Tentang sekolah bernama SLBN 7

Maret 2013..

Pertama kali saya berkenalan dengan SLBN 7, saat itu tempatnya masih di Matraman. Bekas gudang, tepatnya. Satu ruang kelas (jangan dibayangkan ruang kelas ideal ya, karena ini ukurannya pun sempit banget) masih harus dibagi dua. Penanda pembagian kelas di dalam satu ruangan pun bukan sekat yang kedap suara, tapi hanya dipisah lemari, yang sangat membuat mudah sekali suara di kelas yang satu terdengar oleh kelas yang lain. Untuk anak pada umumnya, satu kelas dibagi dua dengan kelas lain, pasti sedikit banyak akan memecah konsentrasinya, kan? Apalagi ini untuk anak dengan kebutuhan khusus, yang mana teriakan atau jalan-jalan di kelas adalah hal yang biasa dilakukan oleh anak-anak ini. . Bayangkan jika anak harus ada di kelas dengan anak lain yang punya kebutuhan yang berbeda (misalnya yang satu anak dengan autism yang satu lagi tuna grahita), harus mendengar teriakan dari anak di kelas sebelah (yang masih satu ruangan dengannya), bagaimana itu tidak akan semakin menggangu mereka?

Saat itu saya sedih bercampur marah. Bagaimana bisa pemerintah membiarkan anak-anak ini bersekolah di tempat seperti ini? Sudah sebegitu tidak berharganyakah mereka?

Namun saat itu, setidaknya teselip harapan karena saya mendengar bahwa SLBN itu akan pindah ke gedung bertingkat 4. Walaupun karena prosedur berbelit-belit, tidak tahu kapan bisa terealisasi. Saya saat itu hanya dapat mengelus dada. Berdoa semoga benar saja suatu saat itu akan terjadi, walau entah kapan. Yang penting sekarang tugas saya adalah memberikan yang sebaik-baiknya untuk anak-anak ini, walau dengan kondisi yang tidak seideal sekalipun.

 

Juli 2013..

Tahun ajaran baru, akhirnya SLBN 7 pindah. Bukan di gedung bertingkat 4 yang diimpi-impikan itu sih. Namun di bekas kantor kecamatan Jatinegara. Ruang-ruang kantor dirubah menjadi kelas, dan seperti yang terjadi sebelumnya, karena kekurangan ruangan, satu ruang kelas dibagi untuk dua kelas. Saya sangat salut dan kagum dengan semangat dan kecekatanan dari para guru SLBN 7. Mereka bergotong royong melakukan make over dengan sepenuh hati, walaupun tahu ini hanya untuk sementara.

Lagi-lagi ini bukanlah kondisi ideal. Sudah tidak terhitung, berapa kali saya melakukan pemeriksaan psikologis, dan murid lain membuka tutup pintu ruangan saya karena pintu memang tidak dapat dikunci. Tidak bisa menyalahkan mereka dan rasa penasaran mereka juga sih. Sudah tidak terhitung juga berapa kali guru-guru berlalu lalang karena memang ruangan saya adalah gabungan perpustakaan dan UKS juga. Sudah tidak terhitung juga berapa kali saya harus meminjam ruang wakil kepala sekolah, harus mengungsi karena di depan ruangan saya sedang ada kegiatan, dan ruangan saya tidak kedap suara. Memang bukan kondisi ideal, tapi jika memang ini yang terbaik yang bisa kita usahakan, mau bagaimana lagi kan? Setidaknya ada yang kami lakukan.

 

Maret 2014..

Ada berita bahwa gedung bertingkat 4 akhirnya jadi juga. Tempatnya tidak begitu jauh dari bekas kantor kecamatan, bisa jalan kaki malah. Walaupun saya cukup sebal karena ini berarti ketiga kalinya anak-anak harus mengalami perubahan dan adaptasi secara drastis, tapi setidaknya tempatnya tidak terlalu jauh. Setidaknya ini adalah terakhir kalinya perpindahan itu akan terjadi (semoga).

Dan hari ini adalah hari pertama saya melihat gedung ini.

Saya terharu sampai rasanya ingin menitikkan air mata.

Walaupun ruangan saya belum dapat digunakan karena masih ada banyak barang di dalamnya, saya tidak begitu peduli. Di mata saya, saya melihat adanya harapan. Harapan anak-anak ini dapat lebih baik lagi. Harapan bahwa ini adalah permulaan mereka memiliki dasar yang kuat, bangunan yang kokoh, bangunan yang ideal. Simbol awal dari harapan mereka untuk dapat memaksimalkan potensi mereka.

Insya Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s