akhir-akhir ini, kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, yang rasanya tidak mungkin dapat kita percaya dapat dilakukan oleh mereka, nyatanya memang terjadi. Beberapa dari kita mengelus dada, tidak percaya, atau justru jadi takut pola pengasuhan seperti apa yang harus diterapkan pada anak kita kelak.

Saya cukup kaget, saat Hashfi tahu tentang dua kejadian yang saya rasa belum pantas ia ketahui. Salah satunya adalah tentang seorang perempuan yang bunuh diri. Kata Hashfi, ia tahu dari temannya, yang juga tinggal di apartment yang sama dengan perempuan ini. Temannya Hashfi ini bahkan melihat saat perempuan tersebut melakukan tindakan tersebut. Kejadian yang kedua Hashfi tahu karena teman-temannya membicarakan hal tersebut.

Saya cukup beruntung, karena Hashfi setidaknya bercerita ke saya, sehingga jika ada hal yang salah tangkap bisa secepatnya diluruskan *serasa ibunya aja*.

Melihat kejadian seperti ini semakin banyak (atau setidaknya banyak yang terexpose), saya share tips-tips yang mudah-mudahan dapat membantu :

1. Kemudahan informasi (baik menerima maupun memberi) membuat kita jadi tahu dengan detail berbagai kejadian yang ada. Contohnya adalah kejadian pembunuhan seorang anak oleh mantan pacarnya, kita bahkan tahu isi chat mantan pacar dengan temannya, jadi tahu tentang account twitter tersangka pembunuhan (dan akhirnya dijadikan bahan bully oleh pengguna socmed yang lain), dst. Jadi mau bagaimanapun kita harus menerima kenyataan bahwa media saat ini sangat masif. Resikonya adalah, anak bisa saja terinsiprasi untuk melakukan hal yang sama atau serupa dengan yang ada di media. Bisa saja mereka berpikir bahwa saking seringnya hal tersebut muncul di media, berarti hal tersebut memang wajar untuk dilakukan. Oleh karena itu, batasi penggunaan alat elektronik. Saya selalu merujuk pada AAP, yang tidak memperbolehkan anak di bawah usia 2 tahun sama sekali tidak diberikan gadget dan TV.

2. Institusi pendidikan saat ini lebih fokus pada akademis anak. Lebih penting untuk anak bisa membaca, menulis, dan berhitung, dibandingkan anak memiliki empati pada orang lain. Padahal kalau dilihat dari tugas perkembangan, anak usia sekolah awal itu belum saatnya untuk lancar membaca, menulis, dan berhitung. Ia memang belum didesain untuk duduk diam dari pagi sampai sore dan menerima asupan materi terus-menerus. Namun keseragaman institusi pendidikan menanamkan pentingnya akademis anak, akhirnya menularkan kecemasan serupa pada para orang tua. Orang tua pun lebih fokus pada drilling kemampuan calistung anak dibandingkan penanaman empati. Bahkan, orang tua berlomba-lomba untuk memasukkan anak lebih cepat, demi kebanggan diri. Akhirnya lupa untuk menanamkan budi pekerti dan moral. Oleh karena itu, sebaiknya seimbangkan antara akademis dan penanaman moral anak. Kalau kita lihat para pelaku kejahatan di bawah umur ini tidak memiliki masalah dalam intelektualnya, namun ada sesuatu yang salah di dalam moralnya, sampai saat sudah menjadi tersangka pun masih bisa tersenyum, misalnya. Ajarkan anak untuk bermain. Kenapa mesti diajarkan? Karena anak-anak jaman sekarang sudah lupa seperti apa caranya bermain. Padahal bermainlah tugas utama seorang anak. Lewat bermain, anak dapat belajar tenggang rasa (misalnya meminjamkan mainannya pada anak, mengetahui kapan gilirannya bermain ayunan dan harus berganti ke permainan lain karena ada anak lain yang ingin bermain ayunan juga), berkomunikasi, dst. (Kegiatan bermain juga dapat dilakukan melalui membaca buku. Ia bisa belajar empati dan bagaimana berhubungan dengan orang lain melalui membaca.) Sementara itu anak sekarang hanya tahu belajar. Atau bermain gadget, yang mana itu gak terhitung main (anak hanya menunduk asyik pada gadgetnya, gak bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain. Saat terbiasa sendiri, bagaimana bisa menumbuhkan empati pada orang lain?).

3. Komunikasi efektif dengan anak. Itu kunci yang penting. Kemampuan kognitif anak masih terbatas, sehingga wajar jika ada pemikirannya yang membuat kita mengerutkan dahi atau justru tertawa karena kita anggap lucu. Misalnya saja wajar untuk seorang anak prasekolah menganggap bahwa hujan diakibatkan oleh awan yang sedang menangis. Oleh karena itu, terkait dengan berita kejahatan yang gak mungkin kita hindari juga, karena bisa saja ia dapat dari temannya di sekolah, maka jalin komunikasi yang baik dengan anak. Sehingga anak dengan sukarela dapat bercerita apa yang ia tahu, ia rasakan, dan ia pikirkan dengan informasi yang ia tahu. Saat ia bercerita, orang tua sebaiknya tidak buru-buru menghakimi, misalnya dengan bilang ‘eh kamu gak boleh ya denger-denger begituan. Gak bagus itu’. Hal tersebut dapat membuat anak mendapat pengalaman yang tidak enak saat bercerita dan di kemudian hari jadi gak mau cerita lagi dengan orang tua (lagi pula anak tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘gak bagus’ karena tidak konkrit). Padahal penting orang tua tahu informasi apa yang di dapat oleh anak dan apa pemikirannya, agar tahu juga apa yang mesti diluruskan.

PS : lack of empathy pada anak bisa bermula dari hal-hal sesederhana gambar di bawah ini lho

School bully and mockery concept

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s