Inner Child

20140309-153557.jpg

Postingan saya agak ngacak nih akhir-akhir ini. Bergantung mood. Maap kalau yang bingung ya :p

Nah, sekarang kita lanjutkan cerita tentang training ya. Di hari kedua ini kegiatan art work-nya berjudul ‘Inner Child’, yaitu dengan menutup mata lalu membayangkan kenangan masa kecil. Lalu fokus pada kenangan yang paling pertama muncul. Bayangkan, dan ingat-ingat terus bayangan tersebut. Setelah itu, kami diminta membuka mata, mengambil alat tulis yang ada di tengah ruangan (ini pilihannya lebih terbatas dibanding yang pertama, karena adanya peralatan tulis, macamnya pensil warna, krayon, dan gak tersedia lagi pilihan menggunting dan menempel seperti hari pertama).

Saat itu, saya langsung (lagi-lagi) memilih krayon. Mungkin karena efek menyenangkan di hari sebelumnya masih terasa. Kemudian saya mengambil kertas. Entah mengapa, saya tidak ingin mengambil kertas dengan warna cerah, justru warna yang cenderung paling gelap diantara pilihan yang ada.

Waktu mulai menggambar, bayangan akan apa yang ingin saya gambar sudah terbayang dengan sangat jelas. Namun entah mengapa, saya mengambil krayon dan lalu menggambar.. Pelangi. Tadinya hanya satu warna, lalu warna lain, dan warna lain, yang semuanya hanya ingin saya buat pelangi saja. Setelah sudah puas membuat pelangi, saya ambil warna hijau, dan buat semacam pohon di bawah pelangi. Saya pilih mengikuti intuisi saya saja saat itu, tanpa banyak mikir gimana dan gimana.

Setelah menggambar, saya baru sadar. Betapa kerasnya saya struggling dengan isu selama beberapa tahun terakhir ini, sampai saya tidak tahu apakah saya bisa untuk bisa melepas dan let go. Betapa kerasnya saya mencoba, sepertinya gagal dan gagal terus. Kalaupun ada progress sepertinya hanya sedikit sekali lalu saya kembali ke kubangan isu ini. Yang membuat saya lelah sekali, dan terkadang melabeli diri saya sebagai loser karena tidak pernah selesai berkutat di isu ini.

Lalu saya melihat gambar ini. Melihat pelangi, melihat harapan berwarna-warni. Melihat ke bawah ada pohon, yang lama kelamaan, lebih mirip seperti pintu gerbang. Yang saya artikan sebagai simbol keterbukaan. Keterbukaan pada harapan-harapan yang ada. Keterbukaan untuk memaafkan masa lalu saya. Keterbukaan pada diri saya yang baru.

Dan lalu saya menyadari, betapa saya terlalu menargetkan progress yang besar akan diri saya sendiri pada isu ini, sehingga ketika target itu tidak tercapai, saya merasa sebagai failure. Padahal enggak juga, setelah saya ingat, ada banyak sekali progress yang sudah saya capai. Walaupun up and down, walaupun terkadang lambat, ada kemajuan yang sudah saya buat.

Dan gambar ini mengingatkan saya akan itu.

Mengingatkan saya untuk sesekali memberi apresiasi pada diri sendiri, dan tidak terlalu keras pada diri saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s